Sambutlah JANGAR, yang Ingin Menjajal Ombak Jakarta dan Bandung

Selama tiga hari, tepatnya 6,7,8 April 2017, kelompok penderu rock dari Bali,  bernama Jangar siap keluar kandang dan melakukan ‘cek ombak’ di beberapa titik di Jakarta dan Bandung. Rencananya, Gusten Keniten (vokal), Dewa Adi (gitar), Rai Biomantra (bass) dan Pasek Darmawaysya (dram) yang tergabung dalam formasi Jangar akan mengarungi dan menerjang panggung Warjon Coffee dan Milk Bar di Gedebage, Bandung, lalu ke Borneo Beerhouse di Kemang, Jakarta dan lantas kembali lagi ke Bandung untuk menggetarkan BBQ Ride Bandung 2017 yang berlokasi di Cikudapateuh.

Mengapa Jangar menamakan kunjungan ‘dinas’nya ini dengan sebutan ‘cek ombak’?

Menurut mereka, ombak adalah tanda-tanda kehidupan, yang tak henti bergulung menepuk pantai, dan juga kawan bermain anak nelayan. Namun sesekali ombak adalah keganasan, siap memangsa siapa saja yang alpa membaca tanda-tanda. Makanya dibutuhkan tindakan ‘cek ombak’.

“Karena perasaan ingin tahu yang tinggi akan gelombang-gelombang di luar sana, sembari merasakan hembusan angin yang dirasa berbeda,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS. “Di Bali angin sepoi-sepoi saja, menyejukkan memang, tapi pelaut andal tidak berlayar di laut tenang, ya kan?”

Untuk tur kecil ini, berbagai persediaan alat konveksi gelombang telah disiapkan Jangar dengan matang. Di antaranya berbekal satu album mini (EP) self titled berisikan lima single serta satu trek bonus yang baru saja dirilis berjudul “HSS”. Album rilisan April 2016 yang dikemas dalam balutan rock yang padat berfaedah tersebut mereka rekam secara live hanya dalam satu malam. “Prosesnya cepat, padat dan berat,” tandas pihak band yang mengaku banyak mendengarkan band-band rock era ’80-‘90an sebagai referensi musikal.

Dengan EP tersebut, kata mereka lagi, dianggap sebagai cara menunjukkan identitas Jangar dalam format audio, dengan sound yang berat dan ketukan yang padat. “Kami coba rangkum dalam 5+1 lagu dalamnya. Konsep liriknya antara permasalahan hidup dan dunia fantasi.”

Jangar mulai menebar distorsi rock ugal-ugalan mereka pada Juli 2015, lalu langsung mendapat kesempatan berkoar di salah satu event motor tahunan Bali Choppercamp bertajuk “Weekend Warrior 2”, yang berlangsung di Bumi Perkemahan Danau Buyan pada pertengahan Agustus 2015. Bermodalkan sebuah single berjudul “Titan” serta beberepa cover lagu The Sword, Deep Purple dan Witch, Jangar lantas mulai menancapkan cakar di belantika musik indie di Denpasar.

Musik yang mereka mainkan merupakan hasil persilangan (hybrid) dari riff-riff blues rock dengan ketukan-ketukan progresif dalam setelan rendah. Adi dan Pasek yang datang dari latar belakang metal banyak melakukan eksperimen-eksperimen pada aransemen, pola-pola riff selalu berporos pada rhytem section yang dibuat sesederhana mungkin dengan sentuhan karakter Jangar sendiri. Rai dengan latar belakang punk memberikan suasana bass yang renyah namun tetap dalam dengan setelan rendah dengan karakter mengarah pada knalpot motor, sedangkan Gusten dengan karakter ugal-ugalan banyak mendengarkan Ozzy Osbourne sebagai kiblat. (Mdy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
feit
Read More

FEIT: Refleksi Kekerasan di EP Debut

Lewat perilisan album mini (EP) perdana bertajuk “Bound By Destruction”, Feit kembali tunjukkan keberingasannya di ranah metallic hardcore dan metalcore.
moose
Read More

MOOSE: Black Metal Atmosferik dan Melankolis

Lewat lagu debut “Valley of Whispers”, Moose menangkap kondisi mental yang terjebak dalam spiral pesimisme, dalam balutan black metal yang gelap dan melankolis.
morgia
Read More

MORGIA: Formasi Bertiga, Makin Eksperimental

Usai melewati masa krisis formasi, kini Morgia kembali menggeliat dengan meluncurkan lagu rilisan tunggal terbaru, yang lebih gelap, mekanis dan imersif.