ENDRØM: Baurkan Black Metal dengan Melodic Atmospheric Crust Punk

Lewat album penuh keduanya yang bertajuk “The Last Swordsman”, Endrøm kembali menajamkan konsep musik yang mereror dan mencekam.
endrøm
ENDRØM

Endrøm yang berasal dari Kediri, Jawa Timur ini menggasak lima komposisi di album “The Last Swordsman” yang total berdurasi kurang lebih 45 menit.

Menurut unit melodic black metal/crust yang digerakkan oleh Adi Saputra (gitar/bass/dram) dan Ortega ‘Ega’ Franselino (vokal/lirik) ini, sangat wajar jika tidak ada lagu yang berdurasi di bawah enam menit.

“The Last Swordsman” sendiri seperti rangkuman dari tumpukan materi bangis yang telah mereka kumpulkan, sejak terbentuk tiga tahun lalu.

Endrøm merekam tentang beragam tindak penindasan dan konflik perampasan lahan yang kerap terjadi di sekitar kita. Di tengah keriuhan isu problematika tersebut, selalu ada sosok kesatria yang gugur di medan perang demi mempertahankan tanah kelahiran. Terkadang juga menahan rasa sakit demi sebuah kemenangan.

Obyek utama pada visual sampul album terpampang adanya pedang dan perisai sebagai simbol pertaruhan pada sebuah harapan. Meskipun merasa raga sudah terlalu lelah, namun tidak untuk jiwa yang selalu abadi dalam bara api yang terus menyala.

Di sisi lain, “The Last Swordsman” terlahir sebagai pengingat dan sekaligus mengenang rekan atau sahabat yang sudah terlebih dahulu menuju kastil keabadian.

Pengerjaan album itu sendiri menghabiskan waktu selama 11 bulan. Pada pengerjaan produksi rekaman, mixing dan mastering, semua dipercayakan kepada Hellroom Studio yang berbasis di kota Kediri.

Studio tersebut juga telah menjadi saksi bisu keseruan di balik layar proses eksekusi pada album sebelumnya, sebuah album mini (EP) berjudul “Finally Found the Light” yang dirilis 19 Januari 2024.

Kegilaan serta keseriusan Endrøm akan pengerjaan album satu ini terbilang bisa membangun kredibilitas sebuah band yang berprogres lebih cerdas dari tingkatan proses sebelumnya.

Potensi besar yang dimuntahkan terasa dalam serpihan detail di segala lini hingga menampilkan output luar biasa. Pemilihan setiap riff-nya pun cukup ampuh membawa nuansa album kian mencekam.

Inspirasi Film

Sebenarnya, Endrøm menuturkan kepada MUSIKERAS, sejauh ini sudah banyak band yang menerapkan penggabungan musik black metal, yang khas dengan penggunaan tremolo picking di gitar yang gahar dan melodi yang kelam dari elemen-elemen musik lain. Atau saat ini disebut post-black metal.

“(Tapi) Endrøm mencoba menggabungkan paduan musik melodic atmospheric crust punk dengan dentuman dram D-Beat yang bisa membangkitkan gairah dari jiwa-jiwa yang gelap dan sepi melebur menjadi spirit pemberontakan,” urai mereka, meyakinkan.

Dalam peracikan komposisinya, dua personel Endrøm mengakui mengambil dari berbagai sumber referensi. Dimulai dari film hinga garapan musik dari band-band mancanegara macam Dödsrit dan Martyrdöd (Swedia), Groza (Jerman) serta Mgla (Polandia).

“Kami juga mengadaptasi musik dari genre atmospheric black metal, dimana sound terlihat indah dan megah, seakan membawa ke dalam atmosfer langit yang luas, di atas gunung yang tinggi nan menjulang, lalu berlanjut diselingi dengan alunan melodi yang dibalut dengan suara vokal mecekam yang menjadi khas musik Endrøm yang kalian dengarkan saat ini.”

Hasil yang ekspresif itu diakui Endrøm mendatangkan tantangan tersendiri secara teknis. Karena saat perekaman, mereka benar-benar memperhatikan susunan komposisi musik agar mendapatkan rasa penuh emosional yang mampu larut dan meresap ketika didengar.

“The Last Swordsman” sudah tersedia dalam format digital di kanal Bandcamp dan kaset yang dirilis via label Harsh Productions sejak 7 Juli 2025 lalu. (mdy/MK01)

Susunan lagu “The Last Swordsman”:

  1. The Last Swordsman 06:12
  2. Oath of the Homeland 10:14
  3. The Lone Wolf 10:11
  4. The Shield of Victorious 07:17
  5. This Ocean is the Witness 11:48
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.