Album Baru DEVOURED Menukik ke Death Metal Kelam

Keberingasan brutal death metal kini sedikit dilenturkan oleh unit cadas asal Yogyakarta ini. Selepas debut album “The Lost Kingdom” yang dirilis pada 2013 lalu, yang lantas dilanjutkan menjalani tur ke berbagai kota di Indonesia, Devoured sampai pada pemikiran baru. Mereka meramu sebuah gagasan yang mengakibatkan pergeseran di konsep musiknya. Seperti yang mereka tuangkan di album kedua, “The Curse of Sabda Palon”.

Meski dianggap gagasan baru, tapi sebenarnya Devoured tidak meracik konsep musik baru. “Malahan kembali ke old school death metal. Bukan brutal death metal seperti yang kami usung sebelumnya,” beber vokalis Devoured, I Nyoman Sastrawan kepada MUSIKERAS, mewakili bandnya.

Jika dideskripsikan, konsep musik album “The Curse of Sabda Palon” adalah bauran nuansa kelam dan usang, dengan olahan sound yang natural. Sementara saat penggarapan album pertama, mereka cenderung menggeber konsep death metal dengan lirik gore plus tempo yang kencang.

Terapan baru itu sudah dimulai sejak Devoured merilis single pembuka, “Sabda 13: Gemuruh Air Puluhan Ribu Dosa” pada Januari 2016 lalu. Proses kreatifnya dimulai dari sang bassis, Mal Mulyadi (yang juga dikenal sebagai jebolan band Cranial Incisored. Ia membuat skema musik metal usang, lalu digabungkan dengan insiprasi lirik Nyoman yang bercerita tentang sebuah kerajaan besar masa lampau bernama Majapahit.

.

.

“Tema single itu sendiri bercerita tentang sosok penasehat Raja, yang dalam tuturnya bahwa suatu saat kelak, Nusantara ini akan dihantam air bah, menenggelamkan pulau-pulau dan banyak korban berjatuhan. Dimana jaman itu juga terjadi musibah besar, penyakit tersebar membuat banyak manusia mati.”

Proses penulisan album “The Curse of Sabda Palon” sendiri juga dimulai pada periode 2016 hingga 2020. Cukup komplit karena penulisan juga diwujudkan dalam bentuk buku. Yang menguras waktu cukup lama, menurut Nyoman, adalah riset dari tema yang tak hanya diambil dari sejumlah buku, namun juga dari narasumber yang berkompeten.

Kembali ke urusan musik. Karya album yang direkam Nyoman, Mal, Safiq Rosad (gitar), Ardian (gitar) dan Rahadian Aldy (dram) di Sadist Records, Yogyakarta tersebut beramunisikan sembilan lagu bercorak kelam, sebuah komposisi instrumental, serta satu lagu cover bertajuk “Dreaming in Red”. Lagu tersebut milik legenda death metal Dismember, yang dihadirkan Devoured sebagai penghormatan. Dismember memang merupakan salah satu referensi utama Devoured di album keduanya ini, disamping band death metal legendaris dari Swedia lainnya, Entombed.

Di skena musik cadas Tanah Air, Devoured adalah nama yang telah merangsek sejak 1998 silam. Tadinya, band ini merupakan band sampingan dari personel band lain di Yogyakarta. Roy Agus (Death Vomit) pernah memperkuat Devoured pada periode 2008-2010. Lalu juga ada Topaz (Drosophila) pada masa 1998-2008. Terakhir Mal Mulyadi, yang akhirnya terlibat penuh di formasi Devoured sejak 2004 silam hingga hari ini. 

Versi digital album “The Curse of Sabda Palon” mulai bisa diakses via berbagai platform pada Selasa, 30 Maret 2021 mendatang. Kemudian akan disusul dalam format cakram padat pada 30 April 2021 di seluruh jaringan distribusi Indogrind Store. Sementara untuk peredaran internasional, Devoured akan bekerja sama dengan Vrykoblast Production dari Singapura. Rencananya, versi fisik album yang akan dirilis via Sadist Records tersebut akan dikemas bersama sebuah buku dalam jumlah sangat terbatas. Buku itu berisi narasi lirik yang dilengkapi artwork pendukung di setiap lagu, karya Timbul Cahyono dari Bvll Art, Amerika. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.