Sempat vakum dan akhirnya berhasil bangkit dari gugusan masa berat yang mereka lalui. Band slamming death metal bentukan 2012 asal Cikampek, Karawang ini kini melontarkan amunisi baru berupa karya rekaman. Sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “Putrefaction” yang mengobarkan kombinasi riff-riff progresif dengan pola riffing modern metal yang mengajak pendengarnya memasuki dimensi lain yang sarat gempuran slamming serta groove death metal.
Berbeda dibanding “Son of Sorrow” dan “Spread Hatred” yang telah dilontarkan Megalithicum sebelumnya, komposisi “Putrefaction” mereka sebut lebih mengentakkan luapan emosi sepanjang lagu, sejak intro digeber. O ya, ketiga lagu di atas merupakan bagian dari album mini (EP) pertama Megalithicum yang bertajuk “Determined By Hypocrisy”. Keseluruhan memuat lima lagu beringas, termasuk yang belum disebutkan, yaitu “Collapsing In Violance” serta lagu yang dijadikan sebagai judul EP.
“Kami menyajikan metal yang lebih beragam pada setiap materi lagu yang kami buat,” ujar Megalithicum mengungkap konsep musiknya, kepada MUSIKERAS, “dengan memasukkan berbagai genre metal di dalamnya, seperti groove death metal, slamming, modern metal, thrash dan hardcore. Musik kami tidak mengacu pada satu sub-genre metal saja. Setiap orang bebas menilai sendiri dan menyebut musik kami seperti apa.”
Gan Gan Riksa Pakapradana (vokal/gitar), Mochamad Akbar Ramdhani (bass) dan Febri Ridwanul Hakim (dram) yang memperkuat formasi Megalithicum merekam “Putrefaction” dalam waktu yang relatif cepat. Pasalnya, gagasan dasar lagu tersebut sudah dibuat sejak 2018 lalu. Di versi terbaru, ada beberapa isian instrumentasi yang diubah. Khususnya di bagian dram yang dirasa kurang sesuai dengan apa yang mereka inginkan saat ini.
“Sejak tahun 2018, single ini hanya berupa instrumen saja. Saya membuat lagu ini dulu bertujuan untuk membuatnya sebagai intro, dan hanya berdurasi satu menit saja. Namun pada tahun 2020, saya berinisiatif untuk menjadikan single ini sebagai lagu penuh, dengan menambahkan beberapa part gitar, bass dan dram,” ujar Gan Gan berkisah.
Proses kreatif selanjutnya dieksekusi di Ultimate Music Record, salah satu studio di Cikampek, yang lantas diteruskan dengan penggarapan EP keseluruhan. Cukup lama pembuatannya, karena ketiga personel Megalithicum hanya memanfaatkan waktu di sela-sela kesibukan pekerjaan.
Tema lirik yang disemburkan di “Putrefaction” sendiri, merupakan ekspresi keresahan sang vokalis terhadap konspirasi Elite Global. Bersama Megalithicum, Gan Gan mencoba menyadarkan apa yang akan terjadi jika kita tetap diam dan tak acuh terhadap sistem dunia yang dzalim. “Apakah kita sebagian manusia-manusia yang sadar akan tetap terdiam dengan segala kebohongan yang diulang berkali-kali dan seakan-akan menjadi sesuatu yang dibenarkan dan disetujui oleh banyak orang?”
Dari sisi musikal, lima lagu yang menyesaki EP “Determined By Hypocrisy” menghasilkan tantangan tersendiri secara teknis saat penggarapan rekamannya. Salah satunya, pihak band menyebut lagu “Spread Hatred” dengan alasan bahwa lagu tersebut menggunakan teknik serta riff-riff gitar yang lumayan membuat mereka sedikit kewalahan saat merekamnya. “Dengan teknik crossing atau tremolo serta downstroke, serta dengan ketukan dram yang agresif, ditambah dengan vokal yang lumayan padat dan cepat,” cetus Gan Gan.
Bagi Megalithicum, “Determind by Hypocrisy” merupakan pembuktian nyata eksistensi mereka di skena metal ‘bawah tanah’, setelah sebelumnya sempat ditinggal oleh mendiang Ridwan Arifin, gitaris mereka, serta deraan beberapa kali pergantian personel. Selain diperdengarkan di berbagai platform digital, “Determind by Hypocrisy” juga telah diedarkan dalam format fisik (CD) via label Encirlcle. Tahun depan, Megalithicum telah mencanangkan bakal merilis materi baru terbaru, sekaligus dengan peluncuran video musiknya. (mdy/MK01)
.