DREAM THEATER: Perayaan 40 Tahun yang Emosional

Kembalinya formasi klasik, plus kemasan konser dan repertoar terbaik. Perayaan 40 tahun karier Dream Theater dirayakan dengan emosional di Jakarta.
dream theater
DREAM THEATER di panggung Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Foto: @mikhailtp

Dream Theater adalah salah satu band internasional yang paling sering konser di Indonesia. Saking seringnya sampai banyak orang yang berceloteh dengan nada heran, “Kok DT (Dream Theater) melulu sih, kayak nggak ada band lain saja?”

Celotehan serupa juga kembali muncul ketika tahun lalu mulai diumumkan oleh promotor Rajawali Indonesia tentang konser Dream Theater yang teranyar ini. Dan fakta yang dipaparkan berikut ini mungkin dapat menjawab keheranan banyak orang tersebut.

Faktanya adalah meski sudah terhitung lima kali menggelar konser di Indonesia – tepatnya tiga kali di Jakarta, masing-masing sekali di Yogyakarta dan Solo – namun ternyata kehadiran band progressive metal legendaris berkebangsaan AS ini masih memiliki daya magnetik luar biasa untuk menyedot penonton.

Dan konsernya yang keenam kali pada Sabtu, 7 Februari 2026 malam di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta kembali menjadi bukti nyata.

Lebih dari 10.000 penonton yang dominan mengenakan kaos hitam memadati venue tersebut. Sebagian besar memahami dan hafal lagu-lagu Dream Theater. Jadi tidak usah heran jika band ini terus diundang tampil untuk menghibur ribuan pemujanya di Indonesia.

Selain memiliki basis penggemar yang besar, Dream Theater selalu memiliki ‘amunisi’ baru untuk suguhan konsernya lantaran tingginya produktivitas mereka dalam menghasilkan album.

Yup, mereka selalu kembali tur dan mampir ke Indonesia untuk konser dalam rangka mempromosikan album baru. Dan bahkan kesuksesan konser mereka kali ini miliki beberapa faktor pemicu antusiasme yang lebih besar bagi penggemarnya.

Faktor pertama, konser ini merupakan rangkaian dari “40th Anniversary Tour”. Tur yang menandai 40 tahun perjalanan Dream Theater, suatu tonggak sejarah monumental yang akan dirayakan bersama para penggemar mereka di seluruh dunia.

Penggemar mereka di Jakarta sangat beruntung, karena juga terpilih sebagai salah satu kota spesial untuk menjadi tuan rumah perayaan bersejarah ini.

Lalu, daftar lagu konsernya ini juga spesial, yang disusun mewakili momentum terbaik sepanjang karir Dream Theater, sejak terbentuk pada 1985 silam.

dream theater
Mike Portnoy (Dok. Rajawali Indonesia)

Faktor kedua, tentu saja, hadirnya dramer orisinal Mike Portnoy yang kembali bergabung sejak 2023 lalu, setelah sebelumnya berkelana di beberapa proyek band seperti Avenged Sevenfold, The Winery Dogs dan Sons of Apollo. Ia sendiri menyatakan mundur dari Dream Theater pada 8 September 2010 silam.

Sehingga konser ini, menjadi pengalaman pertama bagi sang dramer tampil di depan penggemarnya di Indonesia, dalam formasi Dream Theater.

Faktor ketiga, tanggal konser ini bertepatan dengan perayaan satu tahun usia perilisan “Parasomnia”, album studio ke-16 Dream Theater yang diluncurkan pada 7 Februari 2025 lalu.

Album itu menandai reuni permanen Dream Theater dengan dramer yang ikut mendirikan band asal Boston, Massachusetts (AS) tersebut bersama gitaris John Petrucci dan bassis John Myung.

Babak Pertama

Tepat pukul 20:00 WIB, bagaikan lautan manusia nampak memadati venue nyaris tanpa celah, full house! Sekitar 15 menit kemudian, intro lagu “Metropolis Pt. 1: The Miracle and the Sleeper” pun menghantam speaker PA dan satu per satu muncul lima sosok yang ditunggu-tunggu.

Untuk pertama kalinya, formasi klasik Dream Theater tampil langsung di depan mata pemujanya di Indonesia; John Petrucci, John Myung, kibordis Jordan Rudess, vokalis James LaBrie serta ‘si anak hilang’, Mike Portnoy.

Tanpa basa-basi, mereka langsung menggeber lagu pembuka tersebut yang disambut histeria massal penonton.

Telinga kami – tim MUSIKERAS yang turut hadir di tengah kerumunan – tidak hanya ‘diserang’ oleh gempuran distorsi cadas, namun juga berbaur dengan riuhnya sing along para penonton di sekeliling kami.

Konser berdurasi hampir tiga jam ini dibagi menjadi tiga babak, dan babak pertama benar-benar sukses menjadi pemantik semangat penonton.

Usai lagu pembuka dari album “Image and Words” (1992) tersebut, empat lagu dari album “Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory” (1999) digeber secara berturut-turut.

Dibuka oleh instrumentalia epik “Act I: Scene Two: I. Overture 1928” yang merupakan jembatan berdurasi 3:37 menit menuju lagu “Act I: Scene Two: II. Strange Déjà Vu” dan disambung dengan lagu “Act I: Scene Three: I. Through My Words”, sebelum diakhiri komposisi “Act I: Scene Three: II. Fatal Tragedy”.

Gila, epik, hormon dopamin dan serotonin terasa muncrat! Selanjutnya, mereka menggeber satu demi lagu yang masing-masing dari album yang berbeda.

Diawali oleh lagu “The Mirror” dari album “Awake” (1994), kemudian “The Enemy Inside” dari album “Dream Theater” (2013) yang sangat beralur dan menyisipkan nuansa thrash metal.

Usai dua lagu yang yang memantik headbanging tersebut, mereka menurunkan tensi dengan lagu yang bagian awalnya bertempo pelan, “Peruvian Skies” dari album “Falling into Infinty” (1997).

Bagian pertengahan hingga akhir lagu tersebut tempo musiknya naik dan kembali memantik headbanging. Kejutannya, di bagian tersebut mereka menyisipkan riff ikonik lagu Metallica, “Where Ever I May Roam” sebagai improvisasi yang menarik.

Babak pertama ini ditutup dengan “As I Am”, lagu unggulan dari album “Train of Thought” (2003) dengan riff utama yang bernuansa gelap namun juga memicu headbanging.

dream theater
Foto Dok. Rajawali Indonesia

Babak Kedua

Usai sesi ‘turun minum’ selama 20 menit, Dream Theater memanfaatkan babak kedua untuk menggelontorkan lagu-lagu dari album barunya, “Parasomnia”.

John Petrucci mengganti gitar Music Man JP-nya dengan tipe 7-string saat band membuka babak ini dengan komposisi instrumentalia “In the Arms of Morpheus”.

Selanjutnya dua lagu bertensi tinggi digeber berturut-turut; “Night Terror” dan “Midnight Messiah”, yang lantas bermanuver ke alunan nada kelam dari kibordis Jordan Rudess di lagu “Are We Dreaming?” yang menjadi interlude lagu bernuansa kalem, “Bend the Clock”.

Seolah tak ingin penonton terjebak rasa kantuk lantaran disuguhi lagu bertempo pelan berdurasi 7:34 menit tersebut, band lantas melecut komposisi selanjutnya yang bertempo lebih dinamis, “The Shadow Man Incident”.

Babak kedua ini ditutup oleh lagu yang cukup jarang dimainkan dalam konser Dream Theater, dengan durasi sangat panjang, 24 menit! Ya, apalagi jika bukan “Octavarium”, dari album berjudul sama rilisan 7 Juni 2005.

Jordan Rudess memimpin orkestrasi musikal komposisi awal lagu ini dengan tarian jari cepatnya di atas kibord. Lagu yang terdiri atas lima babak ini memang dinamis. Sarat liukan yang tak terduga.

Meski babak pertengahan menampilkan komposisi yang energik, perjalanan lagu ini diawali dan diakhiri nuansa pelan yang membuat sebagian penonton terbius (atau mengantuk?) oleh energi relaksasi dari lagu tersebut.

dream theater
Foto @mikhailtp

Babak Ketiga

Babak terakhir ini tidak lain adalah sesi encore. Usai kembali ke panggung, James LaBrie dkk langsung mengumandangkan lagu balada yang anthemic, “The Spirit Carries On”.

Lagu yang paling ditunggu, yang langsung membangkitkan semangat dan memantik kur massal penonton paling membahana. Bahkan terlihat beberapa penonton perempuan yang berlinang air mata sambil bersenandung lirik-lirik lagunya.

Momen emosional ini kemudian ditutup dengan nomor pamungkas wajib bagi penggemar Dream Theater. Apalagi kalau bukan “Pull Me Under” yang mengundang anggukan headbang berjamaah. Kur massal pun kembali membahana.

Prog-Metal Master

Boleh dibilang inilah konser terbaik Dream Theater di Indonesia sejauh ini. Dari segi produksi berupa tata suara, tata cahaya dan visualisasi layar LED latar panggung yang relatif lebih dinamis dibanding konser-konser sebelumnya.

Lalu dari segi ‘sajian menu’ dengan setlist spesial “40th Anniversary” dan performa dahsyat dengan formasi klasik yang memang sudah lama ditunggu-tunggu oleh penggemar.

dream theater
James LaBrie (Foto Dok. Rajawali Indonesia)

Penampilan Mike Portnoy memang menjadi salah satu ‘highlight’ di konser-konser Dream Theater. Selain gebukannya yang skillful, ia menggunakan custom drum set yang dinamai, Dream Monster.

Dibuat oleh Tama (brand company yang memberikan endorsement kepada Portnoy), perangkat dram ini cukup kompleks, menampilkan tiga kick drum dan tambahan satu snare, beberapa tom dan octoban serta aneka jenis simbal.

Sosok Portnoy yang ‘metal banget’ dengan permainan dram yang atraktif memang menjadi daya tarik tersendiri secara visual. Inilah yang membedakannya dengan Mike Mangini – dramer sebelumnya – yang menjadi alasan kuat penggemar merindukan Portnoy kembali memperkuat Dream Theater.

Sebenarnya, konser ini nyaris tanpa cela. Satu-satunya kekurangan – jika bisa dibilang begitu – adalah kualitas dan stamina vokal James LaBrie yang semakin menurun. Cenderung tidak stabil dan semakin kesulitan menjangkau nada-nada tinggi.

Dream Theater adalah salah satu band rock legendaris dunia yang mampu memproduksi lagu-lagu ‘catchy’, bahkan ‘easy listening’, dengan kegarangan metal yang kompleks dan rumit, namun sukses secara komersial.

Mereka bisa memproduksi lagu yang demikian nyaman di pendengaran dengan mengusung komposisi musik metal yang sangat kompleks, aransemen super njelimet dengan aneka suara dari nuansa gahar hingga kalem, dari nada disonan hingga melodius.

Dengan konsep musik ‘njelimet’ yang konsisten diusung selama 40 tahun tersebut, Dream Theater telah berhasil menjangkau pendengar yang sangat luas dan ‘bertaring’. Happy 40th Anniversary, Prog-Metal Masters! (Bimo D. Samyayogi/MK04)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
evanescence
Read More

EVANESCENCE: Hanya Gelar Konser di Malaysia

Dalam rangkaian tur dunianya, Evanescence bakal gelar konser secara eksklusif di Kuala Lumpur, Malaysia. Satu-satunya negara yang terpilih untuk Asia Tenggara.
avenged sevenfold
Read More

AVENGED SEVENFOLD: Konser Lagi di Jakarta

Pada 10 Oktober 2026 mendatang, Avenged Sevenfold dipastikan akan kembali menggelar konser, di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta.