Konser Emas GOD BLESS, yang Bergelimang Nostalgia

Usia kami terus bertambah, tapi semangat bermusik tak pernah patah…”

Vokalis Achmad ‘Iyek’ Albar mengucapkan kalimat optimistis itu lewat tayangan video di layar raksasa yang terpatri di kanan kiri panggung, di sela berlangsungnya “God Bless Konser Emas 50 Tahun with Tohpati Orchestra”, di Istora Senayan, Jakarta pada 10 November 2023. 

Malam itu, Iyek bersama Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bass), Abadi Soesman (kibord), Fajar Satritama (dram) serta bassis pendukung, Arya Setyadi merayakan lima dekade perjalanan karir God Bless di pentas musik rock Tanah Air. Sebuah konser panjatan syukur yang bergelimang aura nostalgia. Lima puluh tahun bukan waktu yang sebentar tentunya. Dihitung sejak mulai dicetuskan lahir pada Mei 1973 silam, saat pentas pertama kali di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Iyek menegaskan, rentang panjang itu mereka jalani dengan penuh rintangan, duka dan suka. 

Lalu sebuah perangkat layar berukuran lebar diturunkan dari ‘langit’, dipijakkan tepat di bibir panggung, menutup hampir setengah ukuran lebar area depan. Dari situ, ditayangkanlah visualisasi rekam jejak God Bless dari berbagai periode, berupa kolase potongan artikel di media sejak era 1970-an, serta foto-foto formasi God Bless dari masa ke masa. Di balik layar, para personel God Bless mengiringi napak tilas sejarah tersebut dengan melantunkan lagu “Balada Sejuta Wajah”, “Syair Kehidupan” dan “Sudahlah Aku Pergi”, karya solo Iyek yang dirilis pada 1993 silam. Ketiga lagu itu diantarkan lewat jentikan akustik, tanpa raungan distorsi.

Di luar segmen tadi, God Bless menggaungkan lagu-lagu terbaiknya malam itu, dengan semangat menyala-nyala, berpeluh distorsi, namun sekaligus menjadi elegan, anggun dan megah di beberapa momen berkat iringan orkestrasi memikat dari gitaris dan komposer Tohpati Ario Hutomo. Lagu “Musisi”, “Bla Bla Bla”, “Selamat Pagi Indonesia”, “Menjilat Matahari”, “Cermin”, “Maret 1989”, “Huma Diatas Bukit”, “Kehidupan” hingga “Semut Hitam” tak hanya terdengar berenergi dan bergelora, namun juga menjadi lebih riuh dan epik.

Sementara di nomor “Srigala Jalanan”, level kekerasan ditingkatkan lewat kolaborasi God Bless (tanpa kehadiran Iyek) dengan band Kotak serta Eet Sjahranie, mantan gitaris God Bless era album “Raksasa” (1989), “Apa Kabar?” (1997) dan kompilasi karya terbaik yang sebagian berisi aransemen daur ulang, “The Story of God Bless” (1990). Tapi sebelum melesatkan lagu tersebut, Eet terlebih dahulu membakar suasananya lewat raungan permainan solo gitar yang meledak-ledak di lidah panggung, ditemani visualisasi percikan api yang dramatis di belakangnya.

Gelimang nostalgia lalu berlanjut dengan menghadirkan beberapa bintang tamu, yang masing-masing melantunkan lagu-lagu karya lepasan personel God Bless. Ada lagu dangdut bernuansa rock, “Zakia” karya Ian Antono dan Iyek rilisan 1979, yang dibawakan oleh Kaka, vokalis Slank. Masih dari koleksi solo Iyek, juga dihadirkan lagu “Panggung Sandiwara” dari album “Duo Kribo” (1978). Kali ini disuarakan dengan versi bertempo cepat dan galak oleh penyanyi Nicky Astria.

Masih karya dari personel God Bless, disuguhkan pula lagu “Mimpi” karya Teddy Sujaya, dramer God Bless sejak album “God Bless/Huma di Atas Bukit” hingga “Apa Kabar?”. Pelantunnya? Siapa lagi kalau bukan Anggun Cipta Sasmi, diva kebanggaan Indonesia yang diterbangkan langsung dari Perancis, tempat tinggalnya saat ini. Anggun tampil membius tanpa kawalan personel God Bless di lagu ini, melainkan hanya ditemani petikan gitar akustik Tohpati yang bening.

Anggun dan Nicky juga dilibatkan di lagu “Bis Kota”, masih karya Teddy Sujaya (bersama Pamungkas NM). Sang pencipta lagu yang secara fisik tak sanggup lagi untuk berada di belakang perangkat dram, menyaksikan momen langka dan membanggakan itu dari jauh, di deretan kursi penonton VIP.

Nostalgia meniupkan kerinduan pada masa lalu, memunculkan sensasi emosional yang begitu kuat. Itu yang dirasakan oleh sebagian besar penonton yang menyesaki ruang dalam Istora. Mereka, rata-rata berasal dari generasi yang bisa dibilang mewakili tiap album rilisan God Bless. Khususnya yang memuja era artrock/prog rock di “Huma di Atas Bukit” dan “Cermin” hingga era distorsi modern album “Semut Hitam” dan “Raksasa”. Senyum puas tertangkap dari ekspresi para penonton, yang seolah ikut lega dan bersuka cita merayakan konser emas tersebut, seiring linangan suara haru di “Rumah Kita” yang dijadikan nomor penutup. 

Di luar gedung pertunjukan, gemuruh petir saling menyambar, sekaligus mengguyurkan hujan deras yang menyejukkan suasana. Membuyarkan hawa panas yang sebelumnya menyengat. Hujan diyakini mendatangkan rejeki. Panjang umur God Bless, semoga terus bergelimang rejeki sehat dari Sang Pencipta. (mudya mustamin)

Kredit foto: Budi Susanto & Megapro Communications (Iyek & Donny Fattah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts