Sebuah pemantik kecil bertajuk “Strata Setara” telah diletupkan Kausa, unit keras yang dirakit oleh sekelompok pemuda ‘pemarah’ Jakarta. Dengan karya terbaru tersebut, mereka memanaskan rencana untuk sebuah kebakaran besar. Kobaran yang terbentuk dari akumulasi kemarahan, yang akan dimuntahkan lewat album kedua berjudul “Una In Pepertuum”.
Kausa sendiri adalah ruang ekspresi lain dari Lukman ‘Luks’ Laksmana, vokalis dan gitaris yang selama ini dikenal sebagai corong utama band punk rock ibu kota, Superglad. Namun kali ini dengan perwujudan makhluk yang berbeda. Terutama dari penentuan konsep musik.
“Perbedaan konsep musik sangat jauh berbeda,” cetus Luks kepada MUSIKERAS, membandingkan antara Superglad dan Kausa.
“Superglad banyak nuansa punk rock, sementara Kausa banyak nuansa metalnya. Bahkan album baru pun lebih berat. Superglad lebih banyak lirik ceria, sementara Kausa banyakan lirik marahnya. Secara teknis, sound gitar juga berbeda jauh. Superglad lebih ke sound drive standar punk rock yang lebih ‘nyaman’ di kuping, sementara Kausa lebih berat dengan distorsi yang lumayan deep karakternya. Lalu kebanyakan lagu Superglad (di tangga nada) mayor, minornya dikit. Di Kausa, nggak ada mayor, minor semua!”
Single “Strata Setara” sendiri disebut pihak band – yang juga dihuni Farid ‘Fafa’ Niamillah (gitar), Danar Laksana (bass) dan Ivan Chairil Anwar (dram) – sebagai suara mereka atas semakin tidak jelasnya penerapan hukum di Tanah Air. Bahkan sejak jaman dahulu hingga sekarang, hukum bisa dibilang buta, tidak bisa melihat mana yang salah dan mana yang benar. “Strata Setara” bersuara tentang kesetaraan dalam hak dan hukum buat semua.
Jika mengamati musiknya yang didominasi komposisi cepat, ada sedikit pengembangan yang dilakukan Kausa, jika dibandingkan album debutnya, “Corvus Corvidae” yang dirilis pada Maret 2019 lalu. “Referensi musik di single ini terinspirasi dari (album) ‘Peace Sells but Who’s Buying’ dari Megadeth,” seru pihak band terus-terang.
Tapi lebih jauh, eksplorasi konsep soundnya juga lebih dalam. Lebih berat karena menerapkan penalaan (tuning) gitar pindah ke A# dari sebelumnya di Drop C.
“Sound pun dieksplor lebih dalam karena ini pertama kalinya kami rekaman secara bersama di studio, dimana album ‘Corvus’ kami rekaman secara terpisah di rumah masing-masing. Konsep musikal di album ‘Una in Pepertuum’ nanti pun boleh dibilang lebih dark, juga lebih ‘metal’ dari sebelumnya. Lini vokal juga sebagian dibuat growl namun tetap ada sisi nyanyian ciri khas vokalis kami.”
Sejauh ini, prosesi penggarapan album “Una In Pepertuum” yang rekamannya dilakukan di DOORS Studio Jakarta sudah sampai di tahap mixing dan mastering, yang ditangani oleh Giox Superglad. Target perilisannya diharapkan bisa dieksekusi pada September 2020 mendatang.
Sambil menanti kemasan amarah Kausa di “Una In Pepertuum”, saksikan video musik “Strata Setara” di bagian akhir artikel ini. Karena menurut Kausa, sebuah musik protes akan lebih tersampaikan tujuannya apabila dibarengi dengan visual gerak. (mdy/MK01)
.