Usai Vakum, SABERTOOTH Tancapkan “Fury” di Skena Hardcore

Tak ada maksud selain menghibur dan menambah sesak telinga. Salah satu rooster Temple City Hardcore, Magelang ini akhirnya kembali mengibarkan benderanya, sekaligus membakar semangat dan melepas kekesalan untuk merespon keterbatasan ruang gerak sekitar yang terjadi belakangan ini. Maka lahirlah single terbaru, “Fury” yang dirilis bersamaan dengan video musiknya pada 20 Januari 2021 lalu, setelah lebih dari setahun absen dari ingar bingar skena musik keras. 

“Fury” sendiri menjadi karya rekaman pemanasan menuju rencana peletusan album kedua Sabertooth yang dicanangkan rilis tahun ini juga. Bukan baru mulai, tapi penggarapan “Fury” tersebut sebenarnya merupakan proyek mangkrak, yang sudah mulai diotak-atik sejak tiga tahun lalu. 

Sebelumnya, band yang dihuni formasi Rikki Efansyah a.k.a. Hays (vokal), Alldino Virgiawan Bagus Nugraha a.k.a. Dino (bass), Ozzie Pratama Putra (gitar), Aditya Danang Saputra a.k.a. Locos (gitar) dan dramer Farid Kristiadi Wibowo a.k.a. Wowok (untuk sementara sekarang diisi oleh additional drummer Sapto Widodo a.k.a. Dodok) ini sudah pernah merilis album debut “Provement From The Wise Tigers” (2014) melalui platform digital streaming serta beberapa format rilisan fisik.

Eksekusi peluncuran “Fury” sempat tertunda karena beberapa hal. Salah satunya mundurnya sang dramer untuk rehat dari musik. Awalnya, “Fury” direkam di Tung2 Studio, lantas dilanjutkan di Evolve Studio. Semuanya berlokasi di Magelang. Single “Fury” lumayan menghabiskan waktu produksi, baik dari segi aransemen lagu serta produksi video musik yang digarap bersama Pandora Films dan Blessing Studio. Tapi menurut tuturan Sabertooth kepada MUSIKERAS, justru hal itu yang menarik, dimana mereka akhirnya menemukan satu konsep untuk menyampur klip dengan lirik di video terbarunya.

“‘Fury’ adalah wujud dari luapan emosi yang kami pendam selama ini. Bisa dirasakan sendiri, baik secara visual dan aransemen berbeda dibanding album kami yang sebelumnya, yang lebih menonjolkan distorsi berat dan lambat. Namun kali ini kami sedikit memilih memasukkan tempo cepat dan isian blasting di ketukan snare drum, namun tetap tight,” urai Sabertooth yang mengaku kali ini banyak terinspirasi ide-ide musikal dari band-band dunia seperti Malevolance, Rise Of The Northstar, Harm’s Way serta penganut paham heavy hardcore lainnya.

Jika dibanding album pertamanya, Sabertooth menyebut “Fury” dan materi-materi lainnya di album kedua nanti masih tetap akan menancapkan heavy hardcore sebagai benang merahnya. “Pergeseran mungkin hanya di aransemen musik, lirik dan penyuguhan saat live saja.”

Sejauh ini, penggarapan album kedue Sabertooth sudah mencapai 70-80%. Pasalnya, beberapa materi sebelumnya sempat hilang saat melakukan duplikasi data. “Sisanya hanya menunggu untuk mixing dan mastering saja, karena kami balik lagi produksi ke studio lama (Tung2 studio), kemudian dilanjutkan ke produksi rilisan fisik karena artwork serta judul album sudah kami bereskan. Semoga tahun ini benar-benar rilis, apa pun kondisinya.”

Sedikit menengok ke belakang, karir Sabertooth mulai menggeliat pada 2012, lalu tumbuh dan berkembang di skena TCHC (Temple City Hardcore). Para personelnya datang dari band berbeda. Hays awalnya tergabung di Crashbone, Locos (Unframed),Wowok (Striker), sementara Dino dan Ozzie dari Dislike Enemy. Mereka lantas menyatukan visi dan sepakat mengibarkan nama Sabertooth sebagai wujud keseriusan. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.