Setelah memecahkan keheningan lewat single “Angkara” yang dipekakkan pada pertengahan Februari lalu, kini unit hardcore asal Kota Batik, Pekalongan ini telah menasbihkan album keduanya, yang diberi titel “Utopis” pada 6 Maret 2020 lalu, via label Samstrong Records.
“Angkara” sendiri merupakan ungkapan rasa muak Righting Wrong yang diteriakkan dengan lantang, mengenai sifat ego manusia yang menjadi sumber dari berbagai masalah. Ego yang membutakan manusia membuat mereka arogan, tamak, nan serakah. Hal yang sebenarnya menuntun umat manusia menuju kehancuran, dengan menganggap kepalan tangan dan dentum peluru menjadi kunci dari semua permasalahan. Lagu berdurasi dua menit lima belas detik tersebut, menurut Righting Wrong menggambarkan secara rinci kondisi negara saat ini.
“Kami merekam ‘Angkara’ pada urutan ketiga (untuk album),” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS.
Proses rekaman “Angkara” serta lagu-lagu lainnya di “Utopis” dieksekusi di 4WD Music Studio, Semarang. Penggarapan teknisnya kembali didampingi oleh Hamzah Kusbiyanto yang turut serta membantu para personel Righting Wrong, yakni Rezha D. Saputra (vokal), Rizkul Umam (gitar), Saddam Baridwan (gitar) dan Mas Agus Kemmal Reza (dram), dalam merumuskan formula dan sound yang tepat sesuai dengan keinginan mereka.
“Proses rekaman ‘Angkara’ sendiri memakan waktu kurang lebih empat jam, dan tantangan yang kami temui, mungkin pada saat gitaris kami mengubah isian lead solo agar lebih pas. Menurut kami, (konsep musik kami) lebih ke arah hardcore dengan sentuhan thrash dalam balutan heavy yang lebih dark. Referensinya sendiri lebih ke (band-band seperti) Lamb of God, dan juga All That Remains.”
Righting Wrong sendiri sudah mulai mengibarkan eksistensinya sejak 2006 silam, yang dimulai oleh Rezha dan Angga. Keduanya bertemu di sebuah kolektif Skateboard (Moron Youth Crew) yang lantas melahirkan sebuah band hardcore setelah merekrut personel lain. Awalnya, referensi musikal band ini sempat mengacu pada The Idiot dari Jakarta. Namun pada 2007, mereka mengubah kiblat musiknya dengan mematok Terror dari Los Angeles sebagai kiblatnya. Dari awal terbentuk hingga saat ini, kerap terjadi perubahan pada formasi Righting Wrong, dan hanya menyisakan sang vokalis.
Oh ya, sebelum merilis “Utopis”, Righting Wrong telah melahirkan album debut bertajuk “Muda Berbahaya” (2014), juga via Samstrong Records. Selain itu, karya Righting Wrong sempat pula meramaikan “Sambung Balung”, sebuah album kompilasi yang diinisiasi oleh rekan-rekan mereka dari Batik City Hardcore (BCHC) yang berkolaborasi dengan Wound Skate Cloth. (aug/MK02)
.