Akhirnya, Pekik Vokalis Baru NOXA Bergemuruh di Single “Greed”

Hampir dua tahun berselang sejak mengukuhkan vokalis barunya, akhirnya untuk pertama kalinya Noxa memperdengarkan suara Diegoshefa dalam sebuah karya rekaman baru. Tepatnya pada 30 September 2021 lalu, Noxa yang digerakkan formasi Alvin Eka Putra (dram), Ade Himernio Adnis (gitar), Nyoman Dipa Biomantara (bass) dan Diegoshefa menderukan single “Greed” via label independen Blackandje Records.

Tapi lagu berdarah grindcore yang bertempo gesit tersebut sebenarnya bukan materi yang baru dibuat Noxa bersama Diego. Melainkan sudah mulai dipanaskan sejak 2018 lalu, bersama vokalis sebelumnya, yakni mendiang Tony Christian Pangemanan a.k.a. Atenk. Namun saat itu, Atenk sedang berada dalam kondisi kesehatan yang tidak prima, sehingga pengisian vokal tidak sempat dilakukan sampai ia mengundurkan diri, lalu meninggal dunia pada 13 November 2020 lalu. 

Akhirnya, proses penggarapan rekaman cikal bakal lagu “Greed” harus tertunda, dalam kondisi tanpa judul. “Pada waktu itu memang isian vokal rencananya diisi oleh Atenk, (tapi) berhubung Almarhum sakit parah dan tidak bisa isi vokal secara maksimal, akhirnya lagu itu sempat diisi vokal sama Nyoman Dipa sampai akhirnya Atenk resign dari Noxa, dan hasilnya juga masih kurang maksimal hingga akhirnya dapat vokalis baru,” beber Ade Himernio kepada MUSIKERAS, mengenang proses awal penggodokan “Greed”.

.

.

Bersama Diegoshefa, penulisan lirik dan eksekusi isian vokal “Greed” lantas dipercayakan kepadanya. Tema liriknya bertemakan kritik sosial, dan dibuat relevan dengan kejadian yang sedang dihadapi sebagian besar manusia saat ini, yakni musibah pandemi yang meresahkan, yang lantas membuahkan kekhawatiran baru bernama korupsi. Dari kejadian ini, Noxa menyuarakan konflik antara ‘kebijakan’ dan ‘kewajiban’ pemerintah kepada rakyat, dan ‘hak’ rakyat yang terus dikebiri di masa-masa yang berat belakangan ini.

Lebih jauh, Ade mengungkapkan bahwa proses rekaman “Greed” bersama Diegoshefa berlangsung lancar dan sama sekali tak ada kendala secara teknis. Juga tak ada perlakuan khusus untuk Diego untuk penyesuaian style Noxa dengan karakter Diego. “Jadi dia sendiri yang cari nada sama bikin lirik terus langsung rekaman,” seru Ade menegaskan.

Proses mixing single “Greed” sendiri dipoles oleh Erikson Rudy di Cubicle Studio, Jakarta, sementara untuk mastering diserahkan kepada Brad Boatright dari Audiosiege, Portland Oregon, AS.

Lalu, sambil mempromosikan “Greed”, Noxa merencanakan bakal merilis single lagi serta menyiapkan album berbagi (split) bersama Kandarivas (Jepang) dan Inlander (Jakarta). Paralel dengan rencana itu, Noxa juga bakal segera mengarahkan konsentrasi ke penggarapan album baru. “Kami lagi buat materi-materi baru sambil nyari dan nyoba pattern dan style yang baru untuk Diego.”

Sejak terbentuk pada Maret 2002 silam, Noxa telah merilis lima album studio, yakni “self-titled” (2002), “Grind Viruses” (2006), “Legacy” (2010), “Buka Mata” (2016) dan “Propaganda” (2018). (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *