Usai pengembaraan mengeksplorasi leburan ‘ruh’ Black Sabbath dengan ragam sentuhan elemen hibrida di lagu rilisan tunggal “Godus” yang dirilis pada Oktober 2021 lalu, kini Age of Spin melanjutkan geberan riff berat mereka yang menggetarkan kuping. Kini sebuah manifesto lanjutan berformat album mini (EP) telah diluncurkan, yang berjudul “Desert Rain”.

Kali ini, referensi para personelnya, yakni Muhammad Fadhli Arif (vokal), Yusa Firdaus (gitar), Muhammad ‘Opep’ Rofi (gitar), Bagas K. Mahardika (bass) dan Satria ‘Rai’ Jatnika (dram) melebar, dengan menyuntikkan beragam pengaruh. 

“Segi musik dan komposisi, kami banyak terpengaruh oleh beberapa nama seperti (band) Mastodon, Gojira dan High On Fire. Akan tetapi, untuk akar musik sendiri kami tetap pada heavy metal. Dan kami ingin lebih bereksplorasi dalam segi komposisi dalam album mini ini,” ujar Fadhli, memberi gambaran. 

“‘Leviathan’ adalah salah satu album terbaik milik Mastodon yang cukup besar mempengaruhi kami dalam menggarap materi di EP ‘Desert Rain’,” imbuh pihak band asal Bandung ini, kepada MUSIKERAS.

“Desert Rain” sendiri memuat empat komposisi berdistorsi yang menggetarkan kuping. Masing-masing diberi titel “Devoid”, “Raising Praise”, “Anung Un Rama” dan “Desert Rain” yang sekaligus dijadikan judul album.

.

.

Lagu yang disebut terakhir juga disebut oleh Age of Spin sebagai komposisi yang paling menantang eksekusi teknis dalam memainkannya di sesi rekaman. “Karena tempo yang dimainkan di lagu ‘Desert Rain’ adalah tempo yang cepat dibandingkan tiga lagu lainnya, yang membuat para personel harus (benar-benar) menjaga kecepatan tempo.”

Secara keseluruhan, walau benang merah musik band bentukan 2020 ini tetap berada di ranah heavy metal yang agresif, namun di departemen riff dibuat lebih mudah dicerna. “Kesulitan menampung ide semua personel yang memiliki warna masing-masing menjadi hal yang sedikit memakan waktu. Perlu waktu dua tahun lantaran banyak hal yang terjadi saat proses pembuatan album ini, mulai dari kesibukan masing-masing anggota hingga sempat bubar. Akan tetapi, hal itu yang menjadikan manifestasi segi musik dan sonik Age Of Spin hari ini. ” 

Proses eksekusi rekaman “Desert rain” sendiri dilakukan di Tower 24/7 oleh Kiko Wikarta untuk isian gitar dan bass, sementara untuk dram direkam di Escape Studio oleh Puja Purnama. Khusus vokal direkam di Funhouse Studio dengan bantuan Zoteng untuk pengoperasian teknisnya. Terakhir, pemolesan penataan dan pelarasan suara (mixing dan mastering) dipercayakan kepada Amouswp di Twentydb Records.

Sejak 25 Agustus 2023 lalu, “Desert Rain” resmi diedarkan di berbagai platform digital. (aug/MK02)

.

.