Dinasty berhasil menghindar dari keruntuhan dengan terus mempertahankan eksistensi yang telah dibangun sejak 2002 silam. Bulan depan, sebuah album terbaru bertajuk “Kirik” akan mereka rilis dalam format digital dan fisik.
“(Band) Kami sangat layak dipertahankan, karena kami masih sangat ingin menyuarakan keresahan, kritik, protes untuk negeri ini lewat jalur musik yang kami pegang,” seru pihak band kepada MUSIKERAS menegaskan.
Dan memang, di album “Kirik” yang memuat tujuh amunisi yang kental akan geberan distorsi hibrida grindcore dan metal tersebut, Dinasty menumpahkan unek-unek tentang kehidupan sosial dan isu negara.
Menurut band yang kini dipacu oleh formasi vokalis Bagas Pandega (Bagas), gitaris Dharmawan (Mawa), bassis Syahrudin Anwar (Toink) dan dramer Ramdhani Wijatniko (Dani) ini, pesan tersebut tercermin dari pemilihan judul albumnya.
Kata ‘kirik’ berasal dari bahasa Jawa, yang berarti anak anjing. Lalu, kata ‘kirik’ juga kerap digunakan sebagai bentuk halus atau penghalus dari kata makian ‘asu’ (anjing) dalam bahasa daerah.
“Prilaku utama anak anjing ‘menjilat’, sering dilakukan manusia untuk memuluskan segala tujuan hidup. Salah satunya upaya mendapatkan jabatan kekuasaan dalam waktu singkat,” cetus mereka.
“Kirik” sendiri digarap rekamannya pada awal 2024, namun sempat tertunda lantaran terhadang beberapa kendala. Termasuk kesibukan masing-masing personelnya.
Proses rekaman yang dieksekusi di K Studio dilakukan dengan terapan metode multi track. Setiap instrumen direkam secara terpisah, dengan materi awal pada instrumen dram yang direkam dengan bantuan guide music serta metronome sebagai acuan.
“Kemudian dilanjutkan dengan bass dan gitar. Setelah semua instrumen selesai, (lalu) dilakukan mixing sementara, kemudian take vokal untuk mengisi di semua musik yang sudah jadi tersebut.”
Setelah keseluruhan proses rekaman berhasil dirampungkan, materi album lalu dipoles di tahapan mixing dan mastering pada pertengahan 2025 lalu.

Terkesan Berisik
Walau melabeli diri sebagai penganut paham grindcore, namun Dinasty mengeksplorasi musiknya di “Kirik” ke formula yang lebih luwes.
Beberapa unsur yang biasanya terkandung di dalam grindcore, seperti punk, metal, hardcore dengan tipikal musik yang cepat dan ketukan khas punk (D-beat) serta beberapa elemen beatdown tetap membalut keseluruhan musiknya.
“Konsep Dinasty di album ini, (adalah) grindcore yang cenderung ke arah metal, dan ada beberapa part ‘gelap’,” ucap personel band asal Bekasi ini meyakinkan.
Akan tetapi, mereka tetap berusaha tidak menghilangkan unsur grindcore sebagai acuan utamanya.
“Kami mengisi vokal dengan throat dan scream sebagai isian materi di track agar terkesan berisik dan chaos. Dalam karakter vokal, kami memiliki tipikal vokal yang masih ‘jelas’ untuk didengarkan dengan harapan pesan lagu dapat tersampaikan pendengar.”
Dalam peracikannya, band ini secara spesifik menyebut banyak mendengarkan materi grindcore lawas dari monster lokal macam Tengkorak (Jakarta) dan AK//47 (Semarang) sebagai referensi.
“Mereka sangat berperan dalam menginspirasi materi lagu-lagu kami.”
Sementara referensi dari mancanegara, Dinasty menyebut band-band macam Napalm Death, Phobia, Pig Destroyer, Grid hingga Animosity sebagai acuan.
Tujuh lagu beringas menggerinda yang disemburkan, masing-masing berjudul “Tanahku Milik Negara”, “Pesta”, “Kirik”, “Bhineka Tunggal Ika”, “Retorika”, “Menang” dan “Kontroversi”.
Walau mereka menyebut semua lagu menantang saat pengeksekusian rekamannya, namun bagi Dinasty, adalah komposisi “Retorika” dan “Kirik” yang memberi cukup kesan.
“Karena dua lagu itu memiliki durasi yang agak panjang dari beberapa materi kami, dan banyak part dengan kerapatan vokal yang bervariasi,” tutur mereka beralasan.
Album “Kirik” bakal dirilis dalam format kaset pita via Lumbung Padi Records, lalu dalam kemasan cakram padat (CD) via Edelweis Records dan melalui kanal Soundcloud untuk format digital. (mdy/MK01)