Atas nama kebebasan berkarya seni, duo alternative/post-punk asal Jakarta ini pun akhirnya melampiaskan unek-unek musikalnya lewat sebuah rilisan album mini (EP) bertajuk “Parade Parade” pada awal April 2021 lalu. Ada lima lagu yang gelindingkan, yakni “Anjing & Babi”, “Kucing Kampung”, “Ruang Imajinasi (The Intro of Dinadi)”, “Dinadi” dan “Anjing & Babi (Acoustic Demo)”.
Sebelumnya, kegamangan sempat dirasakan Adikara Banu (vokal) dan Topaz Aditia (gitar), dua otak utama Penny Tomlin Circus Wagon. Ide awalnya adalah merilis sebuah album penuh, dimana keduanya telah menjalani proses penggarapannya sejak Agustus 2019 lalu. Beberapa bulan setelah resmi terbentuk. Lalu, banyak pihak yang menyarankan agar mereka cukup merilis karya rekaman single saja, yang lebih dianggap sebagai strategi yang ampuh dan efisien dalam mencapai target streaming di platform digital. Karena ada alasan kuat di balik itu, yakni ketakutan mengalami kerugian serta kekhawatiran tidak tersimak oleh audiens.
“Kami nyaris menempuh langkah itu,” seru pihak Penny Tomlin Circus Wagon kepada MUSIKERAS, terus-terang.
“Tapi lama-lama, ini justru menjadi penghambat para musisi dalam bekerja dan berkarya. Menahan-nahan rilisan demi berusaha stay relevant dengan keadaan akhirnya menjadi batu sandungan dalam berkarya seni yang seharusnya berlandaskan kebebasan berekspresi. Lewat berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk merilis EP ini.”
.
.
Proses kreatif “Parade Parade” diawali kerangka-kerangka lagu yang dibuat Adikara Banu dan Topaz Aditia dalam format sangat sederhana, hanya melibatkan gitar akustik dan vokal, seperti yang bisa didengar di track versi demo akustik lagu “Anjing & Babi”. Setelah semua lagu yang ingin direkam terkonsep, keduanya masuk studio pada Oktober 2019 dan merampungkan semua proses rekaman pada November 2019.
Seluruh proses rekaman, pemolesan mixing serta mastering “Parade Parade” dieksekusi di Grim Studio, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka dibantu oleh dramer Merrick Dias dan bassis Audi Adhikara untuk pengisian instrumen. Di lagu “Kucing Kampung”, Penny Tomlin Circus Wagon juga berkolaborasi dengan band punk Jakarta, Tiga Babi.
Ide judul “Parade Parade” sendiri muncul setelah mereka menyimak album “Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band” dan “Magical Mystery Tour” dari The Beatles. Di kedua album tersebut, musik The Beatles sarat warna, bagai parade marching band.
“’Parade’ yang pertama kami representasikan untuk album ‘Sgt. Pepper’s’, dan ‘Parade’ yang kedua untuk ‘Magical Mystery’. Pada dasarnya, konsep musik yang kami mainkan bagaikan parade sirkus dengan segala kemeriahannya. Representasi dari statement tersebut akan terjawab dari rilisan-rilisan kami berikutnya setelah ini. Nama ‘Penny’ dalam Penny Tomlin Circus Wagon sendiri juga kami ambil dari lagu ‘Penny Lane’ milik The Beatles.”
‘Sirkus musik’ yang menjadi benang merah dari konsep musikal Penny Tomlin Circus Wagon diibaratkan satu panggung dengan berbagai suguhan hiburan. Mereka tidak membatasi genre apa pun, dengan referensi musik yang juga sangat beragam.
“Walaupun jika harus mendefinisikan apa genre kami, alternative/post punk sepertinya menjadi jawaban paling tepat karena lagu-lagu kami banyak menyentuh ranah tersebut. Lagu-lagu yang kami buat dan rekam pun berangkat dari konsep itu. Khusus untuk lagu-lagu di EP ‘Parade Parade’, beberapa nama yang menjadi referensi kami adalah Stone Temple Pilots, Rancid, sampai gitaris delta blues Son House dan Blind Boy Fuller,” urai mereka lagi, meyakinkan.
Di lagu “Dinadi”, Penny Tomlin Circus Wagon menyebutnya sebagai karya yang paling menantang dan memuaskan, karena proses rekamannya menerapkan one take guitar recording. “Di samping itu, karena hanya ada gitar dan vokal di lagu ini, satu kesalahan kecil saja pasti akan terdengar dengan sangat jelas. Pengerjaan lagu ini butuh fokus dan konsentrasi lebih ketimbang lagu-lagu yang lain yang berformat band penuh.”
Kelima amunisi lagu di “Parade Parade” bisa didengarkan melalui platform digital Spotify serta YouTube. (mdy/MK01)