Reuni IN HURRICANE RHYTHM Hasilkan “Pandora”

Tahun baru, menjadi momentum tepat bagi band punk rock asal Jakarta ini untuk kembali menggeliat, setelah diam tak bergerak selama tujuh tahun terakhir. Tanpa basa-basi, In Hurricane Rhythm langsung merilis single fresh bertajuk “Pandora” pada 7 Februari 2020 lalu, tak lama setelah memutuskan reuni.

“Proses kreatif bisa dibilang tergolong sangat cepat,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, mengenai proses kreatif penggarapan “Pandora”.

Materi “Pandora” yang memang sudah ada dalam bentuk mentah tanpa aransemen disiapkan Berry (vokal/scream), Tebe (gitar/vokal), Stefan Lopez (bass), Rezaldy (gitar), Banu Satrio (dram) dari jauh-jauh hari. Lagu tersebut sekaligus sebagai penanda kembalinya IHR di skena independen.

“Untuk proses rekamannya dikerjakan singkat, dalam jangka waktu selama kurang lebih dua minggu di studio SJM, milik Romano MJVW, di bilangan Cilandak, Jakarta selatan. Semua tujuan peluncuran single ini semata-mata untuk menyapa kembali skena setelah sekian lama vakum,” ungkap IHR menegaskan.

Lewat “Pandora”, IHR berusaha tetap berpegang teguh pada karakter musikalnya yang kental akan elemen punk. Tapi khusus untuk “Pandora”, IHR merancangnya dengan konsep merangkum benang merah dari semua rangkaian materi yang pernah mereka buat, mulai dari struktur lagu sampai warna aransemen.

“Tujuannya agar dapat membangkitkan kembali memori pendengar lama dan juga memperkenalkan ke pendengar baru akan aransemen dan warna musik In Hurricane Rhythm. Di lain hal juga sekaligus untuk mempertahankan warna asli sebagai bentuk konsistensi pada genre atau ciri khas band. Semua dirumuskan secara detail dan terstruktur mengingat sudah hampir tujuh tahun vakum tidak berkarya.”

Lirik “Pandora” sendiri bercerita tentang sosok seseorang yang selalu ingin mengeluarkan aura ingin dipuja oleh orang lain atau lingkungan sosialnya. Melihat fenomena perkembangan zaman saat ini, khususnya di media sosial, membuat kita ingin mengomentari fenomena fana yang diagung-agungkan seseorang atau kelompok hanya karena status sosialnya. “Pandora” juga dibuat sebagai kritikan terhadap sifat kepalsuan yang ditunjukkan oleh seseorang di kehidupan nyata ke orang lain hanya karena status sosialnya.

Kata ‘pandora’ sendiri diambil dari cerita rakyat Yunani kuno yang terkenal dengan cerita ‘Pandora Box’, yaitu sebuah hukuman atau kutukan dari para dewa ke pandora melalui kotak berisikan malapetaka bagi umat manusia jika dibuka. Di sini juga, IHR sekaligus menggarisbawahi bahwa manusia sepatutnya menjadi pribadi yang tidak tinggi dan selalu menjadi diri sendiri di kehidupan.

“Karena kita tak pernah tahu bahwa kejatuhan bisa datang dari mana pun jika kita menunjukkan sikap yang kurang bijak ke diri sendiri, orang lain maupun terhadap lingkungan kita.”

Setelah melepas “Pandora”, IHR bakal segera mempersiapkan diri terhadap kemungkinan merilis album mini (EP) atau album penuh. “Sejauh ini semua proses itu masih dalam tahap merumuskan materi-materi yang rencananya disiapkan untuk peluncuran berikutnya. Dan juga ada rencana kolaborasi bersama rekan-rekan musisi lainnya untuk karya IHR ke depan.”

Dimulai pada pertengahan 2004 silam, IHR terbentuk dari pertemanan para personelnya di sebuah kampus di bilangan Jakarta. Mereka lantas mempertemukan latar belakang musikal yang berbeda-beda, yakni Seattle sounds, metal, punk sampai hardcore. Sempat menggunakan nama The Untitled sebelum sepakat mengibarkan In Hurricane Rhythm. Dua tahun setelah terbentuk, IHR merilis single “My Empty Heart” dan “So Bad”. Pada 27 Februari 2009, IHR berhasil melepas album penuh pertamanya yang berjudul “Obsesi dan Cerita”. Pada 2013, IHR sempat melahirkan single berjudul “Naluri Semesta” dan “Diam” sebelum vakum. (mdy/MK01)

.

 

2 replies on “ Reuni IN HURRICANE RHYTHM Hasilkan “Pandora” ”
  1. Waduh gawat band ini reuni lagi.. bakalan melahirkan hits seperti di eranyakah? My empty heart dan Melukis dunia itu the best!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *