Unit Hardcore RIGHTING WRONG Visualisasikan “Tragedi Fantasi”

Di saat cuaca tak menentu, di tengah pandemi, dan juga pasca ditinggalkan salah satu personelnya, Righting Wrong harus kembali memutar otak untuk terus bergerak. Salah satu yang berhasil tereksekusi adalah ide untuk proses pembuatan video klip lagu “Tragedi Fantasi” yang sempat tertunda untuk beberapa waktu. 

Berbeda dibanding pengerjaan video klip mereka sebelumnya yang berjudul “Born to Be Free”, dimana proses pengambilan gambar lebih banyak menghabiskan adegan di luar ruangan, kali ini dibuat lebih minimalis, tanpa mengurangi makna yang ingin disampaikan. Proses pengambilan gambar lebih banyak dihabiskan di dalam ruangan, berlokasi di markas Ruang Tengah, Pekalongan. Righting Wrong sendiri mempercayakan kursi sutradara kepada Bagus Edan Maulana untuk menginterpretasikan single yang diambil dari album “Utopis” tersebut.

Menurut para personel unit hardcore asal Kota Batik, Pekalongan ini; Rezha D. Saputra (vokal), Saddam Baridwan (gitar), Mas Agus Kemal Reza (dram) dan Muhammad Sahrul (bass), tidak alasan khusus mengapa “Tragedi Fantasi” yang diputuskan untuk dibuatkan video klip.

.

.

“Kebetulan (kawan) karib kami, Bagus Edan yang juga saudara dari Rezha, menawarkan untuk membuat video klip, dan dia memilih lagu ‘Tragedi Fantasi’. Kami setuju, akhirnya dibikinlah video itu,” ujar pihak band, kepada MUSIKERAS beralasan.

Album “Utopis” sendiri dirilis pada Maret 2020 lalu via label Samstrong Records. Proses rekamannya berlangsung di tahun sebelumnya, antara lain dieksekusi di studio 4WD Semarang. Keseluruhan dilakukan secara bertahap. Misalnya, jika musik direkam bulan ini, lalu dilakukan beberapa revisi serta tambahan-tambahan bagian lagu, lalu vokal direkam terakhir pada bulan berikutnya. “Kurang lebih dua bulan proses perekaman, karena kami merekamnya di beda kota, jadi menunggu jadwal studio dan jadwal kami sendiri.”

Dari segi musikal, Righting Wrong menyebut konsep musiknya banyak terpengaruh band-band cadas semacam Terror, Power Trip, Get the Shot, Entombed dan Jambinai. “Soal deskripsi musik kami sebebas orang yang mendengarkan saja!”

Sebelum merilis “Utopis”, Righting Wrong telah melahirkan album debut bertajuk “Muda Berbahaya” (2014), juga via Samstrong Records. Selain itu, karya band yang terbentuk pada 2006 ini sempat pula meramaikan “Sambung Balung”, sebuah album kompilasi yang diinisiasi oleh rekan-rekan mereka dari Batik City Hardcore (BCHC) yang berkolaborasi dengan Wound Skate Cloth. (aug/MK02)

Kredit foto: Dhika Febrian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!