Media radio pernah menjadi tumpuan harapan banyak musisi untuk menyosialisasikan karya-karya rekamannya, sebelum teknologi streaming menerjang. Kini, radio berada di era persaingan yang semakin berat, mencoba bertahan dari dominasi berbagai kran musik format digital, sehingga memaksa mereka memilih jalur aman sebagai pemutar lagu-lagu popular saja (hits player).
Fenomena ini disadari betul oleh Kripikpeudeus, unit rap rock asal Jakarta yang mencoba menggeliat lagi, setelah tertelan kesibukan para personelnya sejak 2013 silam. Tapi kini, lewat single terbarunya yang bertajuk “Radio”, mereka tetap berupaya untuk menjaga semangat berkarya, seperti dulu saat banyak radio mengudara dan memutar lagu-lagu mereka. Single “Radio” bercerita tentang radio yang pada awal kemunculan Kripikpeudeus banyak mengudara dan mendukung karya musik lokal. Bahkan Kripikpeudeus sendiri dapat diketahui oleh khalayak umum dengan dukungan dari radio-radio lokal tersebut.
“Ide mengenai ‘Radio’ sendiri mungkin lebih ke harapan agar single kami ini bisa berkumandang (lagi) di radio-radio se-Nusantara. Yang mana kami tahu hal itu semacam impossible, mengingat radio-radio di Indonesia – terutama Jakarta – hanya menjadi hits player, tidak lagi jadi hits maker seperti dahulu. Ya, ada sedikit sarcasm yang sarat akan harapan,” urai band ini kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.
Single “Radio” sendiri yang sebenarnya mulai diracik sejak 2016 lalu akhirnya mengudara, sekaligus sebagai penanda 22 tahun perjalanan karir Kripikpeudeus. Para personelnya saat ini – Agus Adhityatama a.k.a Gusse (dram), Leonardo Wangsa (bass), Irfandy Sjahril Rais a.k.a DFMC (gitar/vokal), David Rafael Tandayu a.k.a DRT (rap) dan anggota terbaru, Geraldo Oriza Rasjid a.k.a Aldo (gitar) – merampungkannya di studio milik label, Sirkus Records yang diproduseri oleh Tori Sudarsono. Proses penggodokan di studio tersebut termasuk workshop, diskusi rekaman hingga mixing dan mastering.
“Prosesnya sekitar dua setengah tahun, dan sampai saat band (merayakan) anniversary ke-20 pada 2017 lalu baru rekam vokal, setelah para vokalis sudah menulis lirik yang dirasa tepat. Dua tahun kemudian akhirnya baru bisa rilis. Kenapa sampai dua tahun? Karena ada pergantian gitaris.
Biasanya, tahapan penggarapan single di Kripikpeudeus dimulai dari proses jamming. Dan khususnya “Radio” ini, diawali dari instrumen gitar. Vokal lalu memberi tema dan lirik yang ditulis oleh DFMC dan DRT dengan tema yang telah disepakati. Dari situ, proses berkembang lewat proses saling menyahuti (shout), seperti gaya rap ‘classic’.
Sementara untuk konsep musikal, Kripikpeudeus mengaku masih menerapkan formula yang sama, dengan acuan seperti yang mereka terapkan sejak album pertama. “Kami condong menyebutnya lebih ke musik rock yang sangat terpangaruh blues, dengan pola yang sederhana dibalut duo vokal rap yang karakternya secara signifikan berbeda.”
Sedikit menengok ke belakang, Kripikpeudeus dibentuk pada 1997 di sebuah kampus, di fakultas seni dan desain, di bilangan Jakarta Barat. Saat ini, kelima personelnya bekerja dengan profesi yang terkait dengan bidang kreatif dan pendidikan. Album-album yang telah dirilis adalah “Rockin’ Da Rap Empire” (2003), “Idioritma” (2009) dan “Kripcousc” (2013).
Setelah single “Radio” yang sudah bisa didengarkan di berbagai kanal digital sejak 11 September 2019 lalu, Kripikpeudeus akan merekam single berikutnya, dengan tema yang disesuaikan dengan keseharian kegiatan para personelnya, yang walaupun padat, tetap berusaha dan semangat untuk bermusik. (mdy/MK01)
.