Altaraven sendiri merilis “Nova Libertas” pada 11 Oktober tahun lalu. Sebuah karya album yang menyuguhkan struktur lagu-lagu yang semakin kompleks, presisi dan teknikal.
Dengan karakter teknikal, brutal dan penuh dinamika, unit metal asal Kudus, Jawa Tengah ini menghadirkan komposisi musik yang mengombinasikan agresivitas death metal dengan teknik permainan yang lebih tinggi.
Sehingga, untuk mencapai target itu, setiap personel Altaraven diharuskan melakukan peningkatan permainan instrumen secara teknis.
“Harus disiplin untuk berlatih karena setiap lagunya memiliki signature rhyme yang sangat tricky untuk dimainkan,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS meyakinkan.
“Kami akan sangat kesulitan untuk melakukan inovasi-inovasi dalam proses pembuatan materi jika tidak melakukan upgrade skill teknik bermain instrumen secara personal.”
Sejak dibentuk oleh gitaris Jeff Ajedah serta mantan dramer mereka, Daneas Marcelino (Nino) pada 2017 lalu, konsep peracikan musik Altaraven memang telah diarahkan teknikal.
Memaksimalkan terapan riff gitar cepat dan progresif, yang disandingkan dengan vokal guttural yang intens, derapan dram cepat berpadu dengan tempo yang dinamis serta nuansa lirik yang gelap, filosofis dan penuh refleksi sosial.
Antara lain, mereka menyerap berbagai pengaruh dan inspirasi dari band-band mancanegara seperti Meshuggah, Gojira, Periphery, Tesseract, The Faceless dan Fallujah.

Timur Tengah
Penyusunan awal untuk struktur lagu-lagu yang termuat di “Nova Libertas”, ditulis oleh Jeff Ajedah. Lalu, ia membagikannya ke personel lain untuk dikembangkan lebih lanjut, menjadi komposisi lagu yang lebih matang.
Setelah itu, Jeff bersama vokalis Fery Lochma, gitaris Pieter Anro Putra, bassis Melviano al Najib serta dramer Nino menjalani proses rekaman. Semuanya dieksekusi di Aurigas Music Lab, di kota Kudus.
“Untuk proses rekaman keseluruhan album ‘Nova Libertas’ memakan waktu dua tahun!”
Satu hal yang membuat Altaraven berbeda dibanding band-band dengan paham musikal yang sama, terletak pada metode penulisan lagunya. Mereka tidak menggunakan metode penulisan tipikal death metal secara konvensional.
“Dan (kami) banyak memasukan unsur nada Timur Tengah dan ritme beatmap yang variatif dalam setiap lagunya,” cetus mereka.
Dari delapan lagu yang disuguhkan di album “Nova Libertas”, para personel Altaraven mengakui cukup kesulitan saat memainkan komposisi “Validasi Profan”.
Alasannya, karena dalam lagu tersebut harus menggunakan teknik grouping dan linear dalam ketukannya.
“Disamping itu, licks dan riff-nya sangat banyak. Dalam satu lagu terdapat kurang lebih 20 licks dan kurang lebih empat birama yang berbeda!”
Lalu pada saat menjalani proses rekamannya, selain sulit dalam teknik bermain, mereka pun sangat kesulitan dalam proses pengolahan mixing.
“Karena harus bisa menyatukan beberapa not dalam beberapa instrumen sehingga bisa memunculkan harmonisasi yang kami ekspektasikan.”
Sebelum termuat di album, “Validasi Profan” sudah lebih dulu diperdengarkan dalam format rilisan tunggal pada 2 Mei 2025 lalu.
Keseluruhan lagu di “Nova Libertas” bisa didengarkan di berbagai gerai penyedia layanan musik digital.
Sementara video musik “Kalibrasi Iblis” sudah tayang di kanal YouTube sejak awal Maret 2026 lalu. (mdy/MK01)
Susunan lagu di “Nova Libertas”:
1. Intro (01:43)
2. Resistensi (04:01)
3. Kalibrasi Iblis (03:56)
4. Titik Nadir (03:14)
5. Degradasi Kultur (05:58)
6. Invasi Feodal (04:09)
7. Validasi Profan (04:22)
8. Misantrophia (05:20)