EMDISI Lebarkan Jangkauan Heavy Rock di Single “Hegemoni”

Energi untuk tetap bisa memanifestasikan sebuah perlawanan dalam sebuah bentuk lagu akan selalu hidup dan tak pernah mati. Itu tekad unit heavy rock asal Bandung ini, saat memutuskan menggarap dan merilis single rekaman terbarunya, “Hegemoni”. Lagu ini juga sekaligus diproyeksikan sebagai salah satu amunisi menuju peletupan album mini (EP) ketiga Emdisi, setelah “Enigmatic” (2016) dan “Povstanie” yang diluncurkan pada pertengahan Februari 2019 lalu.

“Hegemoni” sendiri diteriakkan formasi terkini Emdisi; Indra ‘Abeng’ Wibawa (dram), Heru Suryadi (bass) dan Uninugraha ‘Unay’ Hamman (gitar/vokal) sebagai sebuah protes terhadap bobroknya rezim pemerintahan yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan golongannya. Di mata band bentukan awal 2012 silam ini, pemerintah hanya bisa menebar teror ketakutan dan propaganda-propaganda busuk di balik sumpah dan janjinya terhadap Tuhan dan rakyat yang mereka bodohi demi sebuah kekuasaan. 

“Selamat datang tahun kegelapan baru! Terasa begitu sulit sekali untuk mempertahankan dan menghidupkan terus mesin perlawanan ini di tengah pandemi dan ketidakpastian akan sebuah harapan kehidupan yang lebih baik. Tidak sedikit orang yang menyerah dan lalu pergi memutuskan untuk tidak lagi bersama,” ujar pihak band getir.

.

.

Proses rekaman “Hegemoni” digarap Emdisi hanya dalam waktu dua minggu di Rebuilt Studio, Bandung, dengan bantuan teknis dari Avedis Mutter (Aftercoma). Termasuk pemolesan mixing dan mastering. Namun demikian, proses pematangan lagunya ternyata butuh waktu hampir tiga bulan disebabkan jadwal latihan yang tidak teratur, imbas kesibukan masing-masing personel serta deraan pandemi.

Tapi di lain sisi, “Hegemoni” juga dipersembahkan Emdisi sebagai sebuah selebrasi memperingati usia sembilan tahun ‘kolektif busuk’ ini. Lalu untuk mengeksekusinya, Emdisi mengajak sahabat lama mereka, gitaris Hinhin Agung Daryana a.k.a. Akew (Nectura/Humiliation/Sarasvati) untuk berkolaborasi. Menurut penuturan Emdisi kepada MUSIKERAS, rencana mengajak Akew untuk berkolaborasi sebenarnya sudah ada sejak lama. Bahkan sebelum EP kedua mereka dirilis.

“Namun waktu itu kami belum kepikiran tentang konsep musik yang akan kami buat seperti apa… sampai akhirnya kami coba buat sesuatu yang berbeda memadukan heavy rock ala Emdisi dengan perpaduan lead dan sound gitar metal milik Akew. Disamping berteman sudah sejak lama dan sempat ngeband bareng juga bersama Unay circa tahun 2000an, bagi kami Akew merupakan sosok yang tepat untuk diajak berkolaborasi,” cetus Emdisi meyakinkan. 

Kehadiran Akew sedikit banyak ikut memperlebar cakupan geberan musik Emdisi, dimana mereka mencoba lebih bereksplorasi dengan memadukan musik rock, metal dan hardcore. Leburan itulah yang melahirkan komposisi heavy rock ala Emdisi dengan referensi musik antara lain dari band-band dunia seperti Deftones, Alice In Chains dan Pearl Jam hingga pejuang lokal macam Homicide, Forgotten, Nectura, Kubik, Nicfit, Fable, Rumahsakit hingga Pure Saturday.

Setelah rilisan “Hegemoni”, Emdisi bersiap mengumpulkan bekal berikutnya sebagai amunisi penggarapan EP ketiga mereka. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *