Pada akhir 2019 lalu, pejuang distorsi mengerikan asal Surabaya ini telah mengawali era barunya, yang secara konsep musik dan produksi terdengar lebih matang. Tepatnya lewat rilisan album keroyokan (split) bertajuk “Heinous Interstellar Malformations” bersama band Virulent Excision (AS), Facelift Deformation (Hong Kong/Taiwan) dan Gravitational Distortion (Kanada).
Momentum tersebut kini diteruskan lewat karya terbaru, berupa album penuh kedua bertitel “Heading To Eternal” yang sarat eksplorasi kekinian nan berbahaya. Tetap di ladang death metal, namun band bentukan 2013 silam ini memberi sentuhan sound yang bisa dibilang modern dan konseptual. Tujuannya, agar album tersebut menghasilkan kegilaan semburan sound yang secara total menghadirkan nuansa brutal death metal yang eargasm.
Sebelumnya, sejak awal Juni 2021 lalu, single pembuka berjudul “The Diabolical Savagery” sudah dimuntahkan Gerogot lewat berbagai kanal digital. Sebuah komposisi yang benar-benar menampilkan kebengisan gempuran riff cadas yang brutal dengan sedikit sentuhan groove yang berhasil dikemas secara kompleks.
Lebih jauh, lalu apa yang membedakan Gerogot dibanding band-band ber-genre sejenis lainnya?
“Simpel, agresif dan tepat sasaran,” cetus gitaris Aditya Prakoso menegaskan kepada MUSIKERAS.
Bahkan secara konseptual, jika dibandingkan dengan konsep musik album penuh pertama mereka, “Cruelty Vomit Of Hatred” (2016), Gerogot berani meyakinkan bahwa kini cukup banyak yang berubah. Termasuk pola riffing gitar, ketukan dram dan juga tentunya pola dan karakter vokal.
.
.
“Dan terlihat juga dengan output sound yang pastinya berbeda. Sangat beda sih karena di album ini kami menggarap semuanya secara pribadi dengan tim Gerogot tanpa melibatkan orang lain untuk sesi rekaman maupun mixing dan mastering.”
Disamping itu, band yang diperkuat formasi Aditya Prakoso, vokalis Krisna Saptian dan bassis Aminullah Ibrahim ini juga menegaskan tak ada referensi spesifik yang menjadi acuan dalam penggarapan “Heading To Eternal”. Semuanya dibiarkan mengalir. “Menurut kami (kalau) enak ya jadiin. Kalau dibilang apa pembedanya dari band lain ya biar teman-teman nilai sendiri aja,” seru mereka meyakinkan.
Sembilan amunisi lagu yang menggelegak di album “Heading To Eternal” sebenarnya sudah rampung sejak 2019 lalu, namun baru bisa terealisasikan eksekusi rekamannya pada pertengahan 2020. Sementara untuk tahapan mixing dan mastering akhirnya berhasil dirampungkan pada awal 2021. Salah satu kendala yang menghadang percepatan prosesnya adalah kesibukan para personel Gerogot yang sudah bekerja dan berkeluarga.
Seluruh penggarapan rekaman “Heading To Eternal” dilakukan di studio BSA Production, termasuk proses pemolesan mixing dan mastering. Urusan teknis dipercayakan sepenuhnya kepada Indra Cahya, yang juga merupakan sound engineer Gerogot saat tampil di panggung. “Jadi bisa dibilang tak ada kendala (teknis) karena bisa dibilang Beliau juga sudah paham banget apa yang kami mau.”
“Heading To Eternal” kini sudah tersedia di kanal Bandcamp resmi label Brutal Mind. Selanjutnya, album ini juga bakal diedarkan dalam format cakram padat (CD) serta piringan hitam (vinyl). (mdy/MK01)