ADRIAN ADIOETOMO Kembali Lewat Karya Blues Rock Kelabu yang Eksploratif

Sebuah single kelam kelabu bertajuk “Burning Blood, Cold Cold Ground” yang menjadi gerbang menuju perilisan album terbarunya telah menandai kembalinya Adrian Adioetomo meramaikan skena musik Indonesia. Kali ini dengan menyandang gumpalan kerikil blues/Americana.

“Burning Blood, Cold Cold Ground” yang telah tayang di kanal YouTube sejak 25 Februari, 2021 lalu berbicara tentang daya-tarik gravitasi kemurkaan dan bagaimana seseorang bisa terhisap ke dalamnya sehingga menderita pada akhirnya. Liriknya didramatisir untuk menggambarkan kesan ketidak-pedulian terhadap segalanya, termasuk diri sendiri.

Tapi secara keseluruhan, buncahan lirik yang membubuhi albumnya membahas beragam hal. Misalnya tentang konsep kehidupan, cinta dan hal-hal fatal di dalamnya, serta hal-hal lain yang disebut Adrian tidak berdasarkan kejadian sebenarnya. “Lirik lebih ke kontemplasi personal, bukan ‘curhat’ (curahan hati). Gue mencoba mengambangkan idiom-idiom yang biasa ada di tema-tema lirik blues delta lawas,” seru Adrian kepada MUSIKERAS, berusaha meyakinkan.

Sementara di olahan musiknya, permainan gitar Adrian tidak meninggalkan slide Delta-blues andalannya. Bahkan kini juga ada elemen Bluegrass seperti pada musik Americana, namun ditabrakkan dengan avant-garde pada aransemen dan pilihan soundnya. Ini dilakukan dengan memposisikan gitar akustik yang jernih dengan sound distorsi elektrik yang terdengar nyaris ‘rusak’. Lalu jika diamati lebih dekat, akan terdengar denting piano menyelinap menambahkan nuansa ‘jahat’ menyerupai zaman Renaissance.

.

.

Sementara itu, melodi vokalnya sendiri banyak mengambil referensi dari ‘lolongan polos’ khas Delta Blues yang terkesan kontradiktif agar seimbang.

“Referensi agak susah, gue pengen jauh-jauh dari stereotip blues,” ucap Adrian lagi, sedikit mengklarifikasi. “Beberapa sound (di gitar) nyontek dari (Jimi) Hendrix misalnya. Lalu sound fuzz dari Daniel Lanois, produser album U2, beberapa sound gitar juga ‘nyontek’ dari dia.”

Di sisi lain, Adrian juga berusaha untuk tidak terjebak pada pakem Delta Blues. Baginya, Delta Blues tidak harus terpatok pada format ‘polos’ seperti yang tersaji di album debutnya, “Delta Indonesia” (2007) misalnya. “Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi. Contohnya (duo musisi Amerika) The White Stripes. Intinya, bagaimana berekspresi dan melukiskannya dalam sebuah bentuk. Makanya lepas album pertama gue bereksperimen. Semua sound (diracik) dalam rangka untuk melukis ekspresi perasaan yang terkadang sangat abstrak.”

Oh ya. Album baru Adrian Adioetomo tersebut dirilis pada 28 Februari 2021 hanya dalam format fisik (CD). Memuat 14 lagu dan dibiarkan dikemas tanpa judul. Diumpamakan Adrian seperti album Led Zeppelin “4” atau The Beatles “White Album” yang sebenarnya juga tak berjudul. Tapi Adrian sendiri mengakui, ia membiarkan albumnya polos karena, “Sejujurnya gue bingung harus memilih judul apa… hahaha!” 

Adrian Adioetomo telah dikenal sebagai perintis kebangkitan skena blues dan terbilang pionir Delta Blues Indonesia. Selain merilis beberapa album, Adrian juga tergabung di band rock Raksasa, bersama Franki “Pepeng Naif” Indrasmoro. Walau sering disebut sebagai seorang “Delta bluesman”, gaya bermusik Adrian sebenarnya memadukan elemen rock, alternative, dan ‘dark country’. Pada 2017, ia meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) untuk lagunya yang berjudul “Tanah Ilusi”.

Kepada pendengarnya, Adrian melambangkan sesuatu yang lain: seorang penyendiri, menggores jejaknya, menggapai tanah tak terjamah seraya tetap membawa kedua tradisi: blues Amerika dan tanah kelahirannya. Dalam album produksi MySeeds Music Production dengan distribusi via Demajors Records ini, Adrian menemukan cara baru untuk tetap berpijak pada kenyataan sembari membiarkan perasaan-perasaan tak terucap bergulir jauh, seperti gulma kering di gurun Mojave. (mdy/MK01)

Kredit Foto: Jose Riandy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.