Endgate meluncurkan “Ballad of Broken Reality” yang beramunisikan sembilan trek sarat ekspresi perjalanan atmosferik nan apokaliptik.
Unit metal asal Gianyar, Bali ini merangkai gugusan doa yang hangus dan serpihan dari kesadaran yang membusuk. Raungan, ambient dan kerusakan sonik dirangkai menjadi liturgi gelap.
Sebuah elegi bagi luka batin, keterasingan spiritual serta realitas yang tak bisa lagi diselamatkan.
Di komposisi seperti “Eternal Wound”, “Belenggu Purnama” dan “The Savior Won’t Save Anything” menjadi perlawanan terbuka terhadap dogma, makna semu dan harapan kosong.
Sedangkan di lagu “Empty Poem” dan “Florem Mortem”, Endgate menghadirkan keheningan pahit dan ruang menerima kehancuran sebagai akhir yang sah.
“… We live with eternal wounds. Hurt. Forever with pain….”
“Ballad of Broken Reality” sendiri direkam vokalis Adhimas Haryo (Dhimas), gitaris Gusti Ngurah Wanda (Rahtu) dan Dewa Alit Putra (Alit), bassis Wayan Adi Putrawan (Pura) serta dramer Ida Bagus Nanda (Nanda) di Fantazyreborn Records dan House Records.
Masing-masing dipandu oleh Gus Cilix dan Ray Febriady untuk pengoperasian secara teknis. Sementara proses mixing dan mastering dipercayakan kepada Pandora Labs sebagai dapur pengolahan suara yang mempertegas intensitasnya.

Keindahan, Kehancuran
Kepada MUSIKERAS, mereka menyebut konsep yang diterapkan menyatukan post-metal, ambient, neocrust dan hardcore. Perpaduan agresi ekstrem metal dan atmosfer melankolis yang dirangkai dalam bentuk balada gelap.
“Setiap lagu ditulis seperti fragmen puisi simbolis tentang kehampaan, luka, dan realitas yang retak sehingga keseluruhan album terasa sebagai satu ritus sonik daripada sekadar kumpulan lagu,” urai mereka menjelaskan.
“Dengan estetika gelap sekaligus kasar, album ini menghadirkan katarsis di tengah kekacauan, mengajak pendengar menemukan keindahan di balik kehancuran.”
Dalam proses peracikan aransemen lagu-lagunya, Endgate menyerap beberapa referensi, di antaranya dari band-band dunia macam Dissection dan Entombed (Swedia), Fall Of Efrafa (Inggris), Omega Massif (Jerman), Amenra (Belgia) hingga Sadness dan Sunn O))) (AS).
“Kami mencoba menggabungkan elemen dari beberapa genre di antara sludge, drone, blackgaze, Swedish death metal, neocrust dan post-metal,” seru pihak band menambahkan.
Lalu, dari sembilan trek yang menyesaki album, Endgate menemukan tantangan teknis yang cukup berarti di komposisi “Eternal Wound”, dimana dalam proses produksinya terdapat pengulangan rekaman beberapa kali.
“Karena tempo (lagu) yang lambat dan repetitif serta isian aransemen yang berlapis dan intens membuat beberapa kali harus mengulang bagian gitar, vokal dan bass untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.”
Sejak 17 Agustus 2025 lalu, “Ballad of Broken Reality” selengkapnya sudah terhidang di kanal Bandcamp.
Sementara video musik salah satu lagunya yang bertajuk “Florem Mortem” juga sudah bisa ditonton via tautan kanal YouTube resmi Skullism Records ini. (mdy/MK01)