Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Derana” memiliki arti tahan dan tabah menderita sesuatu. Lebih jauh aplikasinya misalnya tidak lekas patah hati, putus asa, dan sebagainya. Secara personal, “Derana” adalah pesan Boniex Noerwaga – vokalis lama For Revenge yang kembali bergabung – buat Archims “Chimot” Pribadi (dram), Izha Muhammad (bass) dan Arief Ismail (gitar) untuk berlari lagi setelah langkah mereka nyaris terhenti pasca kehilangan vokalis beberapa waktu lalu.
Boniex yang tergabung di unit emo/post-hardcore dari Bandung tersebut sejak terbentuk pada 2006 hengkang dari bandnya itu setelah perilisan album kedua, “Second Chance” (2017). Posisinya lantas digantikan oleh Simon Simorankir yang sempat dilibatkan dalam penggarapan album “Auristella” (2019). Sayangnya, pada pertengahan November 2019, Simon juga meninggalkan For Revenge. Sejak itu, For Revenge lumayan kesulitan untuk bergerak.
“Kami sudah beberapa kali ganti vokalis, rasanya kalau harus mencari sosok baru lagi, bukan hal yang mudah, bahkan mustahil untuk mulai dari awal lagi. Chimot yang awalnya punya ide untuk mengajak Boniex balik, entah feeling aja kalau ini saat yang tepat untuk dia ‘pulang’. Dan ternyata Boniex pun punya keinginan yang sama,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan rasa suka citanya.
Kembalinya Boniex membawa pengaruh yang cukup besar dalam proses kreatif For Revenge. Beberapa waktu terakhir, For Revenge fokus dalam menggarap beberapa aransemen, hingga menghasilkan single “Derana” (serta single kedua, “Serana” yang bakal dirilis besok, 30 Januari 2020).
Di lagu-lagu tersebut, teknik vokal high pitch screaming dan aransemen progresif kembali menjadi jati diri For Revenge, yang sedikit dibubuhi ambience dan loop ala musik-musik ’80an untuk menambah rasa baru. Menurut pihak band, “Derana” diharapkan bisa membangkitkan memori pendengar For Revenge terhadap lagu-lagu dari album “Second Chance”.
Proses kreatif penggarapan single tergolong singkat. Setelah Boniex ‘pulang’, For Revenge langsung tancap gas, melakukan jamming dan membuat materi baru. Kurang lebih dua minggu, mereka bisa merampungkan dua materi lagu yang direkam di Reds Studio dan Escape Studio, Bandung, plus proses mixing dan mastering di Rostel Records, Depok.
“Proses penulisan lirik juga tergolong singkat. Mungkin karena empat tahun lalu kami pernah berada di formasi ini, rasanya nggak butuh waktu lama buat bangun chemistry. Untungnya, kami dibantu juga banyak kawan, salah satunya ada Salt (gitaris Eirene) sebagai music director. Banyak masukan dari dia yang akhirnya bisa menghasilkan nuansa yang lebih fresh di ‘Derana/Serana’.”
Dari segi musikal, tentu saja ada referensi atau inspirasi musik baru yang melingkupi proses penggarapan “Derana” dan “Serana”. Masing-masing personel punya referensi masing-masing yang mereka kemas menjadi satu.
“Chimot dengan referensi band-band post-hardcore-nya, Arief dengan new core-nya, Izha yang konsisten dengan musik emo era ‘2000an dan Boniex dengan modern rock-nya. Jika harus dideskripsikan, jika album ‘Second Chance’ adalah ‘era pertama For Revenge’, maka ‘Derana/Serana’ adalah ‘pijakan di era kedua For Revenge’.”
Sejak terbentuk pada April 2006 silam, For Revenge telah menghasilkan album rekaman penuh bertajuk “Fireworks” (2011), “Second Chance” dan “Auristella”. (aug/MK02)
.