Berkubang di kedalaman riak musik progresif memberi kepuasan tersendiri bagi unit penganut progressive rock asal Malang, Jawa Timur ini. Karena secara definisi dan prakteknya, genre progresif memberikan kebebasan yang sangat luas bagi mereka dalam bereksplorasi. Sebuah kemerdekaan sebagai musisi, yang akhirnya bisa mereka lampiaskan secara nyata di album rekaman perdananya yang bertajuk “Bhaskara”.
“Secara garis besar, hal utama yang membuat genre ‘progresif’ ini istimewa bagi kami adalah unsur eksplorasinya dalam meracik komposisi sebuah lagu, baik dari segi progresi kord, ritme ketukan, durasi, hingga pemilihan nada melodi serta redaksional kata dalam lirik. Dan juga, karena progresif ini mengutamakan eksplorasi, banyak musisi atau band yang masuk dalam payung progresif (menjadi) terdengar benar-benar berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga seperti membuka cakrawala bermusik bagi kami yang merupakan penikmat musik progresif dan juga musisi,” urai Shellin kepada MUSIKERAS, menjabarkan.
Saat menggarap “Bhaskara”, para personel Shellin yang dihuni formasi Muhammad ‘Abo’ Fitryan Al Fajri (vokal/gitar), Dwiky Rifandianto (gitar), Rifqy Izzatul (kibord), Ahmad Hasan Armani (bass) dan Gesang ‘Icang’ Priya Pamungkas (dram) mengakui banyak mendengarkan band-band luar seperti The Contortionist, Periphery, Plini dan Interval sebagai sumber referensi dan inspirasi.
Tapi Shellin sendiri juga tidak tanggung tanggung dalam meramu komposisi versi mereka sendiri. Lagu-lagu mereka di “Bhaskara” berdurasi antara 6-8 menit, dimana mereka mengeksplorasi banyak hal dalam teknik penulisan lagu. Contohnya misalnya di trek “Lubang Hitam”, dimana Shellin menerapkan struktur yang tidak melibatkan pengulangan atau repetisi.
“Menurut kami, di lagu ‘Lubang Hitam’ ini, secara komposisi, eksplorasi musik, dinamika dan pembagian liriknya seimbang. Dan di lagu ini, materi yang disampaikan lebih menggambarkan apa yang kami rasakan, yang menggambarkan siklus kehidupan berbagai orang di dalamnya.”
Album “Bhaskara” sendiri dibangun dan dirakit selama kurang lebih 2-3 tahun. Dituntun oleh Abo yang memilki skill dasar dalam audio engineering dalam proses rekaman, dan kemudian diteruskan oleh Rizqtsany dari The Moses Purposes dan Remissa untuk proses mixing dan mastering. Dalam kurun waktu yang cukup lama itu, para personel Shellin terus-menerus mengolah dan memoles ulang lagu-lagu mereka, mulai dari komposisi hingga peramuan tata suara.
Lalu, di dalam proses album ini juga, terdapat perbedaan pengisian vokal dalam beberapa lagu. Di lagu “Ironi”, “Saturasi” dan “Jerit Tangis Tatih” dibawakan oleh Yudha Prawira, sementara di lagu “Eureka”, “Laut Dalam” dan “Lubang Hitam” dieksekusi oleh Abo. Penyebab dari perbedaan vokal tersebut disebabkan mundurnya Yudha dari band di tengah proses penggarapan album. Akhirnya beberapa materi lagu yang belum diselesaikan oleh Yudha diteruskan oleh Abo di vokal sembari memainkan gitar.
Shellin sendiri mulai terjun ke skena progressive rock pada 2016 lalu, dan telah merilis “Ironi” dan “Saturasi” sebagai single perkenalan tahun lalu. Oh ya, saat terbentuk pertama kali, awalnya mereka mengibarkan nama Shellin Parker, namun lantas dipangkas menjadi Shellin saja agar lebih mudah diingat oleh penikmat dan penggemar musik mereka. (mdy/MK01)
.