Dari ‘Kota Nanas’ Subang, Jawa Barat, kuartet Sad But True mengobarkan formula punk yang berkonsep unik. Seperti yang sudah diterapkan lewat lagu-lagunya, sejak mulai menggeliat pada September 2018 lalu.
Khususnya yang terbaru, sebuah lagu rilisan tunggal berjudul “Noir”. Di sini, formasi vokalis Anis Hamidatunnisa (Anisham), bassis dan vokalis Ryan Fakhrudin, gitaris Hery Suheri serta dramer Riki Budi Santoso meracik punk yang lebih berat sekaligus melodik, yang dikombinasikan dengan eksplorasi riff tanpa batas.
Mereka mengaku banyak terpengaruh band-band hardcore dan alternative, yang membuat musik Sad But True menyiratkan warna baru, namun sekaligus memberi tantangan bagi mereka, untuk bisa tetap konsisten dengan konsep tersebut. “Noir” sendiri, memang dimaksudkan mewakili wajah baru Sad But True.
“Sebelumnya, lagu-lagu Sad But True cenderung kritis dan bersemangat,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS mengungkap perbedaannya.
“Lagu ‘Noir’ adalah lagu pertama kami yang bernuansa muram penuh kepedihan dan penyesalan. Karena di lagu ini, apa yang sedang kami alami kami luapkan. Nuansa yang berbeda pun dapat ditegaskan dari segi musikalitas yang banyak kami bumbui dengan unsur shoegaze, melodic hardcore hingga alternative, sehingga kami anggap sebagai formula baru Sad But True itu sendiri.”

Saat penggarapannya, mereka mengaku sedikit banyak menyerap inspirasi secara musikal dari band-band dari AS dan Inggris macam Drug Church, Fleshwater, Higher Power hingga Bon Iver.
Lebih jauh, Sad But True juga mengungkapkan bahwa penggodokan lagu “Noir” dilakukan saat para personel Sad But True sedang istirahat beberapa bulan karena musibah yang menimpa gitaris mereka. Dan proses pengerjaannya, bisa dibilang cukup rumit.
“Bukan karena soal teknis, akan tetapi pada saat proses pengerjaan gitaris kami masih sedang masa pemulihan pasca kecelakaan. Selain itu, dua personel kami lainnya sedang sibuk membantu salah satu band teman kami juga yang sedang menjalankam tur. Kesimpulannya, lagu ‘Noir’ adalah penggambaran Sad But True sendiri saat di fase yang kurang baik karena diterpa berbagai ujian. Salah satunya juga, vokalis kami yang baru saja kehilangan sosok ayah.”
“Noir” yang berarti hitam putih adalah penggambaran ‘transisi’ sifat dan keadaan seseorang dari yang awalnya berperilaku buruk menjadi seseorang yang lebih baik. Dari keadaan yang begitu terpuruk kemudian bangkit menuju ke keadaan yang lebih baik.
Musik dan lirik untuk “Noir” masing-masing digarap oleh Hery Suheri dan Ryan Fakhrudin. Sementara eksekusi rekamannya dilakukan di Blastbeat Records, Subang. Disusul mixing dan mastering yang dipoles di Invasion Studio, Depok.
Sebelum “Noir”, Sad But True tercatat sudah melahirkan sebuah album mini (EP) berjudul “Elusif” (2021) plus tiga lagu rilisan tunggal berjudul “Selfish” (2021), “Thrown” (2022) dan “Oksidasi” (2023). Semuanya diedarkan via label independen asal Subang, Keeprawk Records.(aug/MK02)
Menerjang kehidupan di Cijerah II Blok.15 No.03 RT.04 RW.20 Cimahi Selatan 40534