OMNI Serukan “Negeri Api”, tentang Masyarakat yang Tersulut Emosi

Proses workshop dan penulisan lagu yang sudah digulirkan OMNI sejak tahun lalu akhirnya berujung pada sebuah album baru. Unit rock asal Jakarta tersebut berencana merilis karya rekaman studio keduanya itu pada akhir 2017, yang berselang tiga tahun dengan album sebelumnya, “Medulla Oblongata”. Dan sebagai pemanasan, dua hari lagi mereka akan meluncurkan single fresh bertajuk “Negeri Api” dan membagikannya secara gratis (free download).

“Negeri Api” sendiri bercerita tentang masyarakat di sebuah negeri yang awalnya hidup dalam balutan toleransi yang kental, tiba-tiba berubah menjadi mudah tersulut emosi hanya karena perbedaan paham. Orang-orang semakin mudah marah. Mereka menggunakan media sosial sebagai medan perang. Menghujat antar kelompok, penyebaran gosip, berita palsu dan ujaran kebencian. Yang fatalnya, penyebaran berita ini sangat minus data valid dan miskin literasi.

“Pesan moral dari lagu ini adalah, jika sebuah tatanan masyarakat masih terus menerus hidup seperti ini, hidup berbangsa tanpa jiwa luhur, hanya ada jiwa kosong tanpa cinta, jiwa kering penuh amarah. Bukan tidak mungkin sebuah Bangsa dan Negara perlahan akan menjadi kering jiwanya, miskin cinta kasih, mudah tersulut dan musnah terbakar,” tulis pihak band via press release.

OMNI yang kini diperkuat formasi Amank Syamsu (vokal), Romy Sophiaan (bass), Rully Worotikan (gitar) dan Robby Indra Wahyudha (dram), kali ini, lumayan banyak melakukan pendekatan konsep musik beraura oldskool heavy metal. Baik di lagu “Negeri Api”, maupun di lagu-lagu lainnya yang bakal mengisi album.

“Sound gitar lebih crunch tapi tetap heavy. Secara keseluruhan album kedua ini akan terdengar sangat oldskool, dengan sound yang raw. Tempo-tempo lagu juga lebih cepat dan terdengar lebih keras dibandingkan dengan album pertama,” ungkap Rully, kepada MUSIKERAS.

Kecenderungan itu, sedikit banyak tak lepas dari pengaruh referensi yang telah mendarah daging di tubuh para personelnya. Terutama Rully yang mengaku masih kerap mendengarkan entakan-entakan distorsi ala band-band rock legendaris seperti Iron Maiden, Metallica, Megadeth dan Anthrax. “Band-band baru gue dengerin selewatan aja. Nggak ada yang gue denger dengan detail. Soalnya acuan musik band-band bule sekarang juga banyak yang ke Iron Maiden dan sejenisnya.”

Di album baru nanti, OMNI bakal menggelar sembilan lagu, yang direkam di Tebet serta di Studio 168, Lebak Bulus, Jakarta.

OMNI, yang dalam bahasa Latin berarti “semua”, terbentuk pada April 2012, dengan Rian Bamiftah di posisi dramer. Awalnya, kuartet indie yang menyebut aliran musiknya dengan istilah rock magnetic ini menempatkan OMNI sebagai proyek sampingan, karena para personelnya telah disibukkan dengan band masing-masing. Amank Syamsu sebelumnya lumayan malang melintang di dunia café dan juga menjadi rapper pendamping duo Mahadewi. Lalu ada Romi Sophiaan, putra Almarhum aktor kenamaan Sophan Sophiaan, telah memiliki band beraliran grunge bernama Konspirasi. Sementara Rully Worotikan tercatat sebagai seorang produser yang di antaranya pernah menangani album milik Armada, RAN, Marcell Siahaan, hingga Vicky Shu. Seiring dengan perjalanan waktu serta jalinan chemistry yang semakin kuat membuat OMNI semakin serius beraktivitas sebagai sebuah band yang solid. Dan hasilnya, sebuah album penuh mereka rilis pada 2013, bertajuk “Medulla Oblongata” yang banyak terinspirasi spirit rock era ‘90an. (MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *