Distorsi Terakhir di Kridosono, JOGJAROCKARTA FESTIVAL Siapkan Perpisahan Megah

Pesta JogjaROCKarta dipanaskan kembali, sekaligus menjadi momentum penutup era bagi salah satu ikon musik dan budaya di Yogyakarta.
jogjarockarta

JogjaROCKarta Festival dipastikan kembali membakar semangat para pemuja musik-musik berdistorsi keras pada 6–7 Desember 2025 mendatang. Tahun ini, salah satu pesta musik terbesar tersebut menandai penyelenggaraannya yang ke-8, sejak debutnya pada 2017 silam.

Tapi kali ini, rupanya juga menjadi babak terakhir bagi JogjaROCKarta Festival digelar di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Sekaligus menjadi momentum penutup era bagi salah satu ikon musik dan budaya di Yogyakarta tersebut.

Di tengah perayaan megah bertajuk “The Majesty of Rock Crowned in Jogja”, festival ini juga menggandeng Dwiky KA, seorang ilustrator dan seniman visual asal Surabaya untuk berkolaborasi.

Nama Dwiky KA dikenal luas lewat gaya visual yang khas: perpaduan warna pop yang keras dengan nuansa subkultur metal, humor lokal, dan energi ekstrem khas jalanan.

Ia pernah mencuri perhatian dunia ketika menjadi seniman Indonesia pertama yang berkolaborasi dengan Vans dalam koleksi global pada 2021, serta tampil sebagai featured artist dalam program Zodiac Artist Series di tahun berikutnya.

Karya-karyanya sering disebut mewakili paham ‘extreme pop’ yang menyandingkan keceriaan visual dengan ketegangan khas musik ‘bawah tanah’.

Bagi JogjaROCKarta Festival 2025, Dwiky KA menciptakan visual yang menangkap dua sisi emosi: kemegahan rock dan keharuan perpisahan dengan Kridosono yang akan segera dialihfungsikan menjadi ruang terbuka hijau.

Melalui gaya ilustrasinya yang tegas dan penuh simbol, ia menghadirkan narasi visual tentang transisi antara kebisingan dan keheningan. Tentang bagaimana sebuah tempat yang selama ini hidup oleh sorak penonton kini akan menjadi ruang hijau bagi kota.

Kolaborasi tersebut memperkuat keberadaan JogjaROCKarta Festival 2025 sebagai pertemuan lintas generasi, dimana legenda musik dunia seperti Helloween, Anthrax, Ugly Kid Joe, Loudness dan The HU berbagi panggung dengan band-band lokal seperti Jamrud, Marjinal, The Panturas hingga Usman and The Blackstones.

Serta juga dengan talenta muda hasil Band Submission, yakni Zealous dan Bias serta band rock lawas macam Andromeda, Kaisar dan Rolland Band.

“Dwiky KA punya karakter visual yang sangat kuat, lokal, berani, tapi punya bahasa universal yang nyambung dengan spirit JogjaROCKarta,” ucap Tovic Raharja, CEO Rajawali Indonesia.

“Kami ingin festival ini bukan hanya terdengar lewat musik, tapi juga terlihat lewat visual yang apik.”

Melalui kolaborasi ini pula, setiap elemen visual JogjaROCKarta 2025 dari poster, merchandise hingga instalasi panggung akan menjadi bagian dari perayaan monumental yang tak hanya merayakan rock, tapi juga menutup bab sejarah Kridosono dengan cara paling berkesan.

jogjarockarta

Kejayaan Rock

Tahun ini, JogjaROCKarta menampilkan barisan lintas generasi dan benua yang menyuguhkan keberagaman wajah musik rock dunia. Diperkuat oleh Loudness, band heavy metal legendaris asal Jepang.

Lalu ada pula Helloween, salah satu monster power metal asal Jerman yang kini tengah menjalani tur dunia dengan formasi reuni mereka.

Band dunia lainnya, juga menghadirkan Anthrax (thrash metal) dan Ugly Kid Joe (alternative metal) dari AS serta The HU (folk metal) dari Mongolia.

Lima band dengan karakter berbeda yang mewakili evolusi dan semangat global musik keras, kini bertemu di satu panggung: Yogyakarta.

Para tamu tersebut, bakal didampingi para punggawa rock era 80–90an Indonesia seperti Jamrud, Kaisar, Andromedha serta Rolland Band. Empat band legendaris yang merepresentasikan kejayaan musik rock Indonesia lintas daerah dan generasi.

Jamrud, asal Cimahi, lahir dari nama Jam Rock dan menjuarai Festival Rock se-Indonesia 1984, kemudian bergabung dengan Logiss Records dan menembus arus utama industri musik rekaman Tanah Air lewat album “Nekad” (1996), “Putri” (1997), “Terima Kasih” (1998) hingga “Ningrat” (2000).

Dari Solo, Kaisar muncul pada 1987, mencuri perhatian lewat lagu “Kerangka Langit” dan menjuarai Festival Rock 1991 dengan lagu “Garis-Garis Bintang”, sebelum merilis album “Mulut Angin” (1994).

Dari Surabaya, ada Andromedha yang menorehkan sejarah di Festival Rock Indonesia V (1988) dengan meraih juara 3 serta penghargaan Best Drummer dan Best Guitarist. Mereka antara lain dikenal lewat lagu “Prestasi” dan “Lamunan”.

Sementara itu, dari Yogyakarta, Rolland Band yang terbentuk pada 1984, menjadi Juara 1 Festival Heavy Metal 1986 Majalah Vista, dan melahirkan hit abadi seperti “Teror” dan “Gigolo”.

Keempat band tersebut adalah simbol masa keemasan musik keras Indonesia yang melahirkan semangat, identitas, dan fondasi bagi rock nasional hingga kini.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tiket, program, dan daftar lengkap para penampil, kunjungi situs resmi atau akun Instagram JogjaROCKarta. (*/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.