Retalition kali ini bekerja sama dengan label Edelweiss Record dari Jakarta dalam menyebarkan wabah “Sekepal Tanah Surga”. Jika sebelumnya unit cadas asal Jambi, Sumatera ini berkoar-koar soal kebobrokan di kehidupan sosial politik, kini mereka sedikit mengubah haluan pesan liriknya.
Kali ini, unit brutal death metal yang kini dihuni formasi vokalis Deri Okayama, gitaris Johanes Jo serta dramer Wigo Hernando ini ingin mengubah materi tentang pentingnya mengingat kembali sejarah budaya leluhur daerah mereka.
“Konsep death metal kami kali ini berbeda dibanding album kami sebelumnya. Sebelumnya, konsepnya tentang kritik sosial politik, dan sekarang kami mengubah ke konsep yang membawa unsur budaya leluhur daerah kami, yaitu sungai penuh kerinci,” seru pihak band kepada MUSIKERAS.
Sementara untuk acuan racikan musiknya, band bentukan pertengahan 2015 silam ini mengakui, kini lebih mengarah ke band-band mancanegara seperti Suffocation, Cannibal Corpse serta pahlawan dalam negeri macam Jasad dan Humiliation.
Lagu “Sekepal Tanah Surga” sendiri disiapkan Retalition sebagai pemanasan menuju perilisan album kedua. Proses penggarapan produksinya menghabiskan waktu selama satu bulan. Sementara eksekusi rekamannya dilakukan di Audio Control Studio, di kota Jambi.
Retalition merilis album penuh pertamanya pada 2017 silam, yang berjudul “Inspire The Moment”, diedarkan via label Rottenflash Record, dari Cilacap, Jawa Tengah.
Album ini memuat delapan amunisi ganas, termasuk lagu yang sebelumnya dirilis lepas pada 2016, “Mati Terpenggal”.
Di karya album debut tersebut, band ini masih kental mengedepankan raungan death metal yang terinspirasi band-band dunia seperti Dying Fetus dan jagoan Tanah Air, Kaluman.
Dua tahun kemudian, sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “Apparatus Defends Capitalists” dilampiaskan Retalition via label Rotten Record dari Blitar, Jawa Timur.
Kali ini, konsep death metal yang mereka geber ditingkatkan menjadi jauh lebih berbahaya. Menerapkan racikan brutal death metal yang sedikit banyak berkiblat ke band-band model Cenotaph (Turki), Devourment (AS) serta dua monster dari Bandung, Jasad dan XTAB. Konsep inilah yang dipertahankan hingga hari ini.
Setelah peluncuran “Sekepal Tanah Surga”, Retalition berencana melanjutkan proses penggodokan produksi album penuh keduanya, yang sempat tertunda lantaran terjegal kesibukan masing-masing personel. (mdy/MK01)