UNDERGROUND TOWER: Eksplorasi Swedish Chainsaw Tone

Di album mini (EP) terbarunya, Underground Tower mengeksplorasi kombinasi elemen beringas, yang membalut komposisi “Dibungkam” dan “Toleransi”.
underground tower
UNDERGROUND TOWER

Underground Tower atau kerap pula disingkat UxT membantai kuping lewat karya rekaman terbarunya. Sebuah EP bertajuk “Dibungkam”, yang dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2025 lalu.

Ada dua lagu berhulu ledak tinggi yang menyesaki kemasan EP tersebut, masing-masing berjudul “Dibungkam” dan “Toleransi”. Di sini, band asal Jakarta ini mencoba menajamkan eksplorasi aransemen cadas yang mengarah ke formula Swedish death metal, atau Swedish Chainsaw Tone.

Gitaris Arik Andrie Jayaputra (Arik), vokalis Slamet Riyadi (Slam), bassis Ade Tirza Irawan (Ade) dan dramer Iksan Syukur Nasrun (Ican) menggarap produksi EP “Dibungkam” selama sekitar satu bulan. Direkam di Benji Studio, Bekasi, dengan bantuan Pemil untuk penataan teknis rekamannya.

“Proses kreatif lebih ke on the spot dan pada saat jamming live dengan kerangka dasar berupa pattern gitar,” ujar pihak Underground Tower kepada MUSIKERAS.

Band yang telah menggeliat di skena ‘bawah tanah’ sejak 1995 silam ini menegaskan bahwa di karya EP terbaru mereka, konsep musikalnya menajamkan persilangan (crossover) beberapa sub-genre dalam musik ekstrem. Racikan yang menegaskan keunikan Underground Tower.

Mereka antara lain menyerap pengaruh dari band-band mancanegara seperti Entombed, DRI, Rotten Sound, Nails, Kreator, Nasum, Slayer hingga Napalm Death.

“Karena kami menggabungkan beberapa elemen dari crust punk, grindcore, death metal dan doom dalam satu nuansa Swedish Death Metal atau disebut Swedish Chainsaw Tone. Itu yang membuat kami berbeda,” seru mereka.

underground tower

Di luar urusan musik, departemen lirik terbilang cukup menantang bagi para personel band ini. Lumayan banyak menyita waktu, lantaran beberapa kali harus melakukan revisi.

Contohnya di lirik lagu “Dibungkam”, yang berawal dari hasil tulisan Ade. Namun akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, dilakukan revisi oleh Arik dan Slam.

“Karena untuk mendapatkan karakter vokal dan isi lirik yang perlu lebih dalam untuk menjiwai secara harafiah. (Tapi) Secara keseluruhan, kami puas dengan hasil akhir rekaman dan sesuai yang diharapkan.”

Saat ini, para personel Underground Tower tengah menyiapkan hajatan khusus untuk menandai perilisan EP “Dibungkam”. Juga ada rencana untuk menggelar showcase dan tur mini untuk mempromosikan EP tersebut.

Pihak Underground Tower juga berharap bisa mengikat kerja sama dengan label rekaman yang berminat untuk menampung mereka untuk merilis album penuh yang tengah dipersiapkan.

“Kami sedang mempersiapkan materi album penuh yang rencananya (memuat) 10 lagu. Kini sudah ada progres beberapa materi aransemen lagu baru.”

Sebelum EP “Dibungkam”, Underground Tower telah merilis EP bertajuk “Hiatus” yang dirilis pada 16 Juli 2021, yang tersedia di kanal Bandcamp.

Selain itu, juga sempat terlibat di album kompilasi seperti “Telinga Rusak Vol.1: Tribute Napalm Death” (Juni 2023) dan “Bebas Merdeka Vol. 6” (Agustus 2021). (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts