Threatened mengakui ada sedikit kesulitan dalam menentukan hardcore yang sesuai dengan karakter yang mereka mau, saat menggarap EP “Hatred”, lantaran belum ada ‘pakem’ yang mereka sepakati.
Khususnya saat menggarap “Untamable”, lagu pertama yang mereka buat untuk kebutuhan EP “Hatred”. Hal itu membuat proses kreatifnya paling menantang dibanding tiga lagu lainnya, yakni “Aimless Hatred”, “We Are Threatened” dan “Lawan”.
Alasan utamanya, seperti yang dituturkan Threatened kepada MUSIKERAS, karena lima orang personelnya yang tidak memiliki dasar atau latar belakang di musik hardcore, mencoba untuk membuat musik hardcore.
“Selain itu, karena lagu ini adalah lagu pertama dari Threatened, kami cukup susah untuk mengarahkannya menjadi musik hardcore yang seperti apa, karena belum ada ‘pakem’ untuk membuat musik hardcore yang memiliki karakter yang dimiliki oleh Threatened,” urai mereka, terus-terang.
Hasil akhirnya, vokalis Arip Sugianto, gitaris Irvan Sandy Fadilla dan Mohamad Firli Hidayat, dramer Yuda Rezalady serta bassis Julian Harfi Mubarok akhirnya menerapkan gaya New York hardcore yang diberi nuansa gelap.
“Dan justru, beberapa riff gitar terinspirasi dari band metalcore yang kami kombinasikan secara demikian, yang akhirnya menjadi EP ‘Hatred’ ini,” ujar pihak band lagi, menegaskan solusi dari konsep musiknya.
Proses kreatif penggarapan “Hatred” sendiri diproduksi dari lokasi yang terpisah. Irvan di Jakarta, Firli di Batang, Arip di Yogyakarta, sementara Yuda dan Julian menetap di Tegal.
Mereka saling mengirim data materi lagu yang akhirnya direkam di rumah masing-masing secara mandiri.

Terbentuk sejak 2021, Threatened yang berasal dari kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah ini lahir dari keresahan dan kejenuhan akan stagnasi. Mereka lantas memilih berekspresi di jalur hardcore sebagai medium pelampiasan, dengan sentuhan riff metal yang gelap dan agresif.
“Hatred” sendiri, bagi mereka bukan sekadar judul. Kata itu adalah pernyataan sikap. Lirik-liriknya menyerang balik segala bentuk represi, arogansi kekuasaan, dan sistem yang gemar membungkam.
Lagu “Aimless Hatred” menjadi peluru utama, sementara “We Are Threatened” (tonton video musiknya di tautan ini) mencatat sisi personal band saat pandemi: isolasi, tekanan, dan rasa tidak berdaya yang dijadikan bahan bakar untuk tetap melawan.
Dengan pengaruh dari band-band mancanegara seperti Hatebreed, Disrupted, Year of the Knife, Nails, Terror, Malevolence serta pahlawan lokal Burgerkill, Threatened hadirkan identitas sendiri yang keras, jujur, dan tak kompromi.
Mulai 20 Juli 2025, luapan kemarahan di EP “Hatred” sudah bisa dilantangkan di berbagai layanan pemutar musik digital. (mdy/MK01)