Infinite Droplet meneruskan misinya meletupkan konsep musik yang mereka sebut whatevercore. Sebuah formula yang menyatukan beberapa elemen musik core, agar tidak terdengar monoton. 

Usai peluncuran lagu rilisan tunggal perdana berjudul “Ouroboros” pada Januari 2024 lalu, kini racikan whatevercore dipertajam di peluncuran album mini (EP) bertajuk “Sarkas Sirkus”.

Karya rekaman EP ini beramunisikan beberapa trek lagu, yang dikemas unik dan didominasi lagu berdurasi pendek (short song). Lagu itu adalah “Chick It Out!”, “Boikot”, “End”, “Wibu”, “Kavir” dan “Fvck You Anak Mami”.

Kali ini, vokalis M. Luthfi As’shidiq, gitaris Yuvie Alfarizky dan Rizky Agung Martadiraja, bassis Bayu Dwi Dinata serta dramer M. Miftahuddin Adha mencoba untuk mengekspresikan emosi dan singgungan yang disampaikan lewat lirik-lirik lagu yang terkesan lucu.

Pada trek pembuka atau intro, “Chick It Out!” disampaikan dalam konteks modern dan terfokus pada suara instrumen. 

Di lagu “Boikot” menyoroti perang yang terjadi di Palestina. Infinite Droplet mengekspresikan kekesalan terhadap agresi Israel, dengan pelampiasan instrumentasi bernuansa hardcore.

Selanjutnya pada trek “End”, band ini mencoba mengimplementasikan pikiran dalam bentuk lagu yang bertemakan keteguhan hati mereka dalam menyikapi caci-maki yang dilontarkan oleh para haters.

Penggarapan “End” menyimpan catatan tersendiri bagi para personel Infinite Droplet. Lagu ini paling menantang saat dieksekusi rekamannya. 

“Karena banyak menggunakan teknik killswitch di dalam lagu tersebut serta penyesuaian lirik saat dinyanyikan terasa lebih agresif ketimbang lagu-lagu lain,” tutur mereka kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Di lagu “Wibu”, Infinite Droplet mulai menggunakan penggalan lirik candaan yang dialamatkan kepada teman-teman mereka yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan budaya Jepang, seperti anime, manga dan sebagainya.

Dua trek terakhir, “Kavir” dan “Fvck You Anak Mami” masing-masing berkisah tentang sebuah percintaan beda keyakinan, serta nasehat bagi mereka yang belum mandiri alias masih bergantung pada orang tua, padahal umur sudah tidak lagi muda dan gemar memamerkan atau membanggakan harta dari jerih payah orang tua.

Pengerjaan EP “Sarkas Sirkus” sendiri dieksekusi band asal Palembang, Sumatera Selatan ini selama kurang lebih satu tahun. Dimulai sejak akhir 2022 lalu. Produksi rekaman mereka garap secara mandiri di Dvrkside Studio, Palembang.

“Di EP ‘Sarkas Sirkus’ ini, kami lebih banyak memilih referensi dari musik hardcore dengan beberapa sentuhan musik ‘core’ lainnya,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, sambil menyebut band-band seperti Gutalax (Republik Ceko), Sunami (AS) serta Mesin Tempur dan Jasad (Bandung) sebagai acuan utama referensi musiknya.

“Pada elemen kali ini, kami siapkan khusus untuk para pendengar dan penikmat musik hardcore. Tentu saja kami tidak hanya mengikuti atau mematok pada hardcore saja, melainkan terdapat elemen-elemen lain seperti grindcore, punk-hardcore, bahkan metalcore.”

EP “Sarkas Sirkus” sudah terhidang di berbagai platform digital sejak 27 April 2024 lalu. (aug/MK02)