Setelah terakhir merilis album pertama pada 2019 lalu, akhirnya unit rock dari Sleman, Yogyakarta ini bisa memutus kekosongan karya rilisannya. Pada 27 September 2024 lalu, Tigerpaw telah merilis album keduanya, berjudul “Sleman Sembada Rock”, via berbagai platform musik digital.
Untuk mendukung promosinya, band yang dihuni Muhammad vokalis Fardian Bazra, gitaris Yhono Trisantosa dan Sambung Penumbra, bassis Paulus Ryan Haryanto serta dramer Dimas Yudha Subakti ini juga merilis video lirik salah satu lagunya, “Rock Purba” pada 4 Oktober 2024 di kanal YouTube resmi Tigerpaw.
Materi lagu-lagu di album “Sleman Sembada Rock” sendiri sudah mulai ditulis sejak 2022 lalu, menghasilkan 15 lagu dan dirilis dalam format album ganda, masing-masing diberi label “Sleman Sembada Rock I” dan “Sleman Sembada Rock II”.
Pihak Tigerpaw beralasan, lantaran proses penggarapan yang cukup lama, kurang lebih dua tahun, sehingga materi lagu yang mereka hasilkan cukup banyak. Ada 15 lagu yang mereka anggap layak dirilis.
“Lalu kami memutuskan merilisnya dalam format double album, ‘Sleman Sembada Rock I’ dengan tema lagu yang sedikit lebih serius, sedangkan ‘Sleman Sembada Rock II’ lebih nyeleneh,” ungkap Fardian Bazra memperjelas.
Tigerpaw menghadirkan musik rock yang terbilang beringas, tengil, bangor namun tetap bersahaja. Aroma rock Indonesia era 80-an hingga 90-an, dimana musik rock sangat berjaya, kental terasa pada “Sleman Sembada Rock”. Lengkap dengan ciri suara vokal melengking, gitar (model) Flying V yang dimainkan dengan kencang, kostum bernuansa glam rock, serta personel yang berambut gondrong adalah gambaran penampilan Tigerpaw.
“Menampilkan gempita musik rock lawas di tahun 2024, bagi saya memang sebuah usaha yang harus diperjuangkan. Di antara anak-anak skena sekarang yang tampil necis dengan pakaian kasual dan rambut yang tertata rapi, Tigerpaw akan menjadi pembeda,” tutur Dimas, menambahkan.
Tema lagu yang dihadirkan pun beragam, dari kritik terhadap rezim pemerintah yang semakin sinting, isu lingkungan, perasaan kehilangan, hingga fenomena open BO.
Lewat “Sleman Sembada Rock”, Tigerpaw mengumbar rock dengan gaya kelokalan. Mereka terinspirasi band rock legendaris Tanah Air, God Bless yang mencoba mengubah rock barat yang identik dengan Black Sabbath, Led Zeppelin atau The Rolling Stones dengan gaya khas Indonesia. Nah, Tigerpaw yang terbentuk pada 2018 lalu mencoba melanjutkan spirit pahlawan rock Indonesia tersebut dengan gaya orang Sleman.
Sebelum “Sleman Sembada Rock”, Tigerpaw pernah merilis sebuah album mini (EP) berjudul “Horse Power 13” pada 2018 dan satu album penuh “Tigerpaw” pada 5 Januari 2019. Salah satu pencapaian membanggakan Tigerpaw sepanjang karirnya adalah saat mendapatkan penghargaan 10 besar Wacken Metal Battle Indonesia pada 2024.

Berikut, MUSIKERAS sedikit berbincang dengan para personel Tigerpaw seputar album barunya:
Secara teknis, apakah ada tantangan yang ditemui saat menjalani proses penggarapan rekaman album “Sleman Sembada Rock I & II”?
Muhammad Fardian Bazra (MFB): Tidak ada, karena ketika menemui kesulitan, baik personel dan manajer membantu memecahkan masalah, baik tema, musik dan lirik dipikirkan bersama.
Sambung Penumbra (SP): Kalau proses kreatif sih aman-aman aja. Cuma yang rada sulit diproses post-produksinya, karena di dalam Tigerpaw sendiri ada beberapa engineer yang punya referensi masing-masing. Sempet banyak (proses) brainstorming tentang mix style, tapi akhirnya dapet yang Tigerpaw banget. Teman-teman Tigerpaw mempercayakan saya sebagai sound engineer untuk album ini.
Yhono Trisantosa (YT): Relatif nggak ada. Sedikit kesulitan mengatur jadwal bekerja dan berkarya saja.
Paulus Ryan Haryanto (PRH): Bass yang kupakai berbeda-beda di dalam satu album, dan rekaman bass pun berbeda-beda studio. Termasuk di rumah.
Dimas Yudha Subakti (DYS): Relatif nggak gak ada, prosesnya fun mengalir gitu aja.
Dari segi terapan musikal, apa yang membedakan eksekusinya jika dibandingkan dengan album sebelumnya?
MFB: Dibuat oleh banyak personel dan menggunakan sistem saling percaya. Berbeda dengan album sebelumnya yang hanya banyak didominasi oleh satu orang saja sehingga materi lagu yang dihasilkan hampir-hampir mirip. Album sekarang lebih beragam.
SP: Di double album kali ini banyak teori musik yang diterapkan karena biar nggak saling nabrak dan terkesan lebih ‘musikal’.
YT: Tentu sangat berbeda karena sangat banyak perpaduan resep musik dan perbedaan referensi dari masing-masing personel sehingga mnjadikan warna musik yang jauh lebih kompleks dan luas.
PRH: Mendesain sound agak sedikit modern, namun tetap cocok untuk nuansa lagu dengan nada-nada rock klasik yang gahar. Riff-riff dan irama lagu lagu di album ini terasa lebih modern, namun tidak mengubah lagu tersebut meninggalkan kesan rock lawasnya.
DYS: Yang beda adalah kebebasan referensi dan pengembangan aransemen. Tiap sumbangan unsur musikalitas dari masing-masing player bisa nyampur jadi sesuatu yang unik dan segar tapi masih menjadi gaya Tigerpaw.
Dari 15 lagu yang disuguhkan, manakah yang paling menantang secara teknis saat mengeksekusi rekamannya?
MFB: “Hitam”, karena dituntut harus benar-benar in-tune… hahaha!
SP: “Jiwa-jiwa Rock”-lah, karena di situ banyak kejutannya, berupa harmoni dan syncopation, dan paling susah buat dimainin kayaknya.
YT: “Rock Purba”, karena banyak sekali part gitar dan pembagian antar gitaris di bagian yang rapat, ditambah lagi lagu ini bertempo cepat.
PRH: “Hitam”, karena bertempo lambat dan dituntut menggunakan perasaan untuk merekamnya.
DYS: “Jiwa-jiwa Rock”, nyari tema yang pas buat lagu ini. Ide musik berawal dari intro piano, ngembangin aransemen untuk jadi utuh yang bisa jadi katalog sejarah berbagai jenis musik rock dalam satu lagu.
Tigerpaw berharap, album “Sleman Sembada Rock I” dan “Sleman Sembada Rock II” yang dirilis melalui label rekaman Repertoart Records ini bisa membangkitkan kembali jiwa-jiwa serdadu rock yang sudah lama terkubur. Harapan mereka, musik rock terus mengudara dan harus dijaga. “Garpu somay di udara!” (mdy/MK01)