Sambil menyiapkan album penuh pertamanya, sebuah single berapi-api dikobarkan unit hardcore asal Magelang, Jawa Tengah ini. Lewat single bertajuk “Lawan”, Wolfbreath meneriakkan aspirasinya, mencecarkan kritikan tajam terhadap isu-isu sosial politik terkini.
“Kami melantunkan pesan kritikan ke dalam sebuah lagu. Hal tersebut senada dengan passion kami di bidang musik hardcore,” cetus band yang diperkuat formasi Muhammad Fikri Maulana (bass), Pramuditya Elang (gitar), Yosef Haryo Setyo Wiwoho (gitar), Petrus Dian Agus Nugroho (dram) dan Vincentius Candra Krisantama (vokal) ini menegaskan.
“Lawan” digodok Wolfbreath selama setahun, dimulai awal 2019 hingga akhirnya rilis pada 21 April 2020 lalu. Proses pembuatannya menerapkan perakitan yang sarat proses improvisasi, bersama lagu-lagu lainnya yang direncanakan bakal dimasukkan ke album penuh.
“Pertama-tama (ide) dikumpulkan dari berbagai usulan mengenai riff gitar, dram, lirik, vokal, pada setiap sesi latihan dan saat kumpul bersama, berdasarkan pengalaman dan referensi setiap individu. Pembuatan single, dilandaskan pada tema perlawanan, karena pada saat menciptakan lagu tersebut banyak sekali isu sosial politik yang muncul dan kami melantunkan pesan kritikan dan menceritakan suasana saat itu, ke dalam sebuah lagu. Setelah mengumpulkan ide dan pengalaman, kami mulai menyusun single tersebut secara perlahan tapi pasti. Setelah mantap dan matang dalam latihan, kami pun memutuskan untuk melakukan rekaman. Kami memilih melakukan take secara mandiri di studio rumahan bernama Beatjeat Stronger. Alasannya, agar kami lebih leluasa dalam menyempurnakan single dan tidak terbeban oleh waktu,” papar Wolfbreath kepada MUSIKERAS.
Hardcore menjadi titik sentral pembentukan musik Wolfbreath, termasuk di single “Lawan” ini. Karena memang, para personelnya berasal dari skena hardcore, dan mereka menganggap single “Lawan” sebagai hardcore gaya bebas.
“Karena kami memadukan tidak hanya satu genre saja. Referensinya kami ambil mulai dari Nasty, Slayer, First Blood, CDC, Shattered Realm, Madball, Terror dan bahkan Seringai.”
Wolfbreath mulai memanaskan mesin musikalnya pada 2017, dimana mereka mengombinasikan beatdown dengan unsur-unsur hardcore Amerika, Jerman dan Belgia. Wolfbreath sendiri akhirnya terbentuk berdasarkan sebuah evaluasi, karena segagalan-kegagalan band yang pernah dibentuk sebelumnya. Selain itu, mereka juga mengemban misi untuk menerangkan skena hardcore yang mulai redup.
Saat ini, Wolfbreath kembali berkutat pada proses perampungan materi album debut yang bakal diberi judul “Disintegrasi”. Ada delapan lagu yang termuat di album tersebut, dan kini sudah memasuki tahapan persiapan akhir. Mereka menargetkan perilisan album pada pertengahan atau menjelang akhir 2020 mendatang.
Selain di kanal YouTube, “Lawan” kini juga bisa didengarkan melalui berbagai penyedia jasa dengar musik digital (streaming) seperti Reverbnation, Soundcloud, Bandcamp, Spotify, Dezeer dan lain-lainnya. (aug/MK02)
.