KOIL : “Kami Makin Tua, Jangan Sampai Tumpul Energi dan Kreativitasnya!”

Semua personel Koil sering mendapat ‘kiriman’ yang membuat kami sakit cukup parah oleh orang yang tidak menghendaki Koil merilis album baru…!”

Pengakuan di atas adalah lontaran klarifikasi dari vokalis Koil, JA Verdijantoro a.k.a. Otong yang disampaikan ke MUSIKERAS, sebagai salah satu jawaban atas banyaknya pertanyaan, kenapa perilisan album baru Koil butuh waktu sangat lama. Ia tidak menjelaskan lebih detail soal ‘kiriman’ itu, tapi yang jelas banyak faktor yang membuat Koil kesulitan merilis karya-karya barunya. Meskipun hal-hal yang bersifat teknis sebetulnya cukup mudah mereka atasi.

“Yang membuat lama adalah hilangnya data-data lagu beberapa tahun terakhir ini, juga materi ide-ide lagu baru yang hilang entah kemana, dan bagaimana bisa hilang? Kami tidak mengerti…,” urai Otong terus-terang.

Tapi apa pun itu, penantian panjang para pemuja unit industrial rock fenomenal asal Bandung ini akhirnya berakhir. Sebuah rilisan bertajuk “First Installment” kini sudah mereka lempar ke pasaran sejak 18 Desember 2020 lalu, yang diwujudkan atas kerja sama Koil dengan Warkop Musik dan Fast Music sebagai pihak perilis.

Sejak menjejakkan karir pertama kali di kancah musik independen pada 1993 silam, Koil tercatat baru merilis album mini (EP) “Demo From Nowhere” (1994), album “self-titled” (1996), “Megaloblast” (2001) dan karya terakhir sebelum “First Installment”, yakni “Blacklight Shines On” (2007). 

Yaaaa…, memang hanya dua lagu baru di album tersebut, yaitu “Pecandu Narkhotbah” dan “Sorak Bergembira”, di antara 11 trek yang menyesaki “First Installment”. Tapi paling tidak, kedua komposisi yang direkam pada September 2020 lalu tersebut bisa mengobati dahaga akan karya Koil yang ternyata masih berbisa, masih menonjolkan ciri kuat mereka seputar terapan riff-riff berat serta atmosfer gelap dan ketukan yang memicu pendengar untuk ber-headbang-ria. 

Dan dari segi lirik, tema lagu masih mengedepankan keurakan serta pemilihan diksi pedas di sektor lirik, yang benar-benar merepresentasikan keunikan Koil selama ini. Dalam “Pecandu Narkhotbah” misalnya, Koil menyentil fenomena kesalehan sosial. Liriknya langsung menohok sejak verse pertama digeber. 

Sementara pada “Sorak Bergembira”, Koil seperti menyinggung sifat dengki lewat frasa ‘… Dan dalam penderitaannya, kita bersorak gembira…’, dibubuhi bagian menggelitik berupa ocehan berbahasa Sunda pada bridge: ‘riweuh sia kehed, wayah kieu ulin santet’. Lagu ini juga makin ‘serampangan’ dengan suntikan sampling, mulai dari kutipan suara orang marah-marah hingga potongan lagu “Ya Mustafa” dari film Warkop DKI di bagian akhir lagu. 

“Kedua lagu ini (juga) sudah lama dibikinnya. Hanya… tiga versi awal datanya hilang. Jadi yang sekarang adalah versi paling akhir yang bisa didengarkan dan mungkin ada sedikit perbaikan di rilisan album baru nantinya,” kata Otong. 

Sesuai judulnya, “First Installment” rencananya memang menjadi gerbang pembuka menuju perilisan beberapa seri ‘installment’ berikutnya. Setiap lagu baru yang termuat di masing-masing ‘installment’ tersebut nantinya bakal dikumpulkan jadi satu, menjadi sebuah album baru Koil yang sesungguhnya. 

Bagi Otong, gitaris Donnijantoro, bassis FX Adam Joswara dan dramer Leon Ray Legoh, “First Installment” merupakan suguhan yang lebih dari sekadar lagu-lagu. Ada kreativitas berbeda yang dijejalkan di dalamnya. Misalnya di salah satu lagu lamanya, “Aku Lupa Aku Luka”, Koil malah membiarkan singgasananya diisi oleh kuartet Cosmowanda, yang mengeksekusi lagu tersebut lewat interpretasi bernuansa hard rock. Begitu pula di lagu “Nyanyikan Lagu Perang” dan “Sistem Kepemilikan” yang diberi imbuhan lebih melodius dan kental akan corak alternative rock ’90-an. Kedua trek tersebut dikerjakan oleh Genesida, nama ego Al Azhtraal yang tak lain adalah putra Otong sendiri. 

Pada nomor “Sistem Kepemilikan”, Koil menerapkan aransemen akustik yang dikombinasikan dengan sampling di akhir lagu, hasil comotan dari potongan film hingga pembacaan novel erotis “Sepanas Bara” karya Enny Arrow. Sampling yang diambil seolah jadi fragmen dari lirik cinta di lagu tersebut. Lalu, lagu ini kemudian ditutup dengan lantunan bait pertama lagu “Janji” milik kelompok pop era ’80an, Niagara. Terakhir, ada pula lagu “Semoga Kau Sembuh” serta “Dan Cinta Kita Terlupakan” yang didaur ulang dengan konsep alunan lebih syahdu dan gelap jika dibanding versi aslinya. 

.

.

“Semua lagu lama kami tinjau ulang dan diberi sentuhan yang berbeda dari sebelumnya untuk mengasah kreativitas bermusik, karena kami makin tua kan… Jangan sampai tumpul energi dan pola pikir kreatifnya,” kata Otong memberi alasan.

Kejutan “First Installment” tak lepas sampai di situ. Mereka juga menyisipkan empat komposisi cover, dimana Koil menumpahkan interpretasi versi mereka sendiri terhadap lagu-lagu yang pernah hits di era ‘90an. Ada lagu “1979” (The Smashing Pumpkins), “Interstate Love Song” (Stone Temple Pilot), “Closer” (Nine Inch Nails) serta “Rilkean Heart”, karya trio dreampop asal Skotlandia, Cocteau Twins.

“Jadi kami ngajakin bernostalgia ke jaman-jaman itu. Kalo disambungin sama musiknya Koil, band-band tersebut adalah inspirasi bagi kami.”

Oya, ilustrasi robot yang menghiasi sampul album “First Installment” tadinya merupakan ide awal dari keseluruhan konsep ‘installment’. Tadinya, artwork tersebut hanya akan dirilis dalam bentuk tshirt, hasil kolaborasi antara Koil dengan seniman gambar yang diberi judul “killer.drawing.skills”.

“Tapi paaak… seiring waktu, ide berkembang untuk memberikan CD sebagai bonus pembelian tshirt tersebut, yang akhirnya dinamakan ‘installment’. Dan setelah berhitung perkiraan materi lagu yang ada di bank-nya Koil, kemungkinan bisa rilis enam ‘installment’ dengan jumlah lagunya sekitar 70 lagu dalam bentuk CD dan kaset.”

Lebih jauh, “First Installment” sekali lagi ditegaskan Koil sebagai bentuk pelampiasan rasa frustasi mereka atas rencana album baru yang tak kunjung terlaksana. Sekaligus sebagai upaya pendokumentasian karya yang padu. Tak hanya memperdengarkan karya baru dari perenungan panjang, tetapi juga berupa dokumentasi perjalanan musikal Koil lewat ziarah ke ragam referensi yang memengaruhi dan membesarkan mereka. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *