Sum 41 mengumumkan kabar gembira kepada para Skumfuks (julukan penggemar mereka) pada 23 Maret 2022 lalu, bahwa album studio kedelapan bertajuk “Heaven :x: Hell” akan dirilis pada 29 Maret 2024 dalam format album ganda. Sisi “Heaven” menampilkan materi bergaya pop punk seperti di awal karirnya, sedangkan sisi “Hell” menyajikan materi yang lebih keras dengan balutan heavy metal.

Namun pada 8 Mei 2023 lalu, unit rock bentukan 1996 asal Ontario, Kanada ini justru mengumumkan berita mengejutkan, bahwa mereka akan resmi bubar menyusul perilisan album baru tersebut dan akan menggelar tur perpisahan bertajuk “Tour of the Setting Sum: The Final World Tour”. Tur global ini berlangsung dalam jadwal padat di sepanjang 2024 dan bakal berakhir di Toronto, Ontario sebagai ‘konser penutup’, pada 30 Januari 2025 mendatang.

Tentu saja Indonesia tidak luput dari peta tur esensial Sum 41 tersebut. Mengingat sejarah jawara pop punk ini di Tanah Air dengan dua konsernya di Jakarta pada 2008 dan 2012 silam. Setelah menyambangi Seoul, Korea Selatan, tahun ini Sum 41 menginjakkan kakinya untuk ketiga kalinya ke Indonesia (dan terakhir!) dengan dua konser berturut-turut. Jumat, 1 Maret di Uptown Park, Sumarecon Mall Serpong, Jakarta (Tangerang lebih tepatnya) dan 2 Maret di Stadion Kridosono, Yogyakarta.

Konser di Uptown Park yang digagas promotor Ravel Entertainment berjalan mulus nyaris tanpa kendala yang berarti. Walau dihiasi gerimis yang memaksa sebagian besar penonton harus mengenakan jas hujan. Pemilihan Uptown Park yang berkapasitas 10.000 orang sebagai lokasi konser cukup tepat karena berlantai konblok sehingga terhindar dari becek akibat genangan air. 

Menyala Bersama Ignite 

Sebelum konser Sum 41 dimulai, penonton lebih dulu dipanaskan penampilan spesial dari Ignite, band melodic hardcore asal Orange County, California, AS. Sekitar pukul 19:30 WIB, para penonton mulai merapat ke dekat panggung untuk menyaksikan aksi band yang dihuni oleh Eli Santana (vokal), Kevin Kilkenny (gitar), Nik Hill (gitar), Brett Rasmussen (bass) dan Craig Anderson (dram). Di sepanjang set, kuintet tersebut tampil energik dengan tata suara yang mantap walau tata cahayanya tidak maksimal. Cahaya follow spot seperti tidak dioperasikan sehingga wajah dan gestur tiap personel band menjadi agak samar. Setelah menggelontorkan beberapa lagu, penonton terlihat masih ‘malu-malu’ untuk menciptakan mosh pit. Mungkin mereka ingin menyimpan energinya untuk Sum 41.

Melihat kerumunan massa penonton yang terlihat ‘adem ayem’, Ignite tidak kehabisan akal. Mereka mengutus sang bassis, Brett, untuk turun panggung dan bergabung bersama penonton demi menciptakan circle pit. Terbukti strategi mereka jitu, sambil memainkan bassnya, Brett berada di tengah dikelilingi puluhan penonton yang berlari membentuk circle pit yang liar. Keren! Sejak itu, penonton jadi lebih percaya diri dan bersemangat untuk memecahkan mosh pit hingga pertunjukan Ignite berakhir.

Nama Ignite sebenarnya cukup populer di kancah hardcore dan punk rock domestik. Kami pun sangat menikmati suguhan live mereka, terutama lagu-lagu dari album “Our Darkest Days”. Sebut saja “Fear is Our Tradition”, “Let it Burn”, “Slow Down”, “Bleeding”, “Know Your History” dan lagu cover U2, “Sunday Bloody Sunday”. Sekitar pukul 20:29 WIB, Ignite pamit dengan wajah sumringah tanda bahagia dan puas dengan sambutan penonton.

Gaspol Adrenalin Sum 41 

Sekitar 30 menit kemudian, tiba saatnya penampilan utama yang paling ditunggu semua orang. Tepat pukul 21:10, panggung mulai menyala dengan latar logo Sum 41 besar seiring intro “Introduction to Destruction” berkumandang. Kemudian muncul satu per satu; dramer Frank Zummo, gitaris Dave ‘Brownsound’ Baksh, bassis Jason McCaslin, gitaris Tom Thacker dan sang vokalis, Deryck Whibley yang disambut histeria massal penonton.

Tanpa basa-basi, mereka langsung membuka konser dengan “The Hell Song”. Saking girangnya, mosh pit langsung ‘pecah’ di bagian tengah kerumunan depan. Usai lagu dari album “Does This Look Infected?” tersebut, Deryck mulai menyapa penonton dan mengajak semuanya gila-gilaan bareng. Sesuai judulnya, Sum 41 menggeber “Motivation” untuk menggerakkan para Skumfuks bergembira ria sebelum dilanjutkan “Over My Head (Better Off Dead)”. Lagu ini membuat penonton makin liar, loncat-loncatan sambil sing along. Kuping terasa tertampar oleh kerasnya suara masif para penonton. Situasi yang sama juga terjadi pada saat lagu “The Reason”, “Underclass Hero” dan terutama “Some Say” yang bertempo pelan. Tepat sebelum “Out for Blood” digeber.

Salah satu pemicu kegilaan penonton – selain penampilan super energik dari Sum 41 – adalah suguhan tata suara dan cahaya yang maksimal, plus semburan api pyro technics, asap fogging yang silih berganti serta semburan konfeti berkali-kali. Dalam set list malam itu, tentu saja terdapat pula lagu-lagu dari album terbaru, “Heaven :x: Hell”.

Diawali oleh “Landmines” yang menurut Deryck mewakili sisi “Heaven”. Lalu dilanjutkan dengan lagu perwakilan sisi “Hell”, “Rise Up” yang bertempo cepat dan berlapis riff metal! Benar saja, ternyata “Rise Up” menjadi pemanasan lagu berikutnya yang lebih metal. Deryck kembali memompa penonton untuk melakukan headbanging lewat “We’re All to Blame”, salah satu lagu hits dari album “Chuck” yang ‘nyerempet’ thrash metal. Tak pelak, ukuran circle pit seketika membengkak dan lebih liar. Untuk memulihkan stamina, baik penonton maupun para musisi penampil, dua buah lagu balada, “Walking Disaster” dan “With Me” diluncurkan secara berurutan sebagai ‘selingan’.

Nostalgia Menuju “Pieces”

Setelah itu, Deryck kembali menaikkan tensi penampilan band dengan memainkan lagu lawas “Makes No Difference” dari album mini debut “Half Hour of Power”. Namun uniknya, Frank Zummo memainkan lagu tersebut dengan perangkat dram ‘old school’ yang dimilikinya sejak 1996 silam, yang sengaja diboyong kru ke atas panggung. Alhasil, suara yang dihasilkan agak berbeda dibanding perangkat dram utamanya yang ada di belakang.

Ternyata, di sesi ini, mereka memang ingin menyuguhkan sesi ‘old school’. Usai “Makes No Difference”, Sum 41 menggeber sederet lagu era awal karirnya secara medley, yakni “My Direction / No Brains / All Messed Up / All She’s Got”. Lalu sesi ini ditutup oleh lagu “Summer”. Tetapi sebelum lagu itu digeber, Frank sempat kembali ke perangkat dram utamanya untuk beraksi solo dram yang mengundang decak kagum. Kemampuan teknikal dramer yang pernah menggantikan sementara Tommy Lee di Motley Crue ini memang ‘top markotop’! Mungkin Frank satu-satunya dramer band punk yang menerapkan dobel bass di dramnya.

Deryck kemudian mempersembahkan Tom Thacker untuk mengawali riff gitar lagu cover milik Queen, “We Will Rock You”, sekaligus memainkan isian solo gitarnya. Versi pop punk lagu klasik rock yang terdengar keren. Setelah lagu itu, Deryck mengambil gitar dan bermain riff ikonik lagu “Smoke on the Water” milik Deep Purple. Baru bagian awalnya, lantas berhenti. Kemudian ganti memainkan riff lagunya The White Stripes, “Seven Nation Army”. Sama. Hanya bagian awalnya saja.

“Sudah ah, hanya segitu saja yang kami tahu,” serunya sambil terkekeh. Ah,  ternyata itu semua hanya candaan selingan mereka. Ternyata niat aslinya, Deryck sedang membangun mood menuju lagu balada Sum 41 yang paling dikenal sampai ke kancah mainstream. Apalagi kalau bukan “Pieces”. Bisa ditebak dan terbayang seperti apa bahana koor massal seluruh penonton. Bahkan kami nyaris tidak bisa mendengar suara Deryck, tertutup oleh suara kerasnya penonton. Epik!

Bukan Pop Punk Biasa

Urutan lagu Sum 41 memang ciamik. Belum selesai konser saja, MUSIKERAS dan banyak rekan-rekan lainnya yang hadir malam itu berani menyimpulkan bahwa inilah konser terbaik Sum 41. Jauh lebih baik dibanding dua konser mereka sebelumnya di Jakarta. Bahkan boleh dibilang sebagai terbaik dari yang terbaik. Dan dengan tampil formasi berlima, salah satu ikon pop punk terbesar sejagad raya ini menjadi lebih solid dalam berbagai segi. Masuknya Frank Zummo, kembalinya Dave Brown setelah sempat hengkang, serta kualitas vokal Deryck yang lebih prima karena bisa lebih fokus dalam bernyanyi tanpa harus merangkap sebagai gitaris ritem,  seperti formasi sebelumnya.

Di antara para pembesar pop punk lainnya seperti Green Day, Blink-182, The Offspring atau Fall Out Boy, Sum 41 cukup berbeda secara musikal. Musik mereka bukan sekadar menyuguhkan punk rock yang lebih easy listening dan popular. Melainkan lebih menunjukkan kemampuan teknis mereka dengan menginkorporasikan unsur yang lebih cadas seperti heavy metal serta turunannya. Bahkan di beberapa lagu mereka banyak pengaruh kuat dari Iron Maiden, Metallica hingga Slayer.

Salah satu buah inspiratif yang dapat dipetik dari kiprah mereka adalah menciptakan lagu yang tenar hingga ke atas permukaan industri musik, tanpa harus kompromi dengan tren. 

Encore Tak Terlupakan

Anyway, ada dua lagu yang juga dinilai wajib masuk dalam daftar lagu Sum 41, tentu saja adalah “Fat Lip” dan “Still Waiting”. Dua lagu yang sukses membuat seluruh penonton ‘kelojotan’ dan tenggorokan kering karena terlalu bersemangat bernyanyi bersama-sama. Deryck juga sempat mengucapkan salam perpisahan ke penonton bahwa Sum 41 akan bubar untuk selamanya setelah tur finalnya ini. Semua penonton spontan meresponnya dengan teriakan “Boooo!”. “Terima kasih atas ‘Boooo’-nya!” Deryck membalasnya sambil tersenyum. Tidak lama kemudian Deryck pamit dan menghilang ke balik panggung bersama rekan-rekannya. Bisa diduga, teriakan penonton ‘We want more!’ lantas tidak terhindarkan.

Selang beberapa menit, Sum 41 kembali ke panggung dan langsung memainkan lagu balada “Best of Me” dari album “Underclass Hero”. Sejurus kemudian kembali menaikkan tensi menjadi bertegangan tinggi lewat lagu “Mr. Amsterdam”. Sebuah lagu bertempo cepat bermuatan riff metal yang berat. Jika Anda jeli, di versi rekaman lagu dari album “Does This Look Infected?” tersebut, aransemen akhir lagunya merujuk ke akhiran lagu “Damage Inc.” milik Metallica. Namun, malam itu mereka mengubahnya menjadi akhiran lagu “Battery”, juga milik Metallica. Metalhead pasti tahulah!

Dan lagu penutup konser final mereka malam itu adalah “In Too Deep”, lagu hit yang pernah sangat sering ditayangkan di kanal musik MTV serta banyak radio di seluruh dunia. Usai lagu itu, seluruh personel Sum 41 berdiri bersama ke bibir panggung untuk mengucapkan apresiasi dan penghormatan kepada semua fansnya. Setelah menyelinap ke balik panggung, lampu panggung menyusul padam. Penonton berangsur-angsur mulai beranjak pergi menuju pintu keluar. 

Tapi ternyata itu hanya tipuan! Hanya sekitar lima menit setelah dipadamkan, tiba-tiba lampu panggung kembali menyala dan terdengar alunan genjrengan gitar akustik. Semua penonton tentu saja kaget dan tidak menyangka, apalagi setelah melihat sosok Deryck yang kembali muncul di panggung. Tentu saja semua orang langsung bergegas kembali ke panggung dan memadatkan area. Barikade pembatas antara Cat 1 dan Cat 2 pun dibuka oleh petugas event untuk melegakan arena.

Ternyata kami semua ‘dikerjai’ Sum 41, haha! Deryck kembali menyatakan rasa senang dan apresiasinya kepada fans di Indonesia. Oleh karena itu dia ingin sekali lagi berpamitan dengan melantunkan lagu balada “So Long Goodbye” yang cukup mengharukan. Dengan demikian, malam itu Sum 41 total menggeber 27 lagu, sesuai dengan usia 27 tahun perjalanan karir mereka. So long Sum 41, thank you for the goddamned awesome music! (Bimo D. Samyayogi/MK03)

Kredit foto: Dok. Ravel Entertainment