“Guntur”, Komposisi Instrumental Terbaru THE CALISTUNG

Masih menjadikan permainan nada instrumental yang antara lain bernafaskan referensi seperti band Polyphia, Chon, Plini dan Intervals sebagai ujung tombak musiknya, trio yang menyebut dirinya ‘the bada$$ instrumental homeboys’ asal Surabaya ini kembali melontarkan single baru. Kali ini bertajuk “Guntur”.

Konsep “Guntur” sendiri cukup bertolak belakang dengan album mini (EP) “Empat” yang dirilis The Calistung tahun lalu. Di EP tersebut mereka memuat empat komposisi bertema unsur-unsur alami yakni “Bumi”, “Agni”, “Banyu” dan “Bayu”. Nah, “Guntur” ini mereka sebut sebagai gabungan dari empat unsur utama tadi.

Secara konsep visual, “Guntur” digambarkan dengan wujud pahlawan (ranger) berwarna perak dan ditampilkan dengan aksen petir yang menyimbolkan kekuatan materi lagu mereka ini. Dari sudut pandang musikal, “Guntur” mereka klaim memberikan kehangatan yang tersalurkan melalui notasi-notasi minor plus balutan ketukan yang konstan dalam dinamika yang relatif lebih rendah.

“Instrumental kami pilih karena kami berusaha dan tertantang untuk mendeskripsikan mood yang biasanya melalui lirik, namun kali ini menggunakan nada-nada, baik dari gitar, bass, dram atau synths. Singkatnya kami terinspirasi oleh musisi-musisi sejenis seperti Polyphia, Chon, Animal As Leaders, Plini dan lain-lain. Permainan musik kami didominasi dengan iringan lead guitar bersamaan dengan lead synths yang dibalut dengan overdriven bass dan drum patterns yang kadang poliritmik dan sedikit chop ala Gospel drumming. Nuansa-nuansa orkestra atau ambience sering kami hadirkan untuk menambahkan mood utama musik,” urai gitaris Anggie Aldila Ditaputra, mewakili rekan-rekannya di band.

Bahkan, rencana ke depan The Calistung yang juga diperkuat Muhammad Andilaksmana (bass) dan Reka Fernanda (dram), eksplorasi musikal mereka juga bakal melebarkan penggunaan instrumentasi, dengan menambahkan alat musik lokal seperti gamelan, angklung dan sebagainya.

“Deskripsi musik kami adalah ‘badas$$ instrumental homeboys’. ‘Homeboys’ karena kami mostly musisi kamar, ‘bada$$’ karena kami berusaha seunik mungkin di Indonesia, bahkan dunia!”

Kembali mengenai single “Guntur”, ternyata menurut The Calistung proses penggarapannya cukup singkat. Single tersebut dibuat untuk menutup EP “Empat”, yang mana desain visualnya (artwork) menggunakan empat ranger dengan empat unsur dasar planet bumi. Maka sejatinya, cerita Supersentai/Power Ranger, akan datang Ranger spesial untuk melengkapinya.

“Guntur” dibuat hanya dalam sehari, yang diawali dari riff tapping Anggie yang lantas dilanjut dengan tracking bass keseluruhan lagu. Setelah itu barulah dilakukan tracking untuk dram dengan menyesuaikan kebutuhan dari riff-riff yang telah dibentuk. Rekamannya dilakukan di studio pribadi The Calistung, namun untuk proses mixing dan mastering dieksekusi oleh Ricky Aprianto dari @Rostelsrecords.

Oh ya, pemilihan nama The Calistung sendiri didasari konsep bermusik mereka yang melibatkan tiga konsep pendidikan: Baca, Tulis dan Hitung. Walaupun tidak secara urut, namun mereka melakukan penulisan lagu (‘tulis’) terlebih dahulu melalui Midi. Setelah itu, data Midi dari gitar, bass dan dram disebar untuk di-‘baca’ . Reka lalu meng-‘hitung’ part poliritmik-nya dan keseluruhan permainan dram harus sesuai dengan ide-ide yang tergambar pada data Midi tadi, yang direalisasikan menjadi permainan nyata.

Setelah “Guntur”, rencananya The Calistung bakal merilis single pendek, sambil menyiapkan EP baru berisi tiga lagu dalam waktu dekat ini. (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.