Gergaji Beton bangkit kembali tahun ini. Digerakkan oleh empat musisi, gabungan dari beberapa band cadas.
Mereka adalah vokalis Emil Salim Harahap (NoXpression) dari Djin, gitaris Dicky Ferdiansyah (Deffinferno) dari Muntah Kawat serta bassis Joshua Tarigan (Valdys) dan dramer Rizky Apriansyah (Chokay) dari Integral.
Sejak 31 Januari 2026 lalu, unit musik ekstrem asal Medan, Sumatra Utara yang sebenarnya telah dibentuk sejak 1998 silam ini menandai agresi barunya lewat lagu rilisan tunggal bertajuk “Banjir Anjir”.
Dengan pendekatan musik yang keras, mentah dan tanpa kompromi, Gergaji Beton menjadikan riff agresif, noise serta vokal brutal sebagai medium perlawanan di lagu debutnya tersebut.
Lirik “Banjir Anjir” menyemburkan kemarahan atas bencana banjir yang selalu berulang, kelalaian sistem, dan penderitaan rakyat kecil, yang disampaikan secara lugas tanpa romantisasi.
Mereka berpijak pada etos DIY (do it yourself) dan semangat underground dalam penyampaiannya. Gergaji Beton berdiri sebagai suara keras dari bawah. Berangkat dari keresahan nyata.
Dituturkan kepada MUSIKERAS, Gergaji Beton mengungkapkan bahwa “Banjir Anjir” digarap dalam waktu sebulan. Sudah termasuk tahapan penataan dan pelarasan suara (mixing dan mastering).
“Kami mengutamakan rilis ‘Banjir Anjir’ karena momennya sangat pas dengan keadaan yang terjadi sekarang ini. Dan karena keadaanlah lagunya tercipta,” seru pihak band, yang sejauh ini telah mengantongi lima lagu yang sudah direkam untuk kebutuhan album mini (EP).
Perekaman isian instrumen dieksekusi di Brutal Cortex Studio pada Juli 2025 lalu. Tapi untuk bagian vokal direkam di Noise Company Studio, awal Januari tahun ini.
“Karena liriknya kami ambil dari bencana banjir, dikarenakan akhir November lalu terjadi bencana banjir di beberapa daerah di Sumatera khususnya Sumbar, Sumut dan Aceh.”

Berani Bersuara
Untuk memaksimalkan daya hantam “Banjir Anjir”, Gergaji Beton menerapkan kombinasi kegesitan thrash metal dan death metal dengan sedikit sentuhan keagresifan hardcore.
Mereka mengakui, komposisi serta aransemennya banyak terpengaruh oleh thrash metal era awal yang kasar dan agresif, death metal yang berat dan gelap, serta energi hardcore/punk yang penuh sikap.
“Kami tertarik pada musik yang langsung menghantam, minim basa-basi, dan punya groove yang membuat kepala otomatis mengangguk. Bukan sekadar cepat atau teknis.”
“Menurut pandangan kami, yang membuat kami berbeda dibanding band keras lainnya adalah (karena kami) fokus pada konteks sosial lokal dan cara kami menerjemahkannya ke dalam musik.”
Komposisi “Banjir Anjir” tidak hanya terdengar kasar, tapi juga nyata karena mereka melihat sendiri bencana tersebut secara langsung.
“Kami melihat kekacauan yang menimpa saudara-saudara kami. Jadi menurut kami, ini adalah lagu paling jujur! Musik ekstrem bukan soal siapa yang paling cepat atau paling teknis, tapi siapa yang paling jujur dan berani bersuara!”
Mereka juga menambahkan bahwa beberapa dari mereka bahkan terjun sebagai relawan di Aceh Tamiang dan sudah beberapa kali ikut menyalurkan donasi dari orang-orang baik di seluruh Indonesia melalui komunitas Metal Medan.
Seperti sudah disinggung di atas, saat ini Gergaji Beton sudah memiliki lima amunisi lagu yang siap disulut dan diledakkan dalam selongsong berformat EP. Termasuk lagu “Banjir Anjir”.
“Untuk sekarang ini, kami sedang mengulik ulang lagu tersebut. Ketika menurut kami sudah ok, kami langsung masuk proses mixing dan mastering. Niatnya mau dirilis dalam bentuk kaset pita atau CD. Semoga di bulan Maret bisa rilis.”
Sambil menanti perilisannya, silakan menggeber “Banjir Anjir” yang telah diedarkan via Brutal Cortex Records di berbagai platform musik digital. Termasuk kanal Bandcamp dan YouTube. (mdy/MK01)