Rock never die! Kalimat itu selalu terngiang sejak dulu, dan terbukti memang tetap menjadi salah satu genre yang digemari hingga hari ini. Walau terbilang agak redup belakangan ini, namun tidak sedikit musisi atau band yang tetap mencoba memelihara baranya. Salah satunya datang dari band asal Serang, Banten ini.

Gajendra yang terbentuk pada 28 Februari 2020 ini adalah kawanan pemuja rock yang digerakkan oleh formasi Rio Aditya (vokal), Chandra Arief Martiana (gitar), Prihadi Adhiansyah (gitar), Syafrian Nur Mulya (bass) dan Faisal Archiansyah (dram). Mereka bersekutu lantaran dilatari oleh pengaruh musik rock era 90-an serta musik stoner dan doom, yang sekaligus membuat warna musik mereka berbeda. 

Usai menancapkan lagu debut perkenalan bertajuk “Predator” pada 24 Mei 2022 lalu, akhirnya lika-liku perjalanan pembuatan album debut mereka menemui titik terang. Sejak 28 Juli 2023 lalu, sembilan amunisi beringas yang termuat di album bertajuk “Penumbra” dirilis resmi ke berbagai platform digital.

Keputusan menggarap “Penumbra” sendiri, antara lain dipicu ketidakpuasan para personel Gajendra terhadap proses rekaman lagu rilisan tunggal pertama mereka, “Predator”. Singkat cerita, dengan bermodal stok lirik yang dikerjakan oleh Rio Aditya, mereka pun mulai mengumpulkan riff untuk materi album “Penumbra”. Selama kurang lebih tiga bulan, Gajendra berhasil mengumpulkan beberapa materi. Tepat pada Desember 2021, mereka pun memberanikan diri untuk meninggalkan Kota Serang menuju Kota Bandung untuk melakukan proses rekaman di studio Wonderwall Records.

.

.

“Dua minggu kami merampungkan sembilan materi album. Judul ‘Penumbra’ kami pilih untuk memperkenalkan Gajendra kepada pecinta musik di Tanah Air. Setelah hampir dua tahun sejak materi album ini selesai, akhirnya proses mixing dan mastering yang dibantu oleh Noiseblast Record pun rampung,” beber pihak band kepada MUSIKERAS, mengurai proses kreatifnya.

O ya, “Penumbra” sendiri berasal bahasa Spanyol yang berarti ‘kesuraman’. Atau sebuah bayangan kabur yang terjadi pada saat gerhana bulan, jika dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

“Bukan sebuah kesuraman yang diharapkan (di album ini), melainkan pada tahun 2021-2022, pembuatan materi album ini banyak peristiwa yang dirasa cukup menyedihkan untuk Tanah Air kita, dan kondisi yang cukup sulit. Dilatarbelakangi hal tersebut maka terciptalah materi-materi pada debut album ini yang menggambarkan kesulitan dan kesuraman dibalut oleh lantunan irama, birama rock yang menjadi acuan kami merampungkannya.”

Konsep rock terapan Gajendra di album “Penumbra”, menurut Gajendra lagi, mengacu pada rock yang marak di era 90-an, namun dibubuhi beberapa sentuhan stoner/doom yang lantas dibaurkan sebagai bentuk eksplorasi dari pencarian identitas Gajendra.

“Ada beberapa band yang menjadi kunci referensi kami merampungkan album ini, di antaranya adalah Volcanova (Islandia), The Sword (AS), (band lokal) The Slave, Seringai, Burgerkill, Jangar, God Bless, Komunal dan beberapa band lainnya.”

Dari sembilan materi yang menyesaki “Penumbra”, pihak Gajendra menyebut lagu “Melesat Cepat” dan “Gulingan Maut” sebagai dua komposisi yang paling menantang eksekusinya saat rekaman, baik dari segi teknis maupun saat memainkannya. “Mulai dari tempo yang tidak beraturan atau berubah-ubah pada lagu ‘Melesat Cepat’, sampai tempo yang menurut kami terlalu cepat pada lagu ‘Gulingan Maut’,” seru mereka terus-terang.

Selain dua lagu tadi, “Penumbra” juga dipanaskan oleh trek berjudul “Keadilan”, “Bulan”, “Blokarsi”, “Reinkarnasi”, “Grahana” (feat Iputcong), “Virus” dan “Hartah”. (aug/MK02)

.

.