Kampanye tentang efek psikis jika kebablasan menggunakan narkoba yang dikoarkan unit brutal death metal asal Malang, Jawa Timur ini, sejak 2018 lalu terus berlanjut. Pada Maret 2020 lalu, Vospison sudah memanaskannya lewat dua komposisi brutal bertajuk “Morpheus” dan “Psylocybin Hypochondriasis”, yang terkemas dalam paket rekaman bertajuk “Demosick 2020”, rilisan Dismembered Records.
Kini, sebuah album debut telah diletuskan, bertajuk ”Diethlamide” yang beramunisikan sembilan lagu berdaya ledak tinggi. Judul album diambil dari potongan kata “Lysergic Acid Diethylamide” yang merupakan salah satu trek di album. Selain itu, “Lysergic Acid Diethylamide” juga merupakan salah satu jenis narkoba.
“Ya, di album kali ini kami mengusung tema narkoba. Tujuan kami sebenarnya adalah mematahkan stigma negatif masyarakat pada umumnya yang selalu menganggap musisi identik dengan narkoba, baik musisi mayor maupun minor seperti kami,” ujar pihak Vospison lewat siaran pers resminya.
Keunikan lain dari ”Diethlamide” adalah banyaknya penggunaan bahasa psikologi dalam tuturan lirik lagu-lagunya. Karena kebetulan, bassis Vospison, Fikri Firman adalah seorang mahasiswa jurusan Psikologi, sehingga mereka pun memanfaatkan keahlian itu.
Proses penggarapan album ”Diethlamide” dilakukan Vospison – yang juga dihuni Faisal Sukma (gitar/vokal) dan Oni Arim (dram) – di beberapa tempat. Asylum Soundlab dipilih untuk perekaman isian gitar, bass dan vokal. Sementara khusus dram dieksekusi di Monev Studio. Lalu untuk tahapan mixing dan mastering, Vospison mengolahnya di Insidious Soundlab.
.
.
Keseluruhan proses kreatif sebenarnya sudah mulai dijalani band bentukan Desember 2016 ini sejak dirilisnya karya rekaman “Promo 2018” oleh Fatalism Musickness. Sejak itu, mereka mulai menggarap materi album sampai benar-benar ditemukan komposisi dan aransemen yang menurut mereka paling kena di hati. Setelah itu, Vospison pun mulai menggodok materi “Demosick 2020”. Dua lagu yang termuat di situ, yakni “Morpheus” dan “Psylocybin Hypochondriasis” lantas kembali dihadirkan di ”Diethlamide”. “Tentunya dengan versi yang berbeda,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, memastikan.
Sayangnya, datangnya serangan pandemi sempat membuat proses perampungan ”Diethlamide” tertunda. Jadi tantangan terbesar mereka justru bukan datang dari sisi musikal, tapi lebih ke urusan teknis.
“(Karena) Terdampak pandemi, mengharuskan Fikri pulang dan kembali ke Malang setelah lima bulan berikutnya. Yang artinya, proses rekaman juga harus kami tunda. Pun dengan tragedi terhapusnya data rekaman dram Oni, merupakan kendala teknis yang cukup mengganggu dan menjadi kenangan buat kami,” lanjut Vospison lebih jauh.
Musikalitas, konsep ”Diethlamide” disebut Vospison berbeda dibanding karya-karya promo mereka sebelumnya. “Karena di album ini kami mengambil referensi riff dan musik dari (band) Disgorge (AS) dan Abominable Putridity (Rusia), dipadukan dengan sound yang raw khas Putridity (Italia).”
Untuk mendapatkan rilisan fisik album ”Diethlamide”, info detailnya bisa dilihat di akun Instagram Vospison dan Dismembered Records. (aug/MK02)