MAN SINNER: “Skatepunk Bukan Cuma Soal Kecepatan!”

Usai vakum tiga tahun, Man Sinner menandai kemunculannya lewat “Akhiri Perpecahan”, sambil menyiapkan peluru tunggal terbaru bertajuk “Kembali”.
man sinner
MAN SINNER

Dengan energi baru, lirik yang tajam dan semangat yang tak pernah padam, Man Sinner akhiri masa istirahatnya dengan meluncurkan “Akhiri Perpecahan” sebagai penanda kehadirannya.

Sebelumnya, unit skatepunk asal Jakarta ini menghilang dari peredaran selama tiga tahun. Kini mereka kembali, siap meramaikan berbagai panggung.

Band yang digerakkan formasi vokalis/gitaris Achmad Alwan Damanik, gitaris Agga Satria Prabowo, bassis/vokalis latar Nero Riansyah dan dramer Agung Bahtiar ini tidak hanya membawa musik.

Tetapi juga pesan: bahwa di tengah dunia yang semakin terpecah, suara-suara dari bawah tetap bisa bersatu dan bersuara lantang.

Dalam tuturan liriknya, lagu “Akhiri Perpecahan” menyuarakan keresahan atas maraknya diskriminasi sosial, ras, dan agama yang kian mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Lebih dari itu, lagu itu juga menjadi refleksi terhadap perpecahan yang kerap muncul bahkan di dalam komunitas musik itu sendiri. Bagi para personel Man Sinner, musik adalah medium perjuangan, bukan sekadar hiburan.

O ya, “Akhiri Perpecahan” sendiri sebenarnya bukan lagu baru. Sebelumnya, karya yang menghadirkan kolaborasi Man Sinner dengan M Hanifian aka Fyan Sinner, vokalis dari unit punk rock asal Yogyakarta, Rebellion Rose tersebut sudah termuat di album penuh, “Bumi Menangis” yang diedarkan pada 6 November 2020 silam.

Perpaduan vokal antara Man Sinner dan Fyan menciptakan dinamika yang kuat, seolah menjadi dialog dua suara dari dua kota yang berbeda, namun memiliki keresahan yang sama. Liriknya lugas dan langsung, tanpa basa-basi, namun tetap menyisakan ruang untuk interpretasi dan refleksi.

Kolaborasi ini bukan sekadar strategi musikal, melainkan bentuk nyata dari semangat kolektif yang selama ini menjadi napas utama skena punk, yakni solidaritas, persatuan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

“Setelah tiga tahun diam, kami merasa waktunya untuk kembali. Lagu ‘Akhiri Perpecahan‘ jadi pengingat bahwa semangat punk bukan cuma soal musik cepat dan lantang, tapi juga tentang menyatukan perbedaan dan saling dukung,” ujar pihak Man Sinner meyakinkan.

Refleksi Personal

Kembalinya Man Sinner tentu tidak berhenti pada lagu “Akhiri Perpecahan”. Mereka kini tengah menyiapkan perilisan sebuah lagu baru berjudul “Kembali”, yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat.

“Kami mulai kembali ke studio dengan semangat baru,” seru mereka kepada MUSIKERAS.

“Prosesnya lebih emosional — lagu ini semacam pernyataan kami bahwa Man Sinner benar-benar kembali. Prosesnya lebih cepat karena chemistry antar personel sudah mulai terbentuk lagi setelah lama tidak bermain bersama.”

Dari segi musikal, band ini menegaskan tetap mengedepankan semangat skatepunk klasik yang cepat, enerjik dan penuh semangat. Namun di sisi lain, juga menyuntikkan sentuhan modern dalam pengolahan mixing serta dinamika aransemen.

Saat meracik komposisi serta aransemen lagunya, mereka mengakui banyak terinspirasi dari band-band mancanegara seperti Mute (Kanada), Millencolin (Swedia), No Use For A Name (AS), Blink-182 (AS), Hi-Standard (Jepang) hingga Bodyjar (Australia).

“Tapi kami juga mengambil warna dari skena lokal — semangat DIY dan solidaritas dari band-band Indonesia seperti Superman Is Dead, Rosemary, SATCF (Snickers And The Chicken Fighter) dan Rebellion Rose. Kami mencoba menggabungkan semangat itu dengan karakter khas Man Sinner yang lebih lugas dan sing-a-long friendly.

Jika lagu “Akhiri Perpecahan” merupakan seruan untuk bersatu, maka lewat “Kembali” menjadi bentuk refleksi personal dan kolektif atas perjalanan Man Sinner selama ini.

Sebuah pernyataan bahwa mereka tidak hanya kembali, tetapi juga siap melangkah lebih jauh, dengan formasi yang lebih solid, keberanian yang lebih besar, dan komitmen yang tetap teguh pada semangat skatepunk.

“Yang membuat Man Sinner berbeda mungkin ada di cara kami menulis lirik: selalu ada pesan yang membangun, soal pertemanan, perjuangan, dan kebersamaan. Kami ingin skatepunk bukan cuma soal kecepatan atau energi, tapi juga tentang nilai-nilai yang membentuk komunitas itu sendiri.”

Di tengah gempuran tren musik digital dan budaya instan, kehadiran band seperti Man Sinner menjadi pengingat bahwa musik masih bisa menjadi alat perjuangan, ruang ekspresi, dan sarana membangun solidaritas. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts