CHESTIER BELT: “Kami Tidak Terikat dengan Konsep”

Bukan sekadar berondongan hardcore, tetapi album terbaru Chestier Belt adalah perjalanan dari luka, kebencian, perlawanan, hingga persatuan.
chestier belt
CHESTIER BELT

Chestier Belt akhirnya melesatkan album terbarunya yang bertajuk “Reforge To Be Stronger” hari ini.

Sebelumnya, unit hardcore asal Pulau Dewata, Bali ini memanaskan jalan menuju album dengan meluncurkan tiga komposisi lepas bertajuk “One Last Revenge”, “See Through Danger” dan “Mind Your Step”.

Dalam lirik-liriknya, Chestierbelt menegaskan bahwa rasa sakit dan tekanan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kekuatan. Amarah menjadi bahan bakar, balas dendam menjadi pembuktian, dan solidaritas menjadi fondasi.

Di tengah teriakan, pit yang membara, dan semangat tanpa kompromi, muncul pesan kuat: tidak peduli ancaman, ejekan, atau perbedaan, hardcore adalah tempat di mana kita ditempa, diperkuat, dan dipersatukan.

Bagi band yang digerakkan formasi vokalis I Gede Made Visnha Palguna (Visnha), gitaris I Gede Putu Susila Dananjaya (Susila) dan Gusti Agung Prasta Bisana (Prasta), bassis Riski Adi Pratama dan dramer Gusti Agung Odya Wisesa (Odya) ini, “Reforge To Be Stronger” adalah sebuah refleksi nyata.

Bahwa hidup keras, penuh konflik, namun justru dari situlah manusia bisa ditempa ulang, lebih kuat, lebih tajam, lebih setia pada diri sendiri.

Chestierbelt menghadirkan album tersebut sebagai teriakan kolektif: tentang keberanian menolak tunduk, tentang persaudaraan yang melampaui perbedaan, dan tentang semangat untuk terus berdiri meski dihantam berkali-kali.

Perjalanan menuju perilisan album yang disesaki sembilan amunisi panas membara diawali band ini lewat lagu “One Last Revenge”, yang dirilis pada 15 Agustus 2025 lalu. Lalu “See Through Danger” yang dirilis pada 22 Agustus, dimana Chestier Belt meluapkan energi sarat amarah, riff berat, serta entakan beatdown mematikan yang siap mengguncang pit.

Yang ketiga, “Mind Your Step” menghadirkan warna yang sedikit berbeda dibanding dua lagu sebelumnya. Kali ini lebih menonjolkan karakter yang lebih ‘ceria’ dan ‘menyenangkan’, namun tetap digeber dalam jiwa hardcore yang membara.

chestier belt

Suara Mulut

Proses kreatif penggarapan lagu-lagu tersebut, dituturkan pihak Chestier Belt kepada MUSIKERAS, menerapkan metode yang kurang lebih sama. Dimulai dengan mengotak-atik aransemen musiknya, setelah itu baru disusul dengan penulisan lirik yang dipercayakan kepada sang vokalis.

Dalam penggarapan aransemennya, mereka mendapatkan ide-ide yang biasanya muncul dengan spontan dan tidak kenal tempat dan waktu.

“Contoh, kadang kami mendapatkan riff pendek atau drum pattern pendek pas kami masih di jalan bawa motor abis pulang kerja. Atau kadang di toilet sambil mandi, atau kadang pas lagi mancing tiba-tiba ada aja ide riff datang…,” urai mereka.

Nah, biasanya, ide-ide itu langsung mereka rekam di ponsel menggunakan suara mulut. Setelah itu baru dilanjutkan direkam untuk peracikan aransemennya.

“Kebetulan kami produksi sendiri musiknya, dan gitaris kami, Susila paham dengan (teknis) perekaman, dan biasanya ide musikalnya sebagian besar (datang) dari dia.”

Sementara untuk penulisan lirik lagunya, vokalis Chestier Belt biasanya membuatnya dengan menggunakan bahasa Indonesia terlebih dahulu. Setelah itu barulah dibantu seorang teman untuk mengaplikasikannya ke dalam Bahasa Inggris.

Sama seperti penggarapan ide riff atau aransemennya, dalam penentuan konsep musik keseluruhan, para personel Chestier Belt juga mengandalkan spontanitas. Sejak awal, mereka menegaskan tidak terikat pada sebuah konsep tertentu.

“Kami tidak ada ide untuk menjadi berbeda dengan mengambil refrensi band ini band itu atau band apa. Penggarapan (musik) kami murni dari ide spontan saja. Mungkin di tiap momen kami terpengaruh dari musik siapa… karena kami sering denger band-band yang berbeda… tapi itu tidak kami sadari.”

Namun kalau pun harus menyebut nama band-band yang kemungkinan memberi pengaruh, bisa dilihat dari daftar lagu (playlist) yang kerap mereka dengarkan. Misalnya Susila, yang sering mendengarkan band hardcore seperti Gaijin, OuttaPocket, Knocked Loose, Speed, End It, dan beberapa band slamming seperti Peeling Flesh dan Spawn Of Disgust.

Sementara Visnha sejak awal sangat menyukai karakter Scott Vogel, vokalis band Terror (AS). “Kayaknya dia niru karakter suara dari vokalis Terror,” seru band ini mengakui.

Menerapkan metode pembuatan lagu yang serba spontan, tanpa melewati proses jamming, membuat penggarapan lagu-lagunya menciptakan tantangan tersendiri secara teknis. Contohnya di lagu “One Last Revenge” yang sempat beberapa kali mengalami perombakan aransemen.

Namun uniknya, lantaran terpicu target untuk perilisan album, aransemen “One Last Revenge” mendadak bisa dirampungkan hanya dalam waktu sehari. Padahal sebelumnya, sempat dirombak beberapa kali karena dirasa tidak memuaskan. Bahkan sempat terlupakan.

Sementara oleh Visnha, penulisan lirik dan tema untuk lagu “See Through Danger” dan “One Last Revenge” menjadi sesuatu yang baru, menarik sekaligus tersulit. Ia mengaku dibantu oleh rekannya dalam menyempurnakan serta mencari sudut pandang kedua.

“Kedua lagu ini memakan waktu yang lebih lama sampai akhirnya take vokal final dalam keterbatasan waktu yang benar-benar terbatas,” cetusnya meyakinkan.

O ya, untuk kebutuhan panggung sementara ini, Chestier Belt hanya diperkuat oleh Susila, Prasta dan Odya, karena Visnha dan Riski sedang bekerja di luar negeri.

“Jadi kami dibantu oleh bassis dari Story Of Wednesday, Roy sebagai additional player, dan untuk vokalis dipegang oleh gitaris kami, Susila.”

Album “Reforge To Be Stronger” dalam format digital diluncurkan via Atlas Records, label independen asal Semarang, Jawa Tengah.

Ke depannya, Chestier Belt telah mencanangkan rencana untuk menjalankan tur di kawasan Asia Tenggara serta beberapa kota di Pulau Jawa. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.