Eternal menutup perjalanan trilogi kisah mereka lewat rilisan lagu terbaru, berjudul “Before I Fall”, dimana liriknya menggali masa lalu sang tokoh. Menunjukkan kehidupan bahagia yang perlahan runtuh hingga akhirnya membawa pada tragedi di “End Game”.
Unit nu-metalcore asal Bandung, Jawa Barat ini mengungkap rangkaian cerita sinematik tentang perjalanan seorang tokoh yang berjuang menghadapi kehancuran, amarah, hingga kembali ke titik asal-usul sebelum semuanya runtuh.
“End Game” menandai awal kisah dengan nuansa penuh keputusasaan dan perjuangan yang gagal. Sementara di “Never Break Down” menjadi teriakan amarah, keteguhan hati dan penolakan untuk menyerah. Berisi kemarahan dan tekad untuk bangkit meskipun luka masih terasa.
Di lagu kedua tersebut, Eternal berkolaborasi dengan rapper asal Bandung, Crvzy dan screamer Aep Puddin (Naladipha).
Sementara di eksekusi rekaman lagu ketiganya, vokalis Praba Bagaskara Azzis (Bagas), rapper Eric Agustinus, gitaris Eldi Hasbi dan Arief Goco, bassis Dery Frasetia dan dramer Edwin Satria kembali menghadirkan kolaborator.
Kali ini mengajak vokalis Renjana ‘Asa’ Kusumah dari band metalcore DWF (dulu Dead With Falera). Kombinasi kedua pihak menghadirkan sisi emosional paling dalam dari trilogi.
Alasan mengajak Renjana sendiri, diungkapkan Eternal kepada MUSIKERAS, didasari alasan karena karakter vokalnya sangat pas untuk mengisi bagian yang sengaja dikosongkan oleh Bagas pada saat membuat musik.
“Yang kedua, karena Bagas sudah kenal dengan Renjana, yang memang (sebelumnya) mereka berdua sudah tergabung di band DWF.”
Dengan kombinasi vokal clean, rap cepat, scream bertenaga dan musik yang sinematik untuk trilogi ini, Eternal membangun identitas khas yang membedakan mereka di kancah musik keras Tanah Air.
Walau menurut pengakuan mereka, racikan komposisi serta aransemen “Before I Fall” sedikit melenceng dari paham musik Eternal. Khususnya jika dibandingkan dengan dua lagu sebelumnya.
“Ada campuran dari Adele, Michael Jackson, kemudian ditambahkan nuansa Linkin Park, Slipknot dan juga Falling in Reverse,” seru pihak band menegaskan.

Suntikan Hiphop
Berbeda dibanding dua lagu sebelumnya dimana biasanya materi dimulai dari Eldi sang gitaris, “Before I Fall” ditulis langsung oleh Bagas. Liriknya, sebenarnya sudah tertoreh sejak 2024 lalu.
Kemudian, Bagas membuat panduan musik untuk lagu ini, mencari pola alunan untuk nada vokalnya, dan melakukan beberapa penyesuaian di lirik untuk menyesuaikan dengan musik dan konsep Eternal.
“Karena sebenarnya Bagas menulis lirik ini awalnya untuk band DWF. Setelah rampung, lagu lantas melalui proses finishing oleh Eldi.”
Dalam peracikan musiknya, tensinya dibuat santai pada bagian awal, lalu berubah menjelang sepertiga akhir lagu. Menurut Eternal, lagu ini seolah mendeskripsikan sebuah anthem buat mereka (pendengar) yang sudah tidak bisa merasakan kasih sayang kedua orangtua.
“Dan yang membuat Eternal berbeda dibanding band metalcore pada umumnya adalah Eric. Rap-nya menambah warna pada musik dari Eternal sendiri. Kami merasa cross-genre dari metalcore dan hiphop ini cukup unik untuk musikalitas kami.”
“Buat saya pribadi, trilogi ini bukan cuma cerita musik, melainkan menjadi gerbang bagi Eternal masuk lebih dalam ke industri musik Indonesia. Ini adalah fondasi sebelum kami merilis karya yang lainnya yang lebih besar di 2026 nanti,” seru Bagas menambahkan.
Usai perilisan trilogi, Eternal juga tengah merampungkan sebuah lagu daur ulang (cover), sebuah interpretasi dari band mancanegara, plus menyiapkan materi-materi untuk kebutuhan sebuah album. Rencananya, album yang akan memuat 10 lagu tersebut ditargetkan rilis tahun depan. (mdy/MK01)