Distorsi Kasar THE HUMAN RAS Menghajar Ketidakadilan

Dibalut dengan distorsi gitar yang kasar, unit alternative rock asal Cianjur, Jawa Barat ini melantangkan protes keras tentang keadilan yang belum dilakukan seadil-adilnya lewat karya single debut bertajuk “Topeng”. Bagi The Human RAS, lagu ini adalah sebuah ungkapan kegelisahan dan amarah dalam menyuarakan aspirasi untuk melawan ketidakadilan.

Dengan panjang lebar, band yang terbentuk pada 28 Oktober 2019 lalu tersebut memaparkan visi lagunya kepada MUSIKERAS. Mereka menuangkan keresahannya di lirik lagu “Topeng” lewat penggambaran yang sarkas, dengan terapan bahasa seuniversal mungkin.

“Menurut kami, musik adalah puisi udara. Kami meluapkan gagasan, kritikan, kata-kata melalui puisi udara. ‘Topeng’ ini menceritakan kemarahan seseorang, atau kelompok yang muak atas keadilan yang tidak digunakan dengan baik dan benar atau seadil-adilnya. Maka timbullah lagu ‘Topeng’ yang bermaksud untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, atau kelompok tertentu yang merasa dirugikan dengan keadaan itu.” 

Lebih jauh, band yang diperkuat formasi Muhammad Guntur Sanggi Praja (vokal), Muslim Baihaqi Ahmad (gitar), Angga Restu (gitar), Surya Saputra (bass) dan Uga Hilmawan (dram) ini juga melontarkan beberapa contoh sejarah yang menegaskan keresahan mereka.

.

.

“Seperti kasus Marsinah, Munir, dan lain sebagainya, atau contohnya seperti penggusuran lahan dengan cara tak humanis yang memberatkan salah satu pihak. Mudah-mudahan dengan adanya lagu ini (bisa) mengingatkan para petinggi jas berdasi agar kebenaran tidak selalu dibungkam.” 

Setahun sejak terbentuk, “Topeng” menjadi pembuktian keseriusan The Human RAS dalam bermusik. Mereka menggarap dan merekam lagu tersebut di Kerauz Record, Cianjur, dalam kurun waktu lima bulan, di antara kesibukan para personelnya di luar kegiatan musik.

“Tapi semangat kami tak goyah. Kami tetap serius dan menyelesaikan proses pembuatan lagu ini dan akhirnya terbentuklah sebuah karya yang bisa dibilang anak pertama kami,” urai pihak band lagi semangat.

Oh ya, mengenai cakupan konsep musikalnya, alternative rock yang mereka bangun di “Topeng” merupakan hasil leburan latar belakang musikal yang berbeda-beda dari para personel The Human RAS. Antara lain menyuntikkan elemen grunge, blues dan rock, hasil serapan dari band-band dunia seperti Pearl Jam, Stone Temple Pilots, Alice in Chains, Nirvana, Soundgarden, Silverchair, The Doors hingga Black Sabbath.

Setelah “Topeng” yang kini bisa dikonsumsi via berbagai platform digital seperti Spotify, Joox, iTunes dan Apple Music, The Human RAS kini sudah memasuki tahapan penggarapan beberapa lagu yang rencananya dikemas ke dalam sebuah album penuh. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *