Morphose telah meluncurkan karya rekaman terbarunya, “Last Breath” yang emosional, berbicara tentang perjuangan menghadapi depresi, rasa putus asa, dan tekad untuk terus bertahan hidup.
“Last Breath” bukan sekadar lagu, tetapi sebuah manifesto perlawanan. Dengan lirik seperti ‘If I fall, I fall as fire / Not fading out… but burning higher!’, unit metalcore asal Semarang, Jawa Tengah ini mengajak pendengarnya menolak menyerah. Bahkan ketika dunia terasa runtuh.
Lagu ini adalah suara dari jurang paling gelap, namun sekaligus cahaya yang menegaskan bahwa masih ada alasan untuk terus bernapas.
Gitaris Ardu Fitrah Insani mengungkapkan bahwa lagu tersebut mereka tulis untuk siapa pun yang pernah merasa ingin menyerah. “Kami ingin bilang: kalian tidak sendirian. Bahkan di titik terendah, masih ada kekuatan untuk bangkit!”
“Last Breath” yang penggarapan produksi rekamannya dieksekusi di markas Morphose sendiri selama kurang lebih sebulan tersebut, ditulis saat melihat isu-isu tentang maraknya kasus gangguan kesehatan mental, yang berawal dari tugas kuliah.
“Sampai kami tulis menjadi sebuah lirik emosional untuk para pendengar agar tidak menyerah dan terus tetap hidup,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, kembali menegaskan.

Refleksi Keberanian
Pesan itu, lantas disampaikan lewat racikan metalcore yang dibangun riff agresif, vokal penuh energi serta hentakan dram yang membangun atmosfer tegang, namun membebaskan.
Dentuman khas metalcore berpadu dengan nuansa emosional, menghadirkan katarsis bagi siapa pun yang sedang berjuang melawan diri sendiri.
Dengan akar metalcore yang kuat, Morphose menghadirkan musik bukan hanya sebagai pengiring mengayun-ayunkan kepala (headbang), tapi juga untuk refleksi dan keberanian menghadapi realita.
Morphose yang kini diperkuat barisan formasi gitaris Ardu dan Mohammad Risky (Moki), vokalis Widhi Tri Anggono, bassis Anggita Aji Pangestu (Pang) serta dramer Fardan Ibnu Ikhsandi (Jendol) menerapkan konsep metalcore model klasik di “Last Breath”.
“Namun tetap mengandung unsur emotion dan melodic modern,” cetus mereka.
Namun demikian, mereka meraciknya sedikit berbeda. Bagian vokal clean yang biasanya lazim diterapkan di metalcore mereka hilangkan.
“Kami tidak menambah bagian itu dan membuat metalcore kami begitu gelap, tapi tetap bisa dicerna melalui aransemen yang melodius dan emosional. Kami memberi sentuhan referensi (musik) dari Burgerkill, Lorna Shore dan Counterparts.”
“Last Breath” yang diedarkan via Atlas Records sendiri mejadi salah satu nomor pemanasan bagi Morphose, sebelum bersiap-siap meluncurkan album mini (EP) debutnya, awal tahun depan.
Sejauh ini, proses produksi telah mencapai 30% dari keseluruhan materi yang dibutuhkan. (mdy/MK01)
kelas king