ATAVISTI Lampiaskan “Nyana”, dengan Warna Putus Asa yang Kejam

Walau sempat merilis single debut bertajuk “Nona di Ujung Sana”, namun kelompok rock eksperimental bernuansa teatrikal asal Yogyakarta ini merasa perlu menegaskan bahwa pada awalnya mereka lahir dari sebuah pementasan teatrikal berjudul “Gugat Dewi” pada Mei 2018 lalu, dimana Atavisti berkolaborasi dengan Teater Selasar, unit teater mahasiswa di Yogyakarta.

Di momen itu, kedua pihak sepakat merumuskan format baru dalam penyajian pementasan teatrikal, dimana mereka menyuguhkan lagu-lagu yang tak hanya sekadar sebagai pengiring pementasan, melainkan sekaligus menjadi bagian penjelas suatu plot cerita, serta bagaimana caranya agar lagu tersebut bisa memberi gambaran kepada audiens mengenai konteks cerita pementasan melalui media lagu atau audio.

Maka terciptalah “Nyana”, single terbaru Atavisti, yang juga merupakan salah satu dari empat lagu yang digarap untuk pementasan “Gugat Dewi” waktu itu. Nah ketika akhirnya Atavisti memutuskan untuk ‘go public’ pada Januari 2020, mereka pun memutuskan untuk memproduksi Nyana secara professional pada September 2020.

.

.

Para personel Atavisti, yakni Muhammad Annail Syahru a.k.a. Neil (vokal), Mohammad Ali Azca Atmaditia (gitar), Ghazi Dewa Biru Samudra Perkasa (gitar), Garrin Faturrahman (bass) dan Alvin Wilbert (dram) menggarap “Nyana” dalam waktu sekitar tiga minggu. Eksekusi rekaman dilakukan di beberapa tempat terpisah di Yogyakarta, yakni di Squareheadlabs untuk isian vokal dan gitar, di Bengawan Jaya untuk gitar dan dram, di Gadjah Mada Chamber Orchestra untuk vokal latar dan bass di kamar sang bassis, Garrin Faturrahman. Pada Maret 2021, proses rekaman dinyatakan rampung, di luar proses mixing dan mastering.

“Bisa dibilang cukup lama karena kami memiliki kendala dalam proses produksi, karena dua dari lima personel kami sekarang berdomisili di Jakarta akibat pandemi dan membutuhkan waktu diskusi via daring yang lebih rumit.

Untuk tempat rekaman terpisah-pisah dan memakai metode home recording,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Bagaimana Avisti menggambarkan konsep musikal dari single “Nyana” tersebut?

“Menurut kami, ‘Nyana’ merupakan upaya untuk mengekspresikan rasa putus asa yang dapat dirasa jika sesorang terjebak pada fase yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi sekitarnya. Dengan penyusunan lagu yang mengedepankan warna-warna kejam, penulisan lirik yang berpijak pada musiknya, intens nan melodis, serta dikemas dengan bebunyian distorsi gitar yang bergemuruh diiringi tabuhan dram yang dominan, ‘Nyana’ seakan memaksa pendengarnya untuk merogoh isi hati terdalamnya,” papar mereka menjelaskan.

Sementara untuk referensi musiknya, Avisti mengakui lumayan kerap terjadi ‘bentrokan’ di antara para personelnya. “Nyana” adalah lagu pertama yang berhasil tercipta dari olah rasa, diskusi dan ‘pertikaian’, serta gabungan pemikiran anggota Avisti pada awal mereka terbentuk. Tetapi dapat dirasakan, cukup kuat arus pengaruhnya dari album “Balada Joni dan Susi” karya Melancholic Bitch, lalu beberapa lagu dari band Pandai Besi/Efek Rumah Kaca – terutama dari album “Sinestesia” dan “Kamar Gelap”, serta beberapa lagu dari album “Taifun” milik Barasuara.

“Kami adalah band yang mengusung rasa eksperimental-teatrikal, yang kelahirannya muncul dari keresahan bersama untuk melagukan emosi dan opini publik yang pada kehidupan nyata selalu menjadi wujud pengingkaran tiap manusia karena mungkin merasa takut menyuarakan perasaannya, karena takut dikira berbeda, dan kami hadir untuk menyuarakannya. Tiap proses pengaryaan kami memiliki keunikan tersendiri karena mengambil sudut pandang yang belum banyak diambil oleh karya lainnya.”

Perilisan “Nyana” sendiri merupakan lagu pertama dari empat lagu yang terlahir dari pementasan “Gugat Dewi”, memiliki kesinambungan dengan lagu lainnya. Dalam waktu dekat, Avisti bakal merilis kolase lagu kedua, hingga pada tahap akhirnya merilis album mini (EP) yang juga diberi judul “Gugat Dewi”. Mereka berharap, EP tersebut bisa dirampungkan tahun ini juga.

Untuk merasakan perasaan jatuh ke dalam jurang keputusasaan oleh Atavisti, silahkan mengakses “Nyana” via berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer, dan sejenisnya. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.