Blood The Face kembali menunjukkan taringnya lewat karya rekaman tunggal terbaru yang disemburkan dengan aransemen yang emosional. Mereka menghadirkan atmosfer yang intens—perpaduan antara keindahan dan kehancuran.
“Dialogue” – judul lagu barunya – mengajak pendengar untuk larut dalam konflik batin yang dalam, khas dengan warna post-hardcore yang tetap enerjik namun sarat makna.
Sementara lewat liriknya, dramer Muammar (Amar), bassis Asep Sarifudin (Vsev), vokalis Aji Pratama dan gitaris Akuswendi (Voutt) bercerita tentang seseorang yang menghadapi kehancuran karena penyakit yang dideritanya.
Dalam keputusasaan, ia memilih memendam segalanya sendiri dan bahkan bersikap destruktif agar orang yang dicintainya menjauh. Sebuah bentuk cinta yang ironis dan menyakitkan.
“Harapan kami, lagu ini bisa menjadi jembatan emosional bagi siapa pun yang pernah merasa sendirian dalam penderitaan mereka,” ujar Voutt. “Kami ingin musik ini berbicara di saat kata-kata tak lagi cukup.”

Japanese Rock
Proses penggarapan produksi “Dialogue” digarap Blood The Face di Magemasher Lab Record, sementara tahap mixing dan mastering ditangani oleh Ricky Aprianto dari Rostel Records.
Di tahapan awal, menurut tuturan Blood The Face kepada MUSIKERAS, mereka terlebih dahulu menentukan arah dan komposisinya, agar bisa jadi bagan lagu.
“Selanjutnya kami mencari isian-isian intrumen agar lagunya lebih variatif. Selama kurang lebih dua bulan single terbaru ini kami garap di Magemasher Records dan di Nous Room untuk vokal.”
Bagaimana para personel Blood The Face menggambarkan kombinasi keindahan dan kehancuran di komposisi musik “Dialogue”?
“Kami memadukan keindahan di clean vocal pada pre-chorus dan chorus serta kami masukkan kehancuran di breakdown part. Yang membedakan lagu ini dari lagu sebelumnya yaitu beat-nya yang cepat dan sound-nya lebih variatif.”
Saat peracikannya, Blood The Face ini mengakui menyerap referensi dari band-band rock dan metal asal Jepang seperti One OK Rock, My First Story, Coldrain serta Crossfaith.
Dari “Dialogue” yang menjadi jalan pembuka, band yang telah aktif di skena musik keras sejak 2010 ini selanjutnya mulai berkonsentrasi menggarap materi lagu lainnya untuk kebutuhan album.
“Sampai hari ini kami sudah menyiapkan empat lagu yang sudah setengah jalan. Rencananya album kami rilis di pertengahan 2026 dengan delapan track musik dan dua intrumental.”
“Dialogue” sudah diedarkan ke berbagai kanal digital via Coexist Music. Sementara untuk video musiknya, bisa ditonton di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)