Beramai-ramai Rayakan Kekompakan GOD BLESS. Seru!

Konser virtual bertajuk “48 Tahun godbless – Mulai Hari Ini” yang dihelat di ICE BSD City, Tangerang Selatan semalam (31/8) adalah perayaan sebuah perjalanan yang tidak pendek dari sebuah band rock legendaris paling awet di Tanah Air. Saking awetnya, God Bless sampai diganjar sebuah penghargaan langsung dari Presiden RI, Ir. H Joko Widodo atau Jokowi. 

Penghargaan itu, sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian God Bless dari masa ke masa selama kurang lebih 48 tahun. Band yang kini dihuni formasi Achmad ‘Iyek’ Albar, Ian Antono, Donny Fattah, Abadi Soesman dan Fajar Satritama tersebut dinilai telah menginspirasi musisi dari berbagai generasi.

“Ini merupakan suatu kejadian yang langka, karena dari dulu belum ada grup rock yang dapat penghargaan seperti ini. Kami sangat bahagia dan bersyukur ini bisa terjadi, untuk masa depan musik Indonesia tentunya. Saya rasa ini bukan hanya untuk God Bless, tapi untuk seluruh keluarga besar God Bless, para penggemar, dan juga komunitas God Bless. Tanpa mereka kami bukan apa-apa. Mudah-mudahan (penghargaan ini) membawa berkah terhadap musik Indonesia,” papar Iyek dari atas panggung, yang langsung disambut aplaus meriah dari para undangan khusus yang menyaksikan konser virtual tersebut.

Bagi para personel God Bless, toleransi selalu menjadi prioritas dalam membangun kekompakan, sehingga mereka bisa terus bertahan hingga hari ini. Sejak terbentuk pada 1973 silam, God Bless didera bongkar pasang formasi sebanyak lebih dari 15 kali.

“Kami bukan sekadar band aja, kekeluargaannya kuat, tahan banting dan harus sabar, toleransi antara personel. Siapa pun personelnya, berlima selalu (dihitung) jadi satu,” seru mereka menegaskan.

Sebagai sebuah syukuran, kemasan “48 Tahun godbless – Mulai Hari Ini” pun dirancang tidak hanya menjadi milik God Bless semata. Malam itu, sejumlah musisi bintang tamu menjadi bagian dari sebuah keluarga besar, dan sekaligus menjadi bagian tak kalah menarik dari keseluruhan suguhan konsep konser tersebut. Bukan sekadar tempelan atau sebagai ‘partai tambahan’.

Karena God Bless sendiri pun, sebenarnya hanya tampil membawakan lima lagu, yakni  “Kehidupan” (berduet dengan Roy Jeconiah), “Cermin” (menghadirkan Isyana Sarasvati di vokal latar), “Semut Hitam”, “Mulai Hari Ini” dan “Rumah Kita” yang dinyanyikan beramai-ramai bersama para artis pendukung. Lalu di tengah-tengah sempat diselingi permainan dram secara solo dari Fajar Satritama, serta duet vokal Tantri (Kotak) dan Kikan (eks Cokelat) menyanyikan potongan lirik lagu “Huma di Atas Bukit”, “Damai yang Hilang”, “Menanti Kejujuran”, “Menjilat Matahari” dan “Musisi” secara medley.

Tensi tinggi langsung digeber di pembukaan konser gelaran promoter Rockinlilo tersebut. Dimulai dari alunan vokal Romulo ‘Lilo’ Radjadin, personel band KLa Project yang sekaligus menjabat sebagai bos Rockinlilo, menyanyikan lagu “Menjilat Matahari”. Seketika, panggung pun bergemuruh dengan dukungan vokal cadas dari Roy Jeconiah serta iringan band yang diperkuat lengkingan gitar otentik dari Eet Sjahranie, serta bassis Ivanka (Slank), dramer Sandy Andarusman (PAS) dan Krisna Prameswara (Discus/Naif). Eet sendiri adalah gitaris God Bless yang menggantikan Ian Antono, saat penggarapan album “Raksasa” (1989) yang memuat lagu “Menjilat Matahari”.

‘Kekerasan’ terus berlanjut. Kali ini menampilkan Andy /rif di vokal yang menggasak “Bis Kota”, lagu solo Achmad Albar yang kerap dibawakan God Bless saat di panggung. Kali ini formasi band dipekakkan oleh trio gitaris Stevi Item dan Karis (Deadsquad) serta Cella (Kotak).

Segmen berikutnya bisa dibilang yang paling menarik. Kolaborasi vokalis Fadly (Padi) dengan kibordis Adi Adrian (KLa Project) membawakan “Panggung Sandiwara” – juga lagu solo Achmad Albar – memberikan sentuhan yang berbeda. Terasa aura magis bernuansa psychedelic/new wave dari eksplorasi Adi di perangkat analog synthesizer.

Lalu musisi muda, Teza Sumendra juga menghadirkan performa yang mengejutkan, dimana ia meremajakan lagu usang dari album debut God Bless rilisan 1975, yang bertajuk “Gadis Binal”. Ia menghembuskan racikan bernuansa elektronik, dance dan funk yang menyegarkan di lagu tersebut.

“Lagu itu nggak pernah dibawain God Bless di panggung. Gue pilih karena judul lagunya catchy. Secara genre gue suka karena rada funk. Persiapannya hanya tiga hari. Gue berharap setelah konser ini orang-orang akan mencari tahu lagu itu, seperti yang biasa gue lakuin sendiri,” urai Teza saat persiapan konser.

“Gadis Binal” sendiri, menurut Ian Antono, ia ciptakan saat baru saja bergabung di formasi God Bless. “Ini lagu yang paling aneh. Katakternya berbeda dibanding lagu God Bless lainnya. Lirik yang bikin Iyek.” 

Suguhan istimewa lainnya datang dari Isyana Sarasvati yang memilih mendaur ulang lagu “Badut-badut Jakarta”, dari album “Semut Hitam” (1988). Di tangan Isyana, lagu tersebut menjadi lebih keras dan ‘gelap’. Apalagi ditambah dengan selipan potongan lagu milik Isyana sendiri, “Il Sogno” yang kental akan corak simfonik.

Usai Isyana, tampil Danilla Riyadi yang melantunkan “Anak Kehidupan”, dari album “Raksasa”, dengan konteks rock kalem berhawa ‘70an yang apik, yang sangat jauh berbeda dibanding versi aslinya. Selanjutnya masih ada duet vokal Dul Jaelani dan Tissa Biani menyanyikan “Sudahlah Aku Pergi” – lagi-lagi materi solo Achmad Albar – yang kemudian dilanjutkan grup Fourtwnty yang menebar nuansa santai lewat genjrengan semi akustik di “Saksi Gitar Tua”. Lagu tersebut terdapat di album milik Gong 2000, proyek band sampingan yang juga diperkuat Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah serta mantan dramer God Bless era album “36th” (2009), Yaya Moektio.

Usai sesi ‘cooling down’ tadi, panggung kembali ‘dibakar’ oleh geberan distorsi berat dari rombongan Deadsquad bersama vokalis barunya, Agustinus Widi yang melakukan ‘jual-beli’ vokal dengan Krisyanto, vokalis Jamrud. Mereka mendaur ulang lagu God Bless yang bertitel “Srigala Jalanan”, dari album “Apa Kabar?” (1997). Sebagai materi penutup sebelum menyambut aksi God Bless, tampil kolaborasi berkonteks akustik dari gitaris Ebenz dan Agung (Burgerkill), pemain biola Ava Victoria dan Mia Ismi Halida (Kamila) serta Lilo menyanyikan lagu “Syair Kehidupan”, yang juga merupakan lagu solo Achmad Albar.

Sebagai sebuah suguhan seni panggung, konser “48 Tahun godbless – Mulai Hari Ini” bisa dibilang lumayan jempolan. Megah dengan penataan cahaya yang terukur, serta penampilan para musisi yang mengundang decak kagum. Namun mengingat perhelatan ini ditayangkan secara virtual, tentu ada masalah teknis yang lumayan pelik di luar gelimang panggung. 

Dari pantauan di kolom obrolan (chat), sebagian penonton yang menyaksikan dari ponsel maupun dari laptop meributkan kendala kualitas suara yang tidak stabil. Entah, sumber masalah datang dari ketidaksempurnaan di eksekusi teknis penyiaran atau pendistribusian (broadcasting) atau kualitas koneksi internet pengguna yang memiliki daya pancar berbeda-beda. Ini tentunya akan selalu menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting bagi para penyelenggara acara, khususnya yang berbayar, mengingat konser virtual masih akan menjadi salah satu alternatif penting di masa pandemi. (mudya mustamin)

Kredit foto: Adi Wirantoko @warprocks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *