DER JAGER: Lestarikan Heavy Metal

Sembilan komposisi lagu energik yang raw, agresif dan oldschool diberondongkan Der Jager lewat sebuah album baru bertajuk “..In Which Evil Dwells”.
der jager
DER JÄGER

Der Jager (atau ditulis Der Jäger) telah lebih dari satu dekade mengibarkan panji heavy metal di skena ‘bawah tanah’ Tanah Air. Khususnya di kawasan Yogyakarta.

Kini, mereka kembali meneruskan semangat itu, dengan melancarkan karakter yang raw, agresif dan oldschool lewat sebuah album penuh kedua, bertajuk “..In Which Evil Dwells”.

Album ini meletupkan sembilan komposisi lagu energik. Dirilis via Witches Brew, sebuah label underground asal Jerman yang dikenal luas memiliki katalog rilisan heavy metal, speed metal dan thrash metal dari berbagai negara.

Proses produksinya sendiri berlangsung di Watchtower Studio, yang didampingi Bable Sagala sebagai produser.

Alih-alih mengejar produksi yang terlalu rapi, Der Jäger memilih mempertahankan karakter sound yang kasar dan agresif, dengan merujuk pada estetika rilisan-rilisan heavy metal dekade 80-an.

Di sisi musikal, band yang digerakkan formasi vokalis Dendi Budi Satriyo, gitaris Leo Kunto Aji Prasetyo, bassis Yadi Darmawan dan dramer Aryo Kusumojati ini mengawinkan riff-riff heavy metal traditional bernuansa NWOBHM (new wave of British heavy metal).

Dieksekusi dengan tempo cepat, yang dipadukan dengan agresifitas thrash metal. Konsep atau formula yang sekaligus menjadi identitas khas Der Jager, dan membedakan mereka dengan band-band heavy metal tradisional lainnya.

“Kami mengambil tempo speed metal dan attitude thrash (metal) untuk meramu komposisi,” cetusnya kepada MUSIKERAS.

Pada dasarnya, band ini mengakui menjadikan band rock legendaris asal Inggris, Iron Maiden sebagai inspirasi yang utama. Lalu untuk unsur speed metal, mereka banyak terinspirasi band seperti Exciter, Agent Steel dan Accept.

“Sedangkan unsur thrash metal, kami banyak mengacu pada album-album thrash awal Sodom, Kreator dan Big 4 Bay Area thrash era awal yang masih raw, agresif dan tidak terlalu banyak polesan.”

Dalam proses meracik lagu, mereka mencoba mengambil esensi dari referensi tersebut, terutama dalam hal tempo, feel, riffing dan karakter sound yang raw.

“Lalu mengolahnya menjadi komposisi yang tetap memiliki identitas Der Jäger.”

Tapi hal yang cukup menantang, terjadi ketika para personel band ini menggarap komposisi lagu “Act of Conquest”. Mereka memutuskan menghilangkan intro aslinya karena dirasa terlalu brutal untuk karakter heavy metal yang mereka inginkan.

“Sebagai gantinya, kami menambahkan part heavy metal di tengah lagu, sehingga tercipta kontras berupa bagian mid-tempo di antara bagian awal dan akhir yang lebih cepat.”

der jager

Mitologi Tolkien

Dalam penulisan lirik dalam album ini, Der Jager mengangkat tema yang  menjadi ciri khas mereka, tentang suasana peperangan dan teror yang disampaikan melalui vokal beroktaf tinggi.

Beberapa lagu juga mengambil inspirasi dari dunia fantasi epik karya J. R. R. Tolkien. Seperti yang diterapkan di lagu “Ode to Ruin”.

Lagu ini memuat adaptasi kisah Nirnaeth Arnoediad, salah satu pertempuran terbesar dan paling tragis dalam legenda Middle-Earth.

Lagu “Act of Conquest” juga memuat cuplikan tentang duel legendaris antara Raja Fingolfin dan Morgoth, sebuah konfrontasi ikonik yang menjadi bagian penting dalam mitologi Tolkien.

Sebelum meluncurkan “..In Which Evil Dwells”, Der Jager yang dibentuk pada awal 2014 silam telah merilis album mini (EP) “Madman” (2016) serta album penuh debut bertajuk “Rocktuary” (4 Maret 2019).

Walau berada di kubangan paham heavy metal yang kini terbilang minoritas, namun Der Jager yakin jalan yang mereka pilih tetap memiliki penikmatnya tersendiri.

Saat ini belum terekspos luas lantaran belum memiliki skena atau komunitas khusus yang benar-benar menaunginya.

“Meski begitu, kami melihat potensi perkembangan yang positif karena masih banyak pendengar dan musisi yang menghargai karya yang otentik dan sifatnya underground.”

“..In Which Evil Dwells” kini sudah tersedia di berbagai gerai musik digital, termasuk di laman Bandcamp. Sementara untuk versi fisik (CD) akan segera diterbitkan Witches Brew dan diedarkan melalui jaringan distribusi global label tersebut. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan lagu:

  1. Endless Bloodbath
  2. Beyond Tragedy
  3. Unforgiving Land
  4. Ode To Ruin
  5. Crushing In The Night
  6. Madman II
  7. Beware! (The Irons of Doom)
  8. Act of Conquest
  9. Mourner’s Anguish
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darraq
Read More

DARRAQ: Menabrak Batas Konvensional

Di album mini (EP) debutnya, “Of Human Nature”, Darraq menerapkan banyak warna. Ada elemen black metal, doom metal, doom stoner, groove hingga speed metal.
revelish
Read More

REVELISH: Eksplorasi Awal di Metal Modern

Lagu rekaman debut “Falsehood Progression” disuarakan Revelish sebagai penyaluran kemarahan kolektif dalam geberan komposisi metal yang kekinian.
killer of gods
Read More

KILLER OF GODS: Tusukan Kebrutalan Demagogi

Album brutal death metal yang mengangkat kritik atas demagogi dan ketimpangan sosial disemburkan Killer Of Gods lewat sembilan amunisi lagu beringas.
metyr
Read More

METYR: Paduan Post-Black dan Blackgaze

Tiga lagu diguyurkan Metyr sekaligus lewat album debut (EP) self-titled yang sarat paduan elemen post-black metal, shoegaze dan post-rock yang atmosferik.