Usai agresi perkenalan di EP “A Sacrifice of This Treasure” yang diperdengarkan pada 23 Februari 2023 lalu, band yang hanya diperkuat satu orang (one man band), Caelumsun kembali melanjutkan misi ‘gelap’nya. Kali ini datang dengan amunisi yang lebih berat, dalam format album penuh berisi delapan lagu bertajuk “Triumph of Motherland”.
Karya rekaman unit melodic black metal/atmospheric black metal yang berasal dari Tulungagung, Jawa Timur ini diklaim diciptakan dengan gairah serta dedikasi. “Triumph of Motherland” mempertunjukkan evolusi Caelumsun di skena musik keras, dengan memberikan perjalanan musikal yang penuh eksplorasi. Merupakan tonggak penting bagi Caelumsun baik secara pribadi maupun musikal. Sebuah perayaan akan akar, perjuangan dan kemenangan, yang disatukan dalam narasi yang kohesif yang diharap akan beresonansi dengan audiens Caelumsun.
“Triumph of Motherland” yang antara lain memuat komposisi “The Gathering Storm” dan “The Siege of Ironhold” sendiri dieksekusi Agatha Tito Yohansah, musisi di balik nama Caelumsun secara mandiri di studio Orvius Soundlab, Tulungagung. Agatha menyebut “Triumph of Motherland” sebagai karya yang disuguhkan dengan kualitas produksi yang mumpuni, dimana setiap lagu menjadi bukti dari visi kreatif Caelumsun.
Namun dari segi penerapan konsep musikal, corak melodic black metal/atmospheric black metal yang melabeli Caelumsun tidak sepenuhnya sekental itu. Kepada MUSIKERAS, Agatha menyebut banyak pengaruh lain yang ia imbuhkan.
“Genre saya tidak spesifik melodic black metal/atmospheric black metal, tetapi memang untuk dasarnya saya mengambil dari black metal. (Tapi) Seiring berjalannya waktu, orang-orang menyebut Caelumsun genre tersebut,” seru Agatha, yang mengaku sedikit banyak mengacu ke karya-karya musik dari band seperti Cân Bardd (Swiss), Saor (Inggris), Eldamar (Norwegia), Elderwind dan Skyforest (Rusia) sebagai referensi.
Satu hal unik dalam penggarapan lagu-lagu di “Triumph of Motherland”, adalah kenyataan bahwa Agatha sebenarnya tidak bermain gitar. Ia hanya mengerti nada. Dan buat Agatha, itu tantangan terbesar dalam penggarapan lagu-lagunya.
“Itulah alasan kenapa ketika saat proses kreatif saya sepenuhnya menggunakan Midi untuk semua instrumen, yang kemudian saya take ulang dengan instrumen asli di studio rekaman. Untuk proses rekaman, saya dibantu Febri Antonia selaku pemilik studio rekaman Orvius Soundlab. Dia yang merekam ulang dengan gitar dan bass sungguhan tanpa mengubah apapun. Proses pembuatan album ini, saya mengerjakan semuanya sendiri dan memakan waktu sekitar 9-10 bulan.”
Tantangan lain yang dihadapi Agatha, secara spesifik ada di penggodokan komposisi lagu “Beyond The Horizon”, lantaran banyak terapan riff jebakan dan time signature yang berubah-ubah.
Selain dalam format digital yang sudah tersebar di berbagai platform streaming sejak 29 Desember 2023, “Triumph of Motherland” juga diproduksi oleh label Interlude Records, Malang dalam kemasan fisik cakram padat (CD). (aug/MK02)
.