SISTER MURDER: “Kami Harus Buktikan Diri di Skena Maskulin Ini!”

Terbentuk pada 2010 silam, lalu sempat vakum delapan tahun. Kini Sister Murder hadir dengan kekuatan baru, lewat sebuah album berbahaya.
sister murder

Sister Murder lahir di tengah dominasi pria dalam kubangan metal, di Malang, Jawa Timur. Kehadirannya menjadi kekuatan yang menantang norma-norma yang ada.

Mereka tidak hanya menyajikan musik yang agresif, brutal dengan pakem death metal yang ada, tetapi juga membawa pesan yang kuat tentang pemberdayaan perempuan dalam industri musik.

Lirik yang tajam dan penampilan panggung yang memukau menjadi energi Sister Murder dalam mendefinisikan ulang batasan-batasan yang seringkali menghalangi ruang perempuan. 

Dalam dunia musik yang seringkali dipandang sebagai arena maskulin, mereka menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya bisa berpartisipasi, tetapi juga dapat memimpin dan menginspirasi.

Melalui representasi esensial lirik yang bermakna, Sister Murder mengekspresikan pengalaman dan perjuangan perempuan, menciptakan narasi yang relevan dan menggugah. Mereka tidak takut untuk mengangkat isu-isu sosial yang penting, seperti kesetaraan gender dan pemberdayaan, yang seringkali terabaikan dalam genre musik keras.

Sister Murder yang kini digerakkan oleh formasi barunya; vokalis Siska Ade, gitaris Levita Damaika (Levi), bassis Pricilia Mahesa (Chesil) dan dramer Irma Marita (The Moon) membuktikan bahwa musik metal bukan hanya milik satu gender, tetapi merupakan ruang bagi semua orang untuk mengekspresikan diri.

Setiap pertunjukan, menjadi momen dimana band ini merayakan kekuatan dan keberanian perempuan. Mereka mengajak audiens atau penonton untuk bersama-sama meruntuhkan stereotip yang ada.

Memantik Keributan

Setelah sempat menjalani masa vakum yang cukup panjang sejak 2015 lalu, kini Sister Murder siap kembali memantik ‘keributan’. Tepatnya dimulai sejak 2023 lalu, dengan membawa esensi ruh konseptual yang lebih segar.

Implementasinya, mereka muntahkan lewat tiga komposisi rilisan tunggal, yang masing-masing berjudul “Aborted Rotten Fetus”, “Soul Bomber Destruction” dan “Human Body Dismemberment” sebagai pemanasan.

Lalu sejak 12 April 2025 lalu, sebuah album penuh dicetuskan, bertajuk “Ressurecting The Wounded Pshyce”. Memuat tujuh komposisi menyiksa kuping, yang sedikit banyak mengambil pengaruh elemen metal/death metal/slamming death metal dari para monster dunia macam Analepsy, Death, Nile hingga Abominable Putridity.

sister murder

Materi lagu yang menyesaki album “Ressurecting The Wounded Pshyce” sendiri, menurut ungkapan pihak band kepada MUSIKERAS, merupakan kulminasi dari ide-ide organik para personelnya, yang lantas digodok saat jamming di studio.

“Prosesnya sendiri dimulai dari aransemen materi lama Sister Murder hingga menambah beberapa materi baru, yang dilakukan sejak November 2023 hingga rampung September 2024, untuk proses rekaman serta mixing dan mastering-nya,” ujar mereka.

Sebagai musisi, Sister Murder mengakui menemukan tantangan teknis di beberapa proses. Tapi tantangan terbesarnya, mereka akui justru datang dari diri mereka sendiri sebagai sebuah band. Khususnya dalam mengisi ruang-ruang dari isian instrumen setiap personelnya, saat menggabungkan ide-ide mereka menjadi sebuah materi matang.

“Akan tetapi, setelah vakum sekian lama, tantangan terbesarnya ialah kami harus membuktikan diri dengan tetap berproses secara kreatif di skena yang cukup maskulin ini. Kami harus lebih keras membangun kredibilitas musikal kami,” seru mereka meyakinkan. 

Tantangan melahirkan kepuasan pada akhirnya. Dari tujuh lagu yang disuguhkan di album “Ressurecting The Wounded Pshyce”, Sister Murder menyebut lagu “Abberation Mental Collapse” sebagai salah satunya yang membanggakan sekaligus menantang saat mengeksekusi rekamannya.

“Karena dengan transisi tempo yang lumayan up and down. Penggarapannya memakan waktu lumayan lama, sekitar empat bulan hingga akhirnya bisa menjadi materi yang maksimal.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts