HATED: Albumnya Terpapar Nu-Metal dan Metalcore

Album debut HATED akhirnya dihujamkan, yang tajamkan peluru nu-metal, yang kobarkan isu sosial politik hingga kritik tajam terhadap pemerintah.
hated
HATED

HATED menandai tonggak penting perjalanan kariernya yang telah bergulir sejak era 2000-an, setelah sekian lama berproses di jalur musik keras dan penuh perlawanan.

Pada 30 Agustus 2025 lalu, unit keras yang diperkuat trio vokalis Chandra Sugiyarto (Chansug), bassis Ganjar Rukma serta gitaris Agthisa Wisnu ini telah melampiaskan sebuah album rekaman penuh, yang juga bertajuk “Hated”.

Di karya rekaman terbarunya ini, memuat deretan lagu yang mengangkat isu sosial, politik, aktivisme, serta keresahan atas ketidakadilan yang masih berlangsung.

Seperti yang diterapkan di salah satu trek andalannya, “Flabbergasted”, yang mengingatkan pendengar akan komposisi catchy nu-metal di masa MTV, namun tetap mengandung lirik kritis tentang situasi sosial politik saat ini.

Juga di trek “Matahari Tengah Malam” yang menolak lupa akan hilangnya para aktivis yang dibungkam oleh faksi-faksi tertentu. Begitu juga di “Lost Prophet”, yang menghadirkan kolaborasi bersama Luwarta yang menambah dimensi baru pada eksplorasi musik HATED.

“Album ini bukan cuma musik, tapi jeritan perlawanan. Semua keresahan kami tumpahkan di sini—tentang pemerintah, sistem, dan luka yang ditelan masyarakat setiap hari,” ujar Chansug, mewakili bandnya.

Dalam menjalani proses produksinya, para personel HATED mengaku menghadapi cukup banyak kendala. Khususnya dalam hal teknis, dimana pelaksanaannya harus menyesuaikan dengan aktivitas masing-masing personel serta jadwal penggunaan studio.

Mereka pertama kali mulai merekamnya pada 2023, dan baru berhasil diselesaikan pada pertangahan 2025 lalu. Proses rekamannya dilakukan di Cancer Studio dan Hiatus Records, dengan bantuan teknis dari Fidelis Altara dan Malik Sampurna.

“Kerangka musik dan konten lirik dibahas sambil nongkrong santai di rumah Chansug di Jakarta, lalu direkam di Solo. Awal-awal semua personel (melakukan) workshop sebelum rekaman. Berikutnya sesuai ketersediaan waktu masing-masing,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Tajam, Eksperimental

Nu metal tetap menjadi benang merah musik HATED secara keseluruhan, yang memang melatari selera serta referensi para personelnya, yang tumbuh dengan mendengarkan musik-musik era awal 2000-an.

“Kami aktif bermain musik di tahun-tahun 2003-2006 dengan pengaruh band-band referensi festival musik saat itu, namun juga banyak pengaruh nu-metal MTV tahun itu, serta juga sedikit banyak terpapar metalcore di periode 2008-2010-an.”

hated

Kombinasi itu, mereka sebut terwakilkan di lagu “Flabergasted”, yang lahir tanpa disengaja. “Ya mengalir saja,” cetus mereka meyakinkan.

Disamping itu, HATED melakukan reuni ketika pandemi Covid-19 melanda, dimana mereka banyak memainkan lagu-lagu milik band-band mancanegara macam Trivium, The Used, Slipknot, Muse, Red Hot Chili Peppers, Royal Blood, Primus hingga Mudvayne.

“Apa pun yang seru untuk mengisi saat itu. Kurang lebih band-band tersebut yang menjadi referensi kami saat membuat aransemen. Apalagi setelah itu, band-band tersebut banyak kami tonton karena mereka konser di South East Asia.”

Namun dari 10 trek yang mereka gelontorkan di album “self-titled”, mereka sepakat menunjuk “Deathpierce” sebagai lagu dengan komposisi yang paling menantang secara teknis saat mengeksekusi rekamannya.

Alasannya, merupakan lagu pertama yang mereka rekam, sekaligus menjadi rekaman pertama kali setelah cukup lama absen bermusik. Kemampuan teknis bermusik harus dilatih lagi, baru mulai bergairah kembali dan bingung bagaimana harus memulai workshop.

“Namun secara bersamaan merasa musik bisa jadi wadah menuangkan aspirasi atau inspirasi menjadi karya yang permanen. Lalu dibenturkan dengan bagaimana perkembangan fasilitas dan software rekaman akhir-akhir ini. Awalnya heboh sendiri, tapi ternyata bisa santai juga menjalaninya, sampai akhirmya selesai dan kami rilis semuanya.”

Satu hal yang pasti, di album penuh debutnya, mereka tetap menajamkan terapan riff berat, vokal rap-scream serta nuansa eksperimental, yang menggabungkan energi mentah dengan lirik kritis terhadap realitas sosial dan politik. Identitas musik yang mereka rangkum dalam tagline: ‘Seems Nu-Metal, Ain’t Metal’. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts